
Pipin mengambil motornya di parkiran. Aku menunggu di bawah pohon.
Jarak kos tempatku tinggal hanya beberapa meter saja dengan kampusku. Jadi orang tuaku tidak memfasilitasi aku dengan kendaraan bermotor.
Tak berapa lama Pipin sudah ada di depanku. Pipin turun dari motor dan mempersilahkan aku yang di depan.
Aku membonceng Pipin ke toko buku. Aku masih males ngomong, akun diam saja. Di sepanjang perjalanan aku diam saja. Aku fokus ke jalan. Pipin berusaha membujukku.
"Pram... Please maafin aku.. udahan dong diamnya. Aku gak bisa liat kamu diam aja. Masak dari berangkat sampe mau balik lagi kamu gak ngomong-ngomong. Maafin aku yaa.." Pipin mencoba minta maaf lagi.
Aku menghela nafas. " Hmmm... ya udah.. gak usah diperpanjang lagi. Aku cuma memang lagi gak mood aja. Udah sekarang kamu antar aku ke kampus aja. Yaa Pin,, Aku mau istirahat, aku ngantuk sekali."
"Pram, kita makan bakso dulu yuk di kantin kampus. Aku lapar dan aku yakin ku juga pasti lapar."
"Lain kali aja yaa Pin... Aku ngantuk sekali," tolakku.
"Baiklah kalo begitu."
Sesampainya di kampus, motor aku matikan. Dan bersiap pulang ke kosku.
"Pram, aku sungguh-sungguh minta maaf. Aku janji gak akan cepet ngambek lagi. Maafin aku yaa..."
Aku tersenyum. "Ok Pin... udah dulu yaa, aku pulang dulu."
Pipin tersenyum.
Di kamar Kos
Gak sampai 10 menit berjalan kaki, aku sudah sampai di kos. Aku langsung menuju kamarku. Tiba-tiba Edo memanggilku.
Edo adalah teman yang tinggal di seberang kamarku, dan Edo satu daerah asal denganku.
"Pram... kok cepet balik dari kampus, Gak ada kuliah yaa?"
"Hai Do, aku tadi kuliahnya cuma 2 jam aja trus aku antar Pipin ke toko buku, Tapi karena aku ngantuk, pulang dari antai Pipin, aku langsung balik ke kos aja. Aku mau tidur Do," jawabku.
"Oo begitu, tapi sepertinya kamu lagi kesel ya.. Berantem ma Pipin Pram? "
Aku duduk di teras kosku. Hmm... Aku menghela nafas.
Edo duduk di sebelahku. Edo mengeluarkan sebungkus rokoknya, lalu menyodorkannya padaku.
__ADS_1
"Aku gak merokok Do, makasi," tolakku halus.
Edo tersenyum. Trus Edo membakar sebatang rokoknya
"Kalo ada masalah, kamu bisa cerita ke aku supaya kamu bisa plong."
Aku berniat untuk tanya pendapat Edo tentang Ara. Edo satu kampung dengan Ara. Jadi dia tahu banyak soal Ara. Dan terlalu banyak pujian untuk Ara dari Edo. Dan kuakui memang Ara layak mendapatkan banyak pujian itu.
"Do, menurutmu mana lebih baik Ara dibandingkan dengan Pipin?
Edo langsung tertawa. " Ooh rupanya masalah cewek to. Menurutku sebaiknya kamu memperhatikan mana cewek yang dekat saja dah. Ara jauh Pram, lagian kamu kan gak tahu apakah di sana Ara sendiri atau sudah punya pasangan. Udahlah...Pipin juga orangnya baik, sangat perhatian sama kamu dan cantik juga,"kata Edo aambil menghisap rokoknya.
Aku terdiam. Tapi benar juga, Ara selama di SMA gak pernah kasi perhatian lebih ke aku. Hanya aku yang memberi perhatian padanya. Aku menelan ludah. Tapi aku sangat menyayangi Ara.
Aku bukan tipe cowok yang cepat jatuh cinta. Sejak aku SMP sampai sekarang aku hanya pernah menyayangi 2 orang cewek, Erni dan Ara. Aku pernah berpacaran dengan Erni, tapi masih cinta monyet, saat itu aku masih SMP. Itu saja.
Kalau perasaanku ke Ara, aku pendam sendiri karena aku takut ditolak. "Ara, aku merindukanmu, " batinku.
