
Sejak kejadian itu, suamiku lebih perhatian padaku. Suamiku tidak pernah lagi menyinggung soal poligami.
Sebelumnya suamiku pernah ingin poligami. Saat itu aku sedang sakit jadi aku tidak bisa melayaninya sepenuhnya sebagai seorang istri. Namun saat itu aku merasa sangat yakin, kalau suami sangat sayang dan cinta padaku jadi tak mungkin suamiku akan menikah lagi dengan alasan apapun.
Namun aku merasa seperti disambar petir saat tiba-tiba suamiku mengatakan padaku bahwa dia akan menikah lagi. Dan kata suamiku ada temannya yang siap membantu untuk mencarikannya calon istri. Aku sungguh tak menyangka nya. Aku hanya diam dan mengangguk.
Aku berusaha tetap tenang dan menerima keinginan suamiku. Namun anak-anak tidak menyetujui keinginan Papanya. Aku berusaha meyakinkan anak-anak namun tetap saja anak-anak tidak bisa menyetujuinya.
Yaah... aku hanya menjalani takdirku... Itu pikirku. Jadi apapun yang diinginkan suamiku, aku akan menurutinya.
Seiring waktu suamiku yang ingin poligami menawarkan teman kuliahnya. Akupun menyetujuinya. Namun sekian kali aku meyakinkan anak-anakku untuk mengijinkan Papanya menikah lagi, tetap saja anak-anak tidak menyetujuinya.
Akhirnya keinginan suamiku gagal dan mengambang karena terhambat ijin anak-anakku.
Sejak suamiku ingin menikah lagi, aku sudah pasrah pada ketentuan Tuhan. Aku hanya menjalani hidupku.
Aku kecewa dengan suamiku yang ingin menikah lagi hanya karena sesuatu dan lain hal aku tidak bisa melayaninya sebagai istri. Saat itu aku merasa cinta suamiku tak tulus. Mungkin prasangkaku pada suamiku salah, namun sejak suamiku berniat poligami,perasaan cintaku berkurang.
__ADS_1
Hubunganku dengan suamiku berjalan baik hanya karena aku melihat anak-anakku. Aku tetap bertahan dengan semua kondisi yang ada demi anak-anakku.
Memang secara materi, aku terkecukupi. Tapi keadaan di sekeliling keluarga suamiku, aku sungguh tertekan.
Sampai akhirnya aku bertemu dengan Pram. Yang memberiku cinta yang utuh, bahkan aku mengagungkan cinta Pram yang tulus yang tidak pernah aku dapatkan dari suamiku.
Namun sejak hubunganku dengan Pram diketahui suamiku, suamiku bersikap lebih baik. Aku berfikir mungkin karena ancaman Pram padanya.
Hari berganti hari...
Aku tidak pernah mengirim pesan ke Pram dan begitu pula dengan Pram. Pesan terakhir Pram dulu tidak kubalas. Karena perasaanku yang sangat kecewa membuatku belum sanggup untuk membalas pesannya.
Iseng-iseng aku membuka nomor pribadi Pram. Aku terkejut, ternyata aku sudah tidak diblokir lagi.
Aku melihat Pram online, namun aku langsung keluar dan menaruh hp ku di atas meja.
Aku menarik nafas dalam... Tak terasa air mataku berlinang... Seperti ada rasa sakit yang sedang menyayat bagian terdalam hatiku.
__ADS_1
Aku memaklumi semua yang telah dilakukan Pram, dan entah mengapa aku begitu percaya padanya bahwa dia benar-benar menyayangiku. Semua karena keadaanya yang mengharuskannya melakukan itu. Aku maklum.
Tiba-tiba ada pesan masuk, yang kupikir dari langgananku. Tapi ternyata dari nomor tak dikenal.
"Ara..."
Aku terkejut dan aku seperti kontak batin itu dari Pram. Ada apa? Aku menunggu lanjutan pesannya. Namun ternyata tidak ada pesan lanjutan.
Kemudian Hp ku berdering, dan kulihat itu dari nomor yang tadi mengirim pesan. Akupun menerimanya.
"Ara... Ini aku." Aku tanda suara orang yang menelponku. Ini suara Pram.
"Iyaa Pram ..." Jawabku.
"Kamu sehat Ar?"
"Iya.. Sehat Pram. Kamu gimana?"
__ADS_1
"Aku sehat Ar..Namun keadaanku tidak baik-baik saja."