Cintaku Gak Salah

Cintaku Gak Salah
Perpisahan kelas


__ADS_3

Ujian sekolah sudah selesai dan pengumuman kelulusan juga sudah keluar. Syukurlah kami satu kelas aemuanya lulus dengan hasil yang bagus dan memuaskan.


Saat itu aku sedang duduk di bangku taman sekolah. Aku memegang surat kelulusanku. Aku senang karena hasilnya bagus jadi aku gak sulit untuk masuk ke perguruan tinggi yang aku inginkan


"Ara... kamu mau melanjutkan ke mana?" Wiwin menyapaku dan duduk di sebelahku.


"Hai Win, aku pingin kuliah di luar daerah, tapi orang tuaku tidak mengijinkan. Katanya kalo perempuan itu tidak boleh jauh-jauh dari orang tua, harus tetep di sini menemani orang tua," kataku sambil tertunduk kecewa.


"Ooh begitu yaa... terus rencana kamu mau melanjutkan ke perguruan tinggi di sini aja yaa. Padahal sayang lho, kamu termasuk anak yang pandai di kelas, harusnya kamu melanjutkan ke UGM atau ke mana gitu. Tapi, yah apa mau dikata perintah orang tua harus dituruti, jadi kamu harus tetep semangat Ar. Oke... " Wiwin menyemangatiku.


Aku mengangguk dan tersenyum. Dalam hatiku juga berfikir seperti itu.


"Kamu sendiri mau melanjutkan ke mana Win?


"Aku si rencananya mau ke Surabaya, ikut mau kerja di sana. Aku ditawari kerja ma tanteku yang tinggal di Surabaya."


" Ooh jadi kamu gak melanjutkan kuliah Win?"


Wiwin mengangguk. "Rencananya aku mau ambil kursus-kursus membuat kue dan menjahit. Maklum aku sadar diri gak pandai jadi aku gak melanjutkan ke perguruan tinggi."


"Yaaa sepertinya itu pas buatmu Win, palagi sebentar lagi kamu akan menikah ma mas Aldi. Persiapan diri untuk jadi calon istri yang baik," kataku sambil mengedipkan mataku ke Wiwin.


" Kamu bisa aja Ar, " Wiwin tersenyum sambil mencubit pipiku.

__ADS_1


"Oh iya,hari Sabtu dah fix jadi acara perpisahannya di rumahku. Tapi kita smua sepakat acaranya dibuat santai dan sederhana yang penting kita bisa kumpul. Kamu bisa datang kan Ara? Acaranya pagi jam 10 sampai sore."


"Iya, rencananya besok aku akan dijemput sama Wisnu. Aku sudah minta ijin ma ibu kok Win."


" Oh iya Ar.. sampai ketemu hari Sabtu yaa. Aku duluan yaa, aku janji pulang cepat ma mama."


"Ya Win... hati-hati di jalan yaa." jawabku sambil tersenyum.


Hari Sabtu tiba. Wisnu menjemput aku, sebelumnya Wisnu minta ijin ma mama mau mengajakku pergi ke rumah Wiwin. Mama mengijinkan dan berpesan agar berhati-hati di jalan dan pulangnya jangan sampai malam.


Sesampainya di rumah Wiwin, aku melihat semua teman-teman sudah datang. Ada yang lagi main kartu, ada yang lagi main catur dan ada yang lagi ngobrol bersenda gurau.


Acara perpisahan sekolah sudah diadakan hari Senin lalu., kalau acara perpisahan kelas yang diadakan di rumah Wiwin ini sifatnya santai, cuma kumpul-kumpul ma temen sekelas saja.


"Ara... akhirnya kamu datang juga."


Aku hanya tersenyum.


Budi memanggil kami supaya ikut gabung ke tempatnya aja. Pram menghela nafas karena gak jadi ngobrol denganku.


Kemudian kami ngobrol sambil menikmati minuman ma kue-kue yang sudah disediakan panitia konsumsi. Kami membicarakan rencana masing-masing setelah tamat sekolah ini.


Tak terasa hari sudah mulai sore. Padahal kami masih asyik ngobrol karena beberapa hari lagi kita akan berpisah.

__ADS_1


Acara terakhir adalah foto bareng. Saat sesi foto, Pram mendekatiku dan berdiri di sampingku. Tiba-tiba ada perasaan aneh menyelimuti hatiku, indah... Pram tersenyum dan menatapku, sesaat aku dan Pram saling memandang. Perasaanku semakin gak karuan, aku gugup dan langsung memutus pandanganku dengan' Pram.


Setelah beberapa foto diambil, kami sudah bersiap-siap untuk pulang.


Ketika aku akan pulang, Pram memanggilku.


"Ara.. kamu pulang ma siapa?"


"Aku pulang dengan Wisnu, tadi Wisnu yang jemput aku ke rumah."


"Ooh iya... Ara, ini ada kenang-kenangan untukmu," kata Pram sambil mengeluarkan sebuah amplop dan seikat bunga edelweis. Pram mengeluarkan amplop


Aku menerimanya dan tersenyum. "Makasi yaa Pram, tapi apa isi amplop ini?" tanyaku.


Pram tersenyum. " Nanti buka di rumah aja ya Ara, dan smoga kamu mau menyimpannya baik-baik."


Aku tersenyum dan mengangguk.


"Ara... hati-hati di jalan yaa," kata Pram sambil menatapku.


"Ya Pram, duluan yaa... kamu juga hati-hati di jalan."


Wisnu memanggilku untuk buruan, karena hari sudah semakin sore. Wisnu takut dimarah ma ibu karena tadi dah janji pulangnya gak sampai malam.

__ADS_1


__ADS_2