"Tapi Do, aku sayang ma Ara. Aku bingung. Walaupun Pipin gak mengungkapkan perasaannya padaku, aku dah tahu kok kalo Pipin sayang ke aku."
"Sudahlah, ikuti aja saranku. Kamu jalani aja dulu sama Pipin. Biarkan mengalir seperti air."
"hmm... ya Do, aku mau tidur dulu aja dah. Biar ntar bangunnya aku dah langsung segar." Jawabku sambil beranjak bangun.
"Sip Do... aku masuk dulu yaa." Aku masuk ke kamarku.
k foto Ara yang lagi bersepeda. "Ara..,batinku sambil tersenyum. Aku bahagia melihatnya tersenyum.
Tak berapa lama aku mendengar ada yang mengetuk pintu, kemudian mengucap salam. Suaranya seperti Pipin.
Aku beranjak dari tempat tidur. Kemudian membuka pintu kamarku.
Benar juga, Pipin berdiri di depan pintu kamarku.
"Pram, aku bawakan kamu bakso ma es campur kesukaanmu. Kamu pasti lapar kan," tanya Pipin sambil menyodorkan kantong plastik berisi bakso ma es campur.
Aku tersenyum dan mengambil kantong plastik itu. "Makasih yaa... " jawabku.
Aku mengambil dua mangkok dan sendok. Kemudian menyantapnya perlahan. Aku lihat Pipin memperhatikanku. Aku pura-pura tidak tahu, sambil tetap menyantap bakso dan es itu.
"Kamu mau Pin, " tanyaku.
__ADS_1
Pipin kaget karena saat aku menawarkan itu, Pipin sedang memperhatikanku. Pipin menggeleng dan tersipu malu.
Aku tersenyum. Selama ini Pipin sangat memperhatikan aku.
"Pram... Bolehkah aku merapikan kamarmu? "tanya Pipin.
Aku mengangguk. "Tapi kamarku saat ini bener-bener berantakan, aku malu Pin."
Pipin tersenyum dan masuk ke kamarku. Aku tetap di teras melanjutkan makan.
Aku tiba-tiba sakit perut dan mau ke kamar kecil. Aku buru-buru masuk kamar. Karena buru-buru aku menabrak Pipin, dan Pipin hampir terjatuh kalo gak aku pegang bahunya. Pipin refleks memegang bajuku, dan posisi kami sangat dekat. Aku kaget dan gugup. Pipin memandangku kemudian tertunduk malu.
"Duh... maaf Pin aku gak sengaja, aku buru-buru mau ke kamar mandi," kataku. Sambil melepaskan tanganku di bahu Pipin. Aku langsung masuk kamar mandi.
"Pin, kamu tunggu aku di luar yaa, " teriakku dari dalam kamar mandi. Aku gak mau ada fitnah nantinya.
Setelah selesai dari kamar mandi, aku liat Pipin sudah duduk di teras. Pipin melipat beberapa bajuku yang berantakan di kamar. Kemudian aku duduk di sebelah Pipin.
"Pram... aku boleh tanya sesuatu gak?"
"Iya boleh dong, mau tanya apa Pin?"
"Kamu janji jawab yang jujur yaa.."
Aku mengangguk.
"Sebenarnya bagaimana perasaanmu padaku, Pram? Apakah aku berarti untukmu?" tanya Pipin.
Aku kaget dengan pertanyaan Pipin, aku gak siap menjawabnya. Aku terdiam.
"Pram, jawab pertanyaanku."
"Pin, kamu kan sudah punya cowok, trus apa maksud pertanyaanmu?"
Pipin menunduk. Kemudian membalas pertanyaanku ," Kamu jawab dong pertanyaanku, kamu sendiri bagaimana perasaanmu?"
Aku diam beberapa saat. Kemudian aku memperhatikan Pipin yang masih tertunduk.
" Aku bingung harus jawab apa Pin, begini saja kita jalani aja seperti adanya yaa. Jalan aja, biarkan waktu yang menjawabnya."
Pipin sepertinya gak puas dengan jawabanku.
__ADS_1
"Hmmm gak jelas, yaa udah kalo gitu aku pulang dulu ." Pipin beranjak dari duduknya dan siap-siap akan pergi.
Aku diam saja. Kubiarkan Pipin berlalu.