
Aku masuk kamar dan kulihat Pipin belum tidur. Pipin duduk di pinggir kasur dan sedang menyisir rambutnya.
Aku memandangnya dan tersenyum. Kemudian aku mendekatinya, dan duduk di sebelahnya.
Aku mengelus rambut Pipin. Pipin berhenti menyisir rambutnya. Kemudian kucium rambutnya.
Saat aku mencium rambut Pipin, entah perasaan apa yang tiba-tiba memenuhi hatiku. Hatiku bergetar, Kucium lagi rambutnya. Kemudian Pipin menghadap ke arahku.
Aku dan Pipin saling bertatapan. Ooooh tiba-tiba hatiku bergejolak semakin tidak menentu. Ku sentuh tangan Pipin, kemudian aku menggenggamnya dan Pipin membalas genggaman tanganku. Kemudian ku kecup keningnya lembut..Pipin semakin erat menggenggam tanganku.
"Pin...Aku mencintaimu. Apakah kamu benar-benar mencintaiku?" Aku membelai pipinya.
Pipin mengangguk...
"Aku sangat mencintaimu Pram dan kamu tahu itu. Sampai pernikahan ini terjadi pun karena aku memang sangat menginginkannya. Karena aku gak mau jauh dari kamu, aku gak mau berpisah denganmu." Pipin menatapku penuh cinta.
__ADS_1
Aku mencium kening Pipin. Kemudian ciumanku turun ke matanya secara bergantian. Pipin memejamkan matanya. Kemudian aku mencium hidungnya. Saat itu tiba-tiba aku merasakan hangat nafas Pipin. Hmmmm hatiku semakin bergejolak. Nafasku bertemu dengan nafas Pipin.
Kemudian aku mencium lembut bibirnya. Pipin memelukku, Oooh... aku semakin merasakan perasaan yang aku gak tahu ini apa. Indah, dan hatiku semakin berdebar-debar.
Aku semakin mencium bibirnya, dan Pipin membalas ciumanku. Kami saling berciuman, aku memegang tengkuk Pipin, dan aku mendorongnya agar bibirku semakin leluasa mencium bibirnya... Oooh.... indahnya... hatiku semakin bergejolak. Pipin mengalungkan kedua tangannya ke leherku,dan aku memeluk tubuh Pipin. Oooh... aku semakin susah mengontrol hatiku yang semakin bergejolak.
Saat aku memeluk tubuh Pipin, aku merasakan ada 2 gumpalan daging yang menempel di dadaku. Aku semakin rakus mencium Pipin, kugigit kecil bibirnya kemudian kusedot. Kemudian salivaku bermain-main di dalam mulutnya. Dan Pipin mengimbangiku, Pipin memainkan salivanya di dalam mulutku . Dua saliva bertemu dan saling memagut. Aku mendengar nafas Pipin sudah semakin menggebu. Pipin memelukku erat. Kami berpelukan erat, aku menggerak-gerakan dua gumpalan daging yang melekat di dadaku dengan dadaku... Nafasku semakin menggebu.
Kemudian aku melepas ciumanku, kami sama-sama menarik nafas. Aku membuka pakaianku, kemudian pakaian Pipin. Kemudian aku menyelimuti Pipin.
"Pin... Kamu benar-benar mencintaiku? Dan apakah kamu benar-benar bisa menerimaku apa adanya?"
"Iyaa Pram...Aku sangat mencintaimu, dan aku mencintaimu seutuhnya lengkap dengan kekurangan dan kelebihanmu." Pipin menenggelamkan wajahnya di dadaku, dan Pipin memeluk erat tubuhku.
"Aku mencintaimu Pin..."
__ADS_1
Aku mencium bibir Pipin. Aku kembali memulai lagi. Aku memeluk tubuh Pipin erat, aku merasakan kehangatan yang luar biasa yang bisa membuatku lupa akan semua masalah-masalahku. Aku mengendorkan pelukanku, kemudian aku mencium leher Pipin.
"Oooh... Prammm...hmmm.. " Suara ******* Pipin semakin membuat nafsuku membuncah. Aku semakin tak kuasa untuk mencium dan memeluk Pipin.
Aku merasakan getaran-getaran hebat yang semakin membuatku tak kuasa menahan semua perasaan indah yang ingin segera aku salurkan.
Sentuhan-sentuhan yang aku berikan membuat Pipin semakin hanyut dalam gelora asmara. Suara ******* dan nafas yang memburu tak beraturan mengisi kamarku yang menjadi saksi bersatunya dua hati yang sudah sah menjadi suami istri.
Akhirnya aku dan Pipin menikmati penyatuan kami dengan perasaan bahagia penuh cinta.
Setelah selesai melakukan penyatuan, aku tidur lemas di sebelah Pipin. Kemudian Pipin memelukku, aku mencium keningnya.
Kupeluk Pipin, dan kucium keningnya. Kuhapus keringat yang masih tersisa si wajah Pipin.
"Kita tidur yaa... Biar besok bisa bangun pagi..." kataku sambil membelai Pipn. Dan Pipin mengangguk
__ADS_1
Ini adalah malam pertama buatku dan Pipin. Aku bahagia, akhirnya aku berhasil menjalankan kewajibanku sebagai suami.