
Aku bangun kesiangan. Bangun tidur, aku bergegas masak dan siapkan pakaian untuk Arini dan untuk suamiku. Kalau Azka sudah bisa menyiapkan pakaian seragamnya sendiri. Sedangkan pakaian seragam Aldi dan Arjun audah disiapkan bibi.
"Ma... Masak apa Ma..." Tanya Azka.
"Mama telat bangun, jadi Mama goreng telor mata sapi sama tempe mendoan, dan ini sayurnya tumis kangkung." Kataku sambil tetap fokus memasak.
Karena aku lagi terburu-buru jadi aku minta tolong bibi untuk membantu Arini siap-siap sekolah.
Sekitar 15 menit, hidangan untuk sarapan pagi sudah siap di meja. Kemudian aku memanggil semuanya untuk segera sarapan.
Setelah semua selesai sarapan, semua bersiap-siap untuk berangkat ke tujuannya masing-masing.
*Ma...Aldi berangkat ke sekolah yaa Ma... Nanti tolong doakan Aldi yaa Ma, Aldi ulangan jam pertama."Kata Aldi sambil menyalamiku.
"Yaa Nak, hati-hati di jalan yaa." Kataku kemudian mencium kepala anakku.
Suamiku kemudian dah siap akan berangkat ke kantor.
"Ma, kali ini Arini ma Azka biar berangkat ma Papa aja. Kebetulan hari ini Papa gak ada kunjungan ke mana-mana, jadi bisa lebih santai." Kata suamiku sambil mengecup keningku.
"Oh gitu ya Pa... Mama panggil Azka ma Arini dulu yaa..." Kataku sambil masuk ke kamar mencari Arini.
Ternyata Arini dan Azka sudah siap berangkat.
"Pagi ini Adek ma kak Azka berangkat ma Papa yaa... Nanti pulangnya baru Mama yang jemput. Sekarang buruan, Papa dah nungguin di luar tu." Kataku pada dua bidadari ku.
"Hmmm... Adek maunya berangkat sekolah ma Mama."Kata Arini sambil memanyunkan mulutnya.
Aku tersenyum dan membujuknya.Kemudian Kakak Azka berbisik pada Arini, dan kemudian Arini mengangguk dan terlihat senang.
"Ada apa Dek...Kok kakak bisik-bisik sih..."
__ADS_1
Arini hanya tersenyum, sedangkan Azka mengedipkan matanya padaku.Akupun tersenyum
"Ya udah sekarang kalian berangkat sekolah dulu yaa." Kataku sambil menemani anak-anak ke luar.
Arjun turun dari lantai atas dengan tergesa-gesa.
"Ma... Arjun dah telat nih Ma..."Kata Arjun menyerobot kemudian mencium tanganku.
"Ya Nak... hati-hati di jalan yaaa..."
Arjun berpamitan ke papanya. Kemudian Arini dan Azka pun berangkat sekolah.
Kini tinggal aku sama bibi yang ada di rumah. Aku merapikan kamarku kemudian bersiap untuk mandi. Saat aku akan masuk kamar mandi, handphone ku berbunyi ada notifikasi pesan masuk.
Aku mengambil handphone ku yang sedang dicash. Aku lihat banyak pesan masuk. Ada dari customerku dan ada dari grup-grup yang ku ikuti.
Pertama-tama aku melihat pesan-pesan dari customer ku, aku balas satu persatu. Kemudian aku melihat pesan yang di group. Di group reseller yang aku buat banyak pertanyaan, jadi aku balas dulu.
Setelah itu aku membuka pesan yang di group SMA -Bio. Aku melihat Rendi mengirim salam selamat pagi, kemudian ada Budi yang menjawab, dan beberapa teman yang lain. Aku mencari salah satu nama peserta group yang ikut ngeramein, tapi ternyata tidak ada.
"Yaaaa kok Pram gak ada komentar sih..." Bathinku kecewa. Aku kemudian melepas handphone ku dan bersiap untuk mandi. Saat aku akan mandi, tiba-tiba aku teringat kalo dini hari Pram mengirim pesan pribadi ke media sosial x yang aku punya.
Aku mengurungkan niatku untuk mandi, aku mengambil lagi handphone ku. Dan aku membuka pesan dari Pram.
Aku penasaran apa sih isinya... Dan, jantungku seperti akan berhenti berdetak saat kulihat puisi yang dikirim Pram untukku...
Setelah 20 tahun lamanya...
Kamu masih orang yang sama
Senyum kecilmu
__ADS_1
yang slalu membuatku tak berdaya
Seperti dosa yang dilakukan adam dan hawa
Terpisah
Yang akhirnya dipertemukan kembali
Perpisahan yang panjang
Penuh derita
Berharap akan bahagiamu
Biarkan semua di garisNya
Mengikuti alurNya
Mengikuti takdirNya
Ada perasaan aneh di hatiku. Dan entah mengapa tiba-tiba air mataku menetes.
Dari puisi yang dikirim Pram, aku bisa merasakan apa yang dirasakan Pram.
Berulang-ulang kubaca puisi itu...Aku terduduk lemas. Pikiran dan kenangan-kenangan bersama Pram di waktu SMA hidup kembali. Aku menangis..."Pram... Kamu baik-baik saja kan..."Bathinku.
Aku teringat akan mata teduh itu, mata bulat sayu yang selalu menatapku, namun tak pernah mengungkapkan sepatah kata dari bibirnya. Hanya matanya yang bicara, mengatakan sesuatu.
Aku menghela nafas, dan kemudian menutup pesan itu.
Kemudian aku ke kamar mandi. Di kamar mandi aku tak bisa menahan tangis, aku menangis lagi dan lagi...
__ADS_1