Cintaku Gak Salah

Cintaku Gak Salah
Keputusan Papa tak bisa dibantah


__ADS_3

Badanku masih terasa panas, sendi-sendi dalam tubuhku terasa sakit semua. Aku sudah minum obat penurun panas namun panas badanku tak turun juga. Aku memutuskan untuk ke dokter saja.


Aku ke dokter sendiri. Banyak juga yang antri, maklum dokter ini termasuk yang favorit di lingkungan tempatku tinggal.


Giliranku masuk periksa, dan dokter memeriksaku. Namun aku agak kaget melihat baju yang dikenakan dokter, mirip astronot. Dan pakai masker juga.


Aku beberapa kali ke dokter ini, dan beliau termasuk dokter yang ramah dan banyak bicara. Namun kali ini beliau tak seperti biasanya, beliau cuma menjelaskan aturan obat yang diberikan kepadaku. Dan terakhir kata-katanya, "Semoga lekas sembuh Pak."


Aku langsung balik ke rumah, inginnya mampir ke kantor dulu tapi aku benar-benar merasa agak payah jadi kuurungkan niatku.


Sampai rumah, aku langsung minum obat yang diberikan dokter. Karena dari tadi aku kepikiran ma keadaan istriku, jadi aku langsung menelponnya dan yang mengangkat anakku, Rahma.


"Dek... Gimana keadaan ibumu Nak?" Tanyaku.


"Ibu dah bisa tidur pulas Pa. Tadi dokternya ke sini periksa ibu, dan adek dah tanyakan ke dokternya juga kapan kepastian ibu akan dioperasi seperti pesan Papa tadi." Kata Adek.


"Terus apa kata dokter Dek?" kataku.


"Katanya si belum ada tanggal yang pasti karena sekarang rumah sakit lagi sibuk urusin pasien covid Pa." Kata anakku.

__ADS_1


"Ooh gitu yaa... Kalau begitu, sebaiknya, besok Papa urus ke rumah sakit supaya ibumu pulang aja dulu. Nanti nunggu info operasinya dari rumah aja. Soalnya Papa takut nanti Adek yang bolak-balik ke rumah sakit bakal terpapar. "Kataku.


"Tapi Pa... Ibu nanti gak apa-apa Pa? Gimana nanti kalau ibu sakit lagi?" Tanya Rahma.


"Lebih baik ibu rawat jalan aja. Papa ambil keputusan ini juga demi kesehatan ibu dan anak-anak Papa juga. Adek paham maksud Papa kan...Dek, keputusan Papa tak bisa dibantah!!!" Kataku


" Iya Pa..."


" Nanti kalau ibumu bangun, tolong sampaikan keputusan Papa ini yaa, besok pagi-pagi Papa ke rumah sakit urus kepulangan ibumu." Kataku tegas.


"Iya Pa... Oh ya Pa, gimana keadaan Papa? Dah baikan?" Tanya anakku.


"Iya Pa."


Kemudian telepon kuakhiri.


Aku langsung minum air hangat, dan masuk kamar untuk tidur.


Aku terbangun dengan badan berkeringat semua, kulihat sudah jam 10 malam. Mungkin karena pengaruh obat, jadi aku tidurnya cukup pulas.

__ADS_1


Aku ke dapur mencari apa yang bisa di makan untuk makan malam. Syukurlah ada telur dan nasi walaupun sudah agak kering, yaa cukuplah untuk mengganjal perutku untuk malam ini.


Aku masuk ke kamar Sabila, kulihat Sabila sedang sibuk dengan laptopnya.


"Nak, sudah makan?" Tanyaku.


"Sudah Pa, tadi Sabila buat telur dadar Pa. Papa mau belum makan? Kalau mau biar Sabila gorengin Papa telur, mau Pa??" Kata Sabila.


" Gak pa-pa Nak, biar Papa goreng sendiri. Tadi Papa pikir kamu belum makan jadi mau Papa gorengin sekalian." Kataku.


"Ooh gitu... Iya ya..." Kata Sabila namun tetap konsentrasi pada laptop nya.


Aku kemudian menyiapkan makan malamku dengan telor ceplok saja.


Aku menikmati makan malamku. Selesai makan aku langsung kembali ke kamar untuk istirahat lagi.


Sebelum tidur, aku lihat dulu handphone ku, ternyata ada pesan masuk dari beberapa pelanggan dan juga dari Ara. Namun karena badanku terasa meriang lagi, aku tak bisa membalas pesan Ara dan yang lainnya.


Aku mencoba untuk tidur.

__ADS_1


__ADS_2