
Kami berdua sama-sama diam walaupun telpon tetap berjalan.
Setelah benar-benar tenang, aku memecahkan kebisuan.
"Pram..."
"Yaa Ara.."
" Kenapa dulu kamu tidak mencariku. Kenapa dulu kamu tidak mengirimiku surat. Sejak tamat SMA kamu gak ada beritanya." Aku menangis lagi.
Pram memandangku dengan perasaan bersalah, kemudian Pram menundukkan kepalanya.
Walaupun kami hanya bertemu lewat panggilan video, tapi aku bisa melihat dan merasakan bagaimana Pram merasa tersudut dan bersalah. Kulihat Pram menangis.
"Maafkan aku Ara..."
" Kamu gak tahu kan, kalau aku slalu nungguin kabar dari kamu. Aku tunggu kamu Pram. Aku berfikir ooh mungkin besok suratmu datang. Hari berganti hari, bulan berganti bulan bahkan tahun berganti tahun. Aku tunggu suratmu Pram. Aku ingin kepastian dari mu. Foto dan bunga Edelweis pemberianmu jadi saksi Pram. "
"Akhirnya aku sadar, Rasaku bertepuk sebelah tangan. Aku terlalu ke PD an beranggapan bahwa foto dan bunga yang kamu kasi itu bermakna lebih."
Air mataku menetes lagi. Aku tak kuasa menahannya. Karena sudah 20 tahun pertanyaanku belum terjawab.
"Ara... Please maafin aku. Aku salah."
__ADS_1
"Aku pernah menjalin hubungan dengan seseorang, dan aku dikecewakan, saat itu aku berharap kamu datang untuk menghiburku. Namun ternyata gak, aku kecewa. Sampai akhirnya datang aki-laki yang menawarkan cintanya padaku. Alu gak berfikir lagi, cinta atau sayang. Yang penting dia sayang dan cinta ma aku, itu sudah cukup bagiku."
"Ara... Andai waktu itu kamu memberiku tanda bahwa kamu mempunyai perasaan yang sama denganku, aku pasti akan berani mengutarakan isi hatiku. Tapi aku yang salah Ar .. Aku laki-laki pengecut yang tidak punya keberanian. Apalagi setelah aku dengar sari Rendi kalau kamu sudah punya tunangan, aku semakin gak punya nyali untuk lebih jauh mendekatimu."
"Kamu gak tahu Ar, betapa aku mengagumimu, dan sangat menyayangimu. Rasa sayangku padamu mungkin kamu gak bisa mengerti Ar, kamu bahagia itu sudah sangat membahagiakanku. Seperti itulah aku menyayangimu, aku terlalu mencintaimu.
" Maafin aku Ar.. Sungguh maafkan aku."
Aku menarik nafas dalam.
"Sudahlah Pram... Aku pulang dulu yaa... Hari dah mulai gelap."
"Iya Ara.. Pulanglah... Hati-hati di jalan yaa..."
Ada perasaan lega karena semua terjawab sekarang, walaupun semua misteri foto dan bunga edelweis itu terjawab saat kami masing-masing sudah mempunyai keluarga.
Karena hari sudah mulai gelap, aku bergegas untuk pulang. Aku menghapus air mataku.
***
Malam harinya, saat aku akan tidur tiba-tiba ada pesan masuk dari Pram. Aku membuka pesannya.
"Ara .. Nanti tolong kirim 5 foto produk yaa Ar, kalau kamu sudah gak sibuk."
__ADS_1
Kemudian aku mengirimkan beberapa foto jualanku ke Pram. Dan Pram langsung membalas pesanku.
"Makasi Ar. Ini aku sudah membuat group reseller, dan kamu aku undang masuk juga ke group. Tapi besok aja kamu terima undanganku yaa.. Sekarang kamu istirahat dulu."
"Ara... Jangan pikir yang macem-macem yaa... Jaga kesehatanmu."
Aku terharu membaca pesan Pram.
"***Makasi Pram."
"Kamu juga jaga kesehatanmu yaa..."
"Yaa Ara.. Sejak kehadiranmu kembali, aku semakin bersemangat. Sekarang kamu tidur, istirahat yang bener."
"Ya Pram***."
Kemudian aku mencoba istirahat. Karena kepalaku mulai gak nyaman lagi. Aku meminum obat dan kemudian mencoba untuk tidur.
Suamiku masuk kamar dan menyelimutiku.
"Sudah selesai pekerjaannya Pa..."Aku bertanya pada suami.
"Ya Ma... sudah beres Ma, tinggal kirim cuma aku ngantuk sekali. Jadi biar besok pagi-pagi sekali aku kirim Ma." Kata suami sambil masuk ke dalam selimut dan memelukku.
__ADS_1
Kemudian kami tertidur.