Cintaku Gak Salah

Cintaku Gak Salah
Telpon papa Pipin


__ADS_3

Aku mengajak Pipin ke Wartel untuk menelpon papanya.


Aku menelpon papa Pipin. Tiga kali aku menelpon papanya Pipin namun tidak juga diangkat. Aku menghela nafas, dan saling berpandangan dengan Pipin.


Pipin menggenggam tanganku, dan aku tersenyum.


Aku mencoba menelpon kembali, dan ternyata diangkat. Yang mengangkat teleponku adalah papanya Pipin sendiri. Aku memberi salam.


"Mat sore Om... Aku Pram.. Aku mau mengabari kalau Pipin ikut denganku pulang ke kampungku."


Belum aku selesai bicara, papanya Pipin langsung membentakku.


"Hei kamu berani-beraninya telpon aku. Mana Pipin hah!!! Aku gak sudi bicara sama kamu."


Aku menghela nafas dan memberikan gagang telponnya ke Pipin. "Papamu mau bicara sama kamu."


Pipin mengambil gagang teleponnya.


"Pa... Ini Pipin pa..." Kata Pipin memulai pembicaraan.


"Kamu kenapa senekat ini Pin. Hah!!! Apa maksud semua ini. Sekarang kamu bersiap-siap untuk pulang, kenapa kamu ikut sama pengganguran itu ke kampungnya. Hah!!!"


"Pa... tolong papa mengerti perasaan Pipin... Pipin sayang sama Pram pa, Pipin yang mau ikut sama Pram pa. Pram sebenarnya gak ijinin Pipin ikut, tapi Pipin memaksa. Tolong jangan salahkan Pram pa. Ini benar-benar kemauan Pipin. Maafin Pipin pa."


"Kamu itu gak tahu disayang yaa... Papa sayang sama kamu, itu sebabnya papa melarang kamu berhubungan dengan Pram. Sudah sekarang juga kamu siap-siap pulang balik ke sini. Nanti papa kirimkan uang untuk beli tiket." kata Papanya Pipin mulai melemah suaranya.


"Pa... maafin Pipin pa.. Pipin mau ikut sama Pram pa..Pipin ingin menikah dengan Pram."


"Kalau begitu, hari ini juga kakakmu yang akan menjemput kamu, papa tidak setuju kamu menikah dengan Pram. Kamu mengerti!!!"


"Pa..tolong papa ijinkan Pipi menikah dengan Pram pa..." Pipin mulai menangis. Memohon pada papanya agar memberikan ijin dan restu untuk menikah denganku.


"Mana Pram, papa mau bicara!!!"


Pipin memberikan gagang telponnya kepadaku.

__ADS_1


"Papa mau bicara sama kamu Pram..." kata Pipin.


"Pa... Ini Pram.." Aku mencoba memberanikan diri berbicara lagi.


"Hei Pram, kamu itu mau menikahi putriku, memang kamu sudah ada pekerjaan untuk menghidupinya hah!!! Kamu akan kasi makan apa Pipin nanti kalau kamu sudah menikahinya!!! Ijasah sarjana aja baru kamu dapatkan, berkerja aja belum eee kamu berani berniat menikahi Pipin. Kamu itu tidak berfikir yaa!!!"


Aku habis-habisan disemprot papanya Pipin. Aku terdiam.


"Sekarang juga kamu pulangkan Pipin, kalau tidak aku akan menuntut kamu karena sudah melarikan Pipin. Kamu dengar itu hah. Papa serius kali ini, papa tidak main-main."


Pipin langsung merebut gagang teleponnya.


"Pa... tolong jangan lakukan itu pa... Pipin yang mau menikah dengan Pram, pram gak pernah memaksa Pipin untuk menikah dengannya. Tolong papa jangan tutut Pram pa. Pipin mohon pa... Besok Pipin akan telpon lagi pa, salamkan Pipin ke mama, tolong maafin Pipin."


Pipin langsung mematikan telpon, sementara aku terduduk lemas. Aku bingung dengan keadaan ini.


Pipin menggenggam tanganku.


"Pram... kita keluar yuk.. kita cari udara segar, biar pikiran kita bisa tenang, "ajak Pipin...


Aku memegang kepalaku yang rasanya seperti mau pecah.


"Pin... Sebaiknya kamu pulang Pin.. Aku antar kamu pulang yaa. Keadaan jadi kacau kalau kita memaksakan keadaan seperti ini." Kataku sambil mengelus pipi Pipin...


Pipin menggeleng dan menangis. "Aku mau tetap bersamamu di sini Pram, tolong jangan suruh aku pulang." Pipin menggenggam tanganku.


Aku bingung, apa yang harus aku lakukan.


Tiba-tiba aku teringat Ara... Disaat aku sedang kalut seperti ini mengapa malah wajah Ara kebayang di pikiranku.


Aku menghapus air mata Pipin.


"Pin... Kita ke rumah temanku yuk.."


Pipin mengangguk.

__ADS_1


Kemudian aku mengajak Pipin pergi ke rumah Ara.


Di tengah perjalanan Pipin bertanya, "kita mau kemana Pram?"


"Kita akan ke rumah Ara, " kataku.


" Ooh teman SMA mu yang di foto bersepedahan itu yaa Pram?"


Aku mengangguk dan kemudian diam sambil memegang kepalaku. Tak berapa lama aku menyuruh kenek angkot berhenti di depan masjid pinggir jalan.


Kemudian aku dan Pipin turun dari angkot dan memasuki sebuah gang. di dekat kuburan.


"Eeh serem Pram, ini kuburan kan? " Tanya Pipin.


"Iyaa... tapi kuburannya biasa dilewati orang-orang, jadi gak seram seperti yang kamu bayangkan."


Langkahku terhenti di sebuah rumah sederhana, dengan pintu gerbang besi warna hijau.


Aku memberi salam namun tidak ada yang menjawab salamku. Aku mengulangi memberi salam lagi.


Keluarlah seorang perempuan bertubuh pendek dengan rambut yang digelung. Pikirku mungkin ini bibi yang bekerja di rumah Ara.


"Selamat sore... Ara ada bu?" tanyaku.


"Ooh Ara lagi keluar, sedang pergi ke toko membeli bahan-bahan kue." jawabnya.


"Ooh.. kira-kira lama gak yaa?" tanyaku lagi.


" Kayaknya lama ." Jawab bibi itu singkat .


"Ooh begitu yaa... Kalau begitu tolong sampaikan ke Ara kalau aku Pramuji Wijaya cari dia yaa... Aku teman SMA Ara, " kataku sambil tersenyum.


"Ooh iyaa, nanti bibi sampaikan ke Ara."


Ada rasa kecewa karena aku tidak berhasil bertemu Ara.

__ADS_1


"Makasi bu. Kalau begitu saya pamit dulu yaa. Permisi..." Kataku sambil mengajak Pipin pergi meninggalkan rumah Ara.


Kemudian aku mengajak Pipin pulang ke rumahku. Pipin menggandeng tanganku.


__ADS_2