
Aku sudah berhenti bekerja di kantor Pak Amin. Aku akhirnya sepakat bersama Ara membangun usaha sendiri.
Aku merasa lega karena akhirnya aku bisa tenang bekerja. Karena sampai aku keluar dari perusahaan, sikap Pak Amin tetap dingin.
Aku menyiapkan usahaku. Aku tetap koordinasi dengan Ara untuk usaha baru yang kami bangun ini. Karena Ara ikut menanam modal untuk usaha baruku ini. Dan pembagian hasilnya sudah kami sepakati persentasenya. Kami berdua berusaha profesional untuk kerjasama yang kami lakukan ini.
Siang ini aku menelpon Ara, karena kemarin aku gak sempat menghubunginya.
Ara langsung menerima telponku.
"Ara... Apa kabar sayangku... Sehat kan?" Tanyaku.
"Iyaa Pram sehat. Hmmm, Kamu gimana, sehat juga kan?" Tanya Ara.
"Yaa...Aku sehat Ar. Cuma agak lelah aja. Karena aku lagi mempersiapkan usaha ini dari awal."
"Jangan terlalu capek yaa . Jaga kesehatanmu juga."
" Iyaa siap..." Kataku sambil tertawa
"Ar, aku nelponnya gak lama yaa... Aku ada urusan. Besok aku telpon lagi yaa..."
"Hmmm gitu. belum 5 menit. " Kata Ara.
" Iyaa... ini aku harus cari alat untuk mulai proses kerjaannya. Iya Ar yaa..."
"Iyaa dah. Tapi kamu janji jaga kesehatan yaa..." Kata Ara.
"Iyaa sayangku. Ar, kamu juga jaga kesehatanmu yaa..."
"Iyaa Pram."
__ADS_1
Kemudian telepon kuakhiri. Aku langsung pergi ke toko perlengkapan.
Setelah beres semua, aku langsung balik ke rumah kecil yang aku sewa untuk aku jadikan kantor. Aku tata semua dibantu oleh anakku Rahma.
"Pa... yang ini Adek taruh di sini yaa... " Kata Rahma.
" Iya dek. Adek atur dah yaa... Papa pecayain itu ke Adek."
Kemudian kami berdua sibuk mengurus tempat dan perabotan. Setelah beres sua baru kami duduk beristirahat.
Rahma membantuku mengerjakan pemasaran. Aku mengajarinya cara melakukan pemasaran secara online
****
ARA
Beberapa hari berlalu ...
Aku mencoba menghubungi Pram ke nomor yang dia khususkan untuk aku.
Aku mulai sedih. Aku merasa akhir-akhir ini Pram jarang menghubungiku. Aku mengirim pesan ke Pram.
"Pram ... Kamu sibuk terus . Gimana kabarmu"
Pram membacanya tapi tidak membalas pesanku. Aku merasa tidak semangat. Aku rindu Pram.
Sampai sore hari aku menunggu balasan pesanku namun tetap gak ada. Aku menarik nafas dalam. Ada rasa sepi menyelimuti ku.
Sejak Pram membuka usaha sendiri, Pram semakin jarang menghubungiku. Dan kalaupun menghubungiku, kadang hanya menelponku sebentar saja.
Karena hari sudah sore, aku menutup toko offline ku. Sampai rumah,ada pesan masuk. Kubuka, ternyata dari Pram.
__ADS_1
"Aku akan tetap menjadi orang yang sama
Yang merindukanmu secara sederhana
Dan mnyayangimu secara luarbiasa
Karena aku terlanjur percaya
Bahwa aku diciptakan
Karena kamu sudah ada sejak cinta tercipta"
Ternyata Pram mengirimi aku puisi. Tak terasa air mataku akan menetes. Aku bahagia membaca puisi Pram.
Tak berapa lama masuk pesan kedua.
"Tolong beri ruang
Tolong beri rasa percaya
Semua ini sepenuhnya untuk cinta kita
Tak usah tergesa-gesa
Jika waktunya telah tiba
Cinta akan datang
Kita hanya perlu berdoa
Tuhan yang akan menuntunnya."
__ADS_1
Aku menghela nafas panjang... Kemudian aku mengaminkan puis Pram sebagai doa yang dia panjatkan.
Aku berusaha mengerti keadaan Pram yang saat ini sedang meniti usaha baru. Jadi waktunya akan banyak tersita untuk itu.