
Aku bisa merasakan apa yang dirasakan Ara. Aku merasakan kesedihannya.
"Ara sayang... Kamu tahu kan bagaimana aku sangat mencintaimu. Masalah kemarin tolong jangan buat kamu benci ma aku yaa... Please, maafin aku."
"Tapi aku malu Pram, aku sudah merusak rumah tanggamu. Aku bersalah Pram. Aku salah." Ara menangis lagi.
Kemudian aku mengalihkan ke panggilan video dan Ara menerimanya.
"Sayangku... Dengerin aku, tolong maafin Pipin. Dia lagi marah, jadi maafkan kata-katanya yang sudah menyinggung perasaanmu."
Ara mengangguk.
"Sayang... Hapus air matamu. Aku gak tahan liat kamu nangis. Aku sudah janji ingin membahagiakanmu. Tolong berhenti nangis sayang."
"Tapi, tapi aku..Aku sudah nyakitin mbk Pipin. Aku malu Pram. Baru kali ini selama hidupku aku mendapat perkataan seperti itu." Ara menunduk sambil menghapus air matanya.
"Iyaa sayang, aku ngerti. Ini semua salahku. Maafin aku."
"Aku yang minta maaf Pram, aku sudah buat masalah. Aku buat rumah tanggamu berantakan."
"Hush stop Ara. Dengerin aku. Aku sayang ma kamu. Dan masalah ini terjadi karena kesalahanku. Maafin aku, karena kecerobohanku kamu jadi menerima kata-kata yang menyakitkan dari Pipin."
"Iya Pram." Ara menatap mataku.
"Sekarang Ara sudah tenang kan... Ada yang ingin aku sampaikan."
"Iya Pram, apa yang mau kamu sampaikan."
"Ara, kamu sayang ma aku? Jawab jujur." Kataku.
__ADS_1
"Iyaa, aku sayang ma kamu Pram."
"Kamu percaya ma aku kan..." Tanyaku lagi.
Ara mengangguk. Kemudian aku menciumnya.
"I love you Ara..."
"Begini Ara, untuk sementara aku gak akan hubungi kamu sampai Pipin tenang. Jadi kamu jangan kirim pesan dulu kecuali aku yang menghubungimu yaaa, Please aku mohon pengertianmu."
"Tapi, kamu jangan terlalu lama menghilangnya. Ya Pram." Pinta Ara.
"Iya sayang... Aku gak ilang, dan gak akan hilang. Aku akan tetap di sisimu. Aku sudah janji kan."
"Bener yaa.," Ara menatapku mencari kepastian dari kata-kataku.
Ara menatapku.
"Bagaimana Ara... Kamu mau gak aku jemput? Tanyaku.
"Tapi bagaimana dengan keluarga kita masing-masing?" Tanya Ara.
"Itu nanti kita pikirkan sambil jalan. Biarlah Tuhan yang mengatur semuanya. Aku menyelesaikan tugas dan kewajibanku terhadap keluargaku. Bagaimana Ara, kamu setuju?" Aku menunggu jawaban dari Ara.
Ara mengangguk dan mengatakan "I love you."
"Syukurlah Ara, makasi sayangku... Kamu sudah mau ngertiin aku."
"Iya Pram. Aku akan menunggumu."
__ADS_1
"I love you... Janji Ara yaa.. Kamu tunggu aku. Aku gak mau kehilanganmu lagi."
"Sekarang, aku kerja dulu yaa." Kataku kemudian kukecup kening Ara.
Ara mengangguk. Dan telpon aku akhiri.
Aku lega dan sangat bahagia, Ara mau menungguku. Aku yakin Ara sangat mencintaiku. Jadi aku bisa tenang sekarang.
Aku mempunyai semangat baru untuk hidup. Aku ingin membahagiakan Ara mulai dari sekarang dan selamanya.
Aku sayang dan mencintai istriku, namun aku merasa aku sudah cukup membahagiakannya selama ini. Suatu saat nanti aku ingin membahagiakan Ara seutuhnya, bila Tuhan ijinkan. Hanya itu keinginanku sekarang.
Aku menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan Pak Amin tadi. Aku sudah gak pusing dan sakit kepala lagi. Aku bisa konsentrasi dengan baik menyelesaikan tugas-tugasku.
Setelah semua tugasku selesai aku kerjakan, aku kirim file nya ke Pak Amin. Pak Amin memeriksanya dan memberikan emoticon jempol 3 kepadaku.
Pak Amin masuk ke ruanganku.
"Wah, mantap Pak Pram. Semua pekerjaan yang aku kasi sudah beres smua. Makasi yaa Pak. Pak Pram memang bisa diandalkan." Kata Pak Amin yang tiba-tiba sudah ada di belakangku.
Aku kaget karena setelah Ku menyelesaikan pekerjaanku, aku iseng mengedit foto Ara.
" Ternyata ini yaa Pak, yang sudah buat Pak Pram bersemangat." Kata Pak Amin sambil memperhatikan foto Ara.
Aku hanya tersenyum dan terus melanjutkan aktivitasku.
"Benar kata Pak Pram, Ara ini punya aura sendiri yang menarik dan anggun. Unik Pak."
Aku hanya mengangguk.
__ADS_1