Cintaku Gak Salah

Cintaku Gak Salah
Ara hamil


__ADS_3

Saat usia perkawinanku yang menginjak 4 bulan, papaku meninggal dunia. Aku merasa sedih dan sangat kehilangan.


Suamiku menghiburku.


Hari berganti hari, 2 minggu setelah kepergian papa, aku positif mengandung. Aku bahagia karena akhirnya impianku dan Muhlas untuk memperoleh seorang anak terwujud.


Aku bersyukur karena aku tidak mengalami proses ngidam yang aneh-aneh. Hanya mual di pagi hari saja.


"Dek...kamu kenapa??" Suamiku mengurut tengkukku karena aku mual dan muntah-muntah di kamar mandi. Wajahnya tampak cemas.


Setelah puas muntah-muntahnya, badanku terasa lemes. Suamiku membersihkan bekas-bekas muntahku, kemudian tubuhku diolesi dengan minyak kayu putih. Setelah agak enakn barulah suamiku berangkat kerja.


"Dek, nanti kalo ada apa-apa telpon aku yaa..." Kata suamiku sambil menyisir rambutnya.


Aku diam saja.


"Dek, denger gak apa yang kukatakan barusan? Nomor telpon kantorku sudah aku tulis di buku telpon adek."


Suami berdiri di depanku.


"Yaa Bang... Aku cuma lemes dan ngantuk aja bang...Biasanya nanti siangan aku sudah baikan. kemaren juga seperti itu. Jadi sekarang abang berangkat ke kantor aja yaa... Hati-hati di jalan dan kerja yang baik yaa," kataku menenangkan suamiku. Aku menyalami tangannya.


Suamiku kemudian mencium keningku...


Tinggalah aku sendiri. Aku berusaha bangun untuk merapikan kamar, namun tubuhku masih terasa lemas, dan mataku benar-benar gak bisa diajak kompromi.

__ADS_1


Akhirnya aku memilih untuk tidur saja.


PRAM


"Pin... Sabila mana? Papa dari tadi belum lihat batang hidungnya." kataku pada Pipin.


Sabila adalah anak pertamaku yang sekarang sudah berumur 2 tahun. Dan aku sudah tidak tinggal seatap dengan orang tuaku. Aku sudah tinggal mandiri walaupun di rumah kontrakan.


"Sebentar yaa Pa... Ibu cari dulu di kamar" Pipin menuju kamar mencari Sabila.


Tak berapa lama Pipin keluar bersama Sabila.


Aku menyambutnya dan tersenyum.


"Sini nak sama Papa... Papa kangen sama anak papa ne," kataku sambil menggendongnya.


"Lagi maen apa sayangnya Papa ne... dari tadi Papa panggil kok gak nyahut sayang.."


"Tabila lagi maen boneta Pa... boneta Tabila tantik Pa. Papa mau liat? Sabila dengan bahasa cadelnya. Sambil menunjuk ke kamar.


"Iyaa papa mau liat, ayo kita ke kamar sayang." Aku menggendongnya ke kamar.


Sabila turun dari gendonganku, kemudian berjalan menuju bonekanya.


"Ini Pa... Tantik kan..Tabila tayang ma adek ni Pa.." Sabila menunjukkan bonekanya ke padaku.

__ADS_1


"Ooh iyaa canyik sekali bonekanya Sabila yaaa... Sabila audah kasi nama belum? " Tanyaku.


Sabila mengangguk.


"Siapa namanya nak?"


"Bidadayi..."


"Oooh namanya bidadari yaa... Bagus sekali namanya sayang... Sekarang Sabila maen dulu yaa, Papa mau mandi dulu yaa... Kataku kemudian mencium keningnya.


Aku masuk kamar mandi, bersih-bersihkan diri. Badanku rasanya bergetah semua.


"Pa... ini baju gantinya yaa... Aku taruh di tempat tidur. Aku mau masak dulu bentar yaa." kata Pipin dari luar kamar mandi.


Selesai mandi, aku langsung memakai baju yang sudah disiapkan Pipin.


Kemudian aku menuju dapur. Kulihat Pipin lagi memasak sayur tumis kangkung. Aku mengambil segelas air putih.


"Pin, aku ada kabar gembira... Nanti selesai makan, aku ceritakan yaa..."


Pipin mengangguk.


"Pin... Aku ke kamar dulu yaa mau temenin Sabila main." kataku sambil beranjak pergi ke kamar.


Aku lihat Sabila asyik main sama boneka Bidadari nya. Sabila senang sekali melihat kedatanganku. Aku mengelus rambutnya kemudian kucium.

__ADS_1


" Hmmm rambut Sabila harum banget... Sayang, cium Papa dong..." Kataku sambil menyodorkan pipiku. Sabila tersenyum, kemudian mencium pipiku bergantian. Kemudian aku duduk di dekat anakku bersandar di lemari.


Mungkin karena capek, aku ketiduran. Tidur sambil duduk.


__ADS_2