Cintaku Gak Salah

Cintaku Gak Salah
Ara menikah


__ADS_3

Pagi sekali sudah terbangun. Aku membersihkan rumah. Tiba-tiba aku melihat Muhlas sudah berdiri di pintu gerbang rumahku.


Muhlas memberi salam, kemudian aku menjawab salamnya.


"Maaf Ara, aku pagi-pagi sudah bertamu. Kamu gak marah kan?" Tanya Muhlas.


Aku tersenyum dan mempersilahkan Muhlas masuk.


"Ara... bagaimana apa kamu sudah punya jawaban? " Muhlas langsung bertanya setelah duduk di ruang tamu.


"Yaa, aku sudah pikirkan baik-baik. Cuma apakah kamu sudah pikirkan baik-baik keinginanmu itu? Sementara kita belum lama kenal . Aku belum tahu bagaimana sifat-sifatmu dan begitu juga sebaliknya." Jawabku.


"Ara... Memang kita belum lama kenal, tapi aku sudah merasa nyaman dan cocok denganmu. Aku tidak mau pacaran karena aku merasa tidak banyak manfaat dengan pacaran itu. Malah aku takut nanti kita bisa khilaf dan melakukan hal-hal yang dilarang agama. " Muhlas meyakinkan aku.


"Baiklah, aku bersedia, dan setuju dengan pandanganmu tentang pacaran. "


Muhlas tampak bahagia, kemudian Muhlas bertanya," Kapan aku bisa melamar mu secara resmi di depan orang tuamu?"


"Nanti biar aku bicarakan dulu dengan kedua orangtuaku."


Muhlas mengangguk. "Ara... kabari aku secepatnya yaa... Karena aku ingin segera menikahimu."


Aku mengangguk.

__ADS_1


Muhlas mampir hanya sebentar, hanya untuk menanyakan jawabanku atas pertanyaannya semalam. Kemudian Muhlas pamit pulang. Dan Muhlas berencana akan datang nanati malam.


Saat selesai makan siang, aku menyampaikan keinginan Muhlas untuk melamarku..


Kedua orang tuaku setuju sekali. Kemudian papa dan mama menyuruh aku agar Muhlas nanti malam datang ke rumah dan aku mengiyakan karena memang Muhlas berjanji akan datang nanti malam


Malamnya Muhlas datang dan mengutarakan keinginannya kepada kedua orang tuaku untuk menikah denganku. Orang tuaku dan Muhlas membicarakan soal persiapan-persiapan yang harus dilakukan.


Akhirnya sepakat Muhlas akan membawa keluarganya untuk melamarku minggu depan di saat hari ulang tahunku.


***


Malam itu sudah berkumpul keluargaku dan keluarga Muhlas. Keluarga Muhlas resmi melamarku.


Kemudian pembicaraan tentang berbagai macam persiapan pernikahan dimusyawarahkan. Dan diambil keputusan bahwa pernikahan akan diadakan seminggu setalah lamaran.


Pernikahan dibuat sederhana aja, karena memang keluarga Muhlas bukan dari kalangan berada. Muhlas anak sulung dari lima bersaudara. Jadi Muhlas adalah tulang punggung keluarganya.


Acara pernikahan diadakan di rumahku. Proses demi proses pernikahan berjalan lancar. Aku tak mengundang banyak teman. Hanya beberapa saja, demikian juga dengan Muhlas.


Undangan sebagian besar dari pihak keluarga dan tetangga saja.


"Selamat Ara...Semoga bahagia dan rukun selalu yaa..." Wisnu memberikan ucapan selamat dan doa.

__ADS_1


"Makasi yaa Wis.. "kataku sambil tersenyum.


Semua undangan memberikan ucapan selamat kepada kami berdua.


Setelah acara selesai, Muhlas menemuiku di kamar. Kemudian aku mencium tangannya.


"Ara... Aku bahagia sekarang kamu sudah menjadi istriku. Aku akan membahagiakan mu, aku janji." Kata Muhlas sambil mencium keningku. Aku tertunduk dan mengangguk.


"Kamu bahagia Ara?"


"Yaa... Aku bahagia...Aku akan berusaha menjadi istri yang baik."


Muhlas mencium tanganku. Kemudian Muhlas keluar kamar karena papaku memanggilnya.


"Muhlas, keluarga sudah siap semua. Sekarang kita akan ke rumahmu. Apakah keluargamu sudah siap menerima kedatangan kita? "Tanya papa.


"Iya pa... Di rumah sudah ada keluarga Muhlas yang menunggu. Jadi kita tinggal berangkat saja pa." Jawab Muhlas.


"Baiklah, sekarang kita siap-siap berangkat."


"Iya pa..."


Selesai acara pernikahan, keluarga Muhlas langsung memboyongku pulang ke rumahnya. Keluarga besarku ikut mengantarku ke rumah Muhlas.

__ADS_1


Sesampainya di rumah Muhlas sudah ada keluarga yang menyambut kedatangan kami. Masih terasa suasana pedesaan dengan rasa kekeluargaan yang kental.


Sekarang aku resmi dan sah menjadi istri Muhlas.


__ADS_2