
Aku menangis, begitu juga dengan Sabila. Yusuf duduk lemas di dekatku.
"Bu... Papa gak apa-apa kan..." Tanya Yusuf.
Aku membelai rambut Yusuf.
" Doakan Papamu yaa Nak. Tadi kakakmu telpon katanya Papa sudah dibawa ke rumah sakit Harapan Keluarga. Ibu mau ke sana dulu sama Kak Sabila yaa .. Yusuf jaga rumah dulu yaa Nak."
Yusuf diam dan hanya menunduk. Kemudian aku dan Sabila bersiap ke rumah sakit.
Sebelum pergi, aku mencium rambut Yusuf dulu.
"Ibu pergi dulu yaa Nak." Kataku.
"Bu... Yusuf boleh ikut? Yusuf pingin liat Papa." Kata Yusuf menghiba.
Aku tak tega melihat Yusuf, akhirnya aku mengangguk. Kemudian kami pergi bertiga. Sekitar 5 menit Taxi yang dipesan Sabila sudah tiba. Kami berangkat menuju RS Harapan Keluarga.
Sampai di sana aku langsung mencari Rahma. Tadi Rahma sudah memgabari kalau Rahma dan Papanya sekarang ada di UGD.
" Bu..."Rahma memanggilku.
"Dek..." Kataku dan menghampirinya. Aku melihat suamiku tidur dan ada infus yang terpasang di tangannya.
__ADS_1
Aku sedih melihatnya.
"Dek, Papa kenapa? "
"Papa tiba-tiba aja sakit di dadanya Bu, terus adek langsung bawa ke sini. Hu hu....."Kata Rahma sambil menangis.
Aku memeluknya. Perasaanku tak karuan, aku takut. Aku berdoa smoga suamiku tak apa-apa.
" Dek, Papa itu tidur kah?" Tanya Sabila.
Rahma menggeleng.
"Adek gak tahu Kak. Papa dari tadi seperti itu. Adek takut Kak. Adek agak mau Papa kenapa-kenapa. Adek sayang Papa..." Rahma menangis tersedu-sedu.
Melihat kondisi suami seperti itu, aku hanya bisa pasrah. Aku sadar, aku harus kuat, aku harus bisa menguatkan anak-anakku. Anak-anakku butuh aku.
"Ibu mau bicara ma dokternya dulu yaa.... Sabila tolong liat adik-adikmu Nak."
Aku kemudian mencari dokter jaga dan bertanya keadaa suamiku.
Dokter menjelaskan bahwa suamiku kena serangan jantung tapi syukurlah suamiku segera dibawa ke rumah sakit.
Aku kemudian meminta Sabila dan Rahma mengurus kamar untuk Papanya. Setelah semua beres suamiku dipindahkan ke ruangan rawat inap.
__ADS_1
Suamiku tetap tak bergeming. Seperti tidur. Aku membelai wajah suamiku, tak sadar air mataku berlinang. Aku takut terjadi hal-hal yang tak kuinginkan.
Wajah suamiku pucat, aku menggenggam tangan suamiku. Kubisikan di telinganya, "Aku sangat mencintaimu Pa, bertahanlah. Demi aku dan anak-anakmu. Kami butuh kamu Pa...."
Rahma bangun dari duduknya dan mendekatiku.
"Bu... Sudah, ibu jangan nangis terus. Adek takut ibu jqtuh sakit. Sekarang ibu istirahat dulu. Yaa..."
Aku menghela nafasku...
"Ibu pingin deket Papamu, Dek. Ibu gak apa-apa. " Alu memghapus air mataku dan menggenggam tangan suami.
Aku berharap suamiku bisa bangin dari tidurnya. Aku akan memperbaiki sikap-sikapku. Aku akan membahagiakannya. Aku ingin menebus semua kesalahanku.
Aku sadar, suamiku selalu menuruti keinginanku dan selalu menurut apa kata-kataku walaupun aku bersikap kurang baik padanya. Aku sering menyepelekannya dajbtidak menganggapnya.
Sesalku terlalu banyak. Aku merasa sangat bersalah. Suamiku selalu membelaku kalau ada kata-kata buruk tentangku dari mamak ataupun saudara-saudaranya. Suamiku benar-benar menyayangiku. "Yaaa Tuhanku, kumohon sembuhkanlah suamiku. Berilah mukjizat untuk kesembuhannya. Aku mohon." Doaku.
Sabila dan Yusuf masuk ke ruangan.
"Bu.... makan dulu Bu. Aku dah belikan ibu nasi padang. Kita makan yuk Bu...."
"Makanlah Nak... Ibu belum lapar. Kalian makan dulu yaa.. Sebentar lagi ibu makan." Kataku sambil tersenyum.
__ADS_1
Kemudian anak-anakku makan nasinya. Sementara aku masih menggenggam tangan suamiku. Aku berharap, suamiku membalas genggaman tanganku