
PRAM
Hari aku sudah lebih baik daripada kemarin. Aku bersyukur akhirnya aku bisa sembuh.
Namun aku tak tenang karena chatting terakhir Ara.
Aku bersiap akan ke kantor.
" Bu... Papa jalan dulu yaa... Ibu istirahat aja yaa, jangan kerjain pekerjaan rumah. Nanti biar Papa ma anak-anak yang beresin." Aku mencium kening istriku sebelum berangkat.
"Iya Pa... Hati-hati di jalan. Tapi hari ini kan Papa baru keluar. Papa jangan terlalu capek dulu yaah..." Pipin istriku menyalamiku.
Aku mengangguk dan pergi.
Aku menuju alun-alun kota. Aku tidak langsung ke kantor dan kebetulan Rahma juga sedang ikut pelatihan di balai kota.
Aku memarkir motorku, dan aku mengirim pesan ke Ara. Sudah 2 hari aku tak tahu kabar Ara.
"Ara...."
Pesanku belum dibaca Ara padahal aku melihatnya sedang aktif online.
Aku menunggu, aku berniat ingin membeli rokok namun kuurungkan karena aku teringat pesan Ara. Hmmmm....
Akhirnya aku memesan minuman jeruk hangat, seperti yang sering disaranin Ara.
Kebetulan di dekatku duduk, ada warung angkringan.
Sampai minuman yang kupesan datang, namun Ara tidak juga membaca pesanku.
__ADS_1
Aku memberanikan diri menelponnya. Tiga kali berdering barulah tersambung.
"Ara ..."
"Iyaa Pram... Gimana keadaanmu? Sudah sehatkah?"
"Iyaa Ar..." Aku ingin melihat Ara namun aku takut kalau Ara tak mau menerima panggilan videoku.
"Syukurlah... Aku seneng banget liat kamu sudah sehat Pram."
Aku diam.
"Pram...."
"Iyaa Ar ..."
"Kok diem sih ... Gimana keadaan mbk Pipin?"
"Syukurlah... Aku senang dengernya Pram."
"Ar... ada yang ingin aku omongin."
"" Iyaa Pram...Aku dengerin."
"Ar ... Aku tak mengerti dengan pesanmu waktu itu. Apa maksudmu?"
"Pram.... Maafin aku. Aku akan jelasin semuanya Pram."
Aku diam saja, mendengar apa alasan Ara.
__ADS_1
" Pram... Kamu pernah bilang, rasakan cintaku dengan hatimu. Sekarang aku ingin kamu juga merasakan cintaku dengan hatimu."
"Ar ... Aku ingin melihatmu, aku ingin melihatmu saat kamu menjelaskan semuanya...Please..."
"Tapi Pram..." Kata Ara namun aku langsung mengalihkan ke panggilan video.
Awalnya Ara tak msu menerimanya, namun akhirnya Ara menerimanya.
Ternyata Ara sedang menangis.
"Ar... Aku tahu dan bisa rasakan cintamu, sayangmu. Kenapa kamu harus menulis pesan seperti itu. Hmmm... "
Ara menghapus air matanya dan menatapku.
"Pram... Kamu tahu dan bisa rasakan perasaanku kan.... Aku terpaksa lakukan ini semua Pram. Dulu kamu pernah bilang, apa bukti aku menyayangimu. Kamu selalu bilang kalau perasaanku hanya emosi sesaat bahkan kamu bilang kalau aku hanya terobsesi saja. Yaa.... Ini saatnya aku membuktikan bahwa aku benar-benar sayang dan cinta ma kamu." Ara kemudian menunduk.
"Ar... kamu tak perlu membuktikan apa-apa Ara...Aku percaya." Kutatap wajah keibuan Ara. Aku ingin memeluknya namun yaaah...
" Waktu kamu sakit kemarin, aku takut kalau kamu akan pergi jauh meninggalkanku. Aku sayang kamu Pram, sangat menyayangimu. Aku takut kehilanganmu. Namun melihatmu sembuh, aku bahagia karena kamu tetap bisa kulihat, bisa tetap ada di sampingku. Mengertilah Pram, ini semua karena aku takut kehilanganmu. Ijinkan aku menepati janjiku pada Tuhan, Pram ."
"Tapi Ar...Aku ..." Belum selesai aku bicara Ara sudah memotong pembicaraanku.
"Pram...Inilah takdir kita."
Aku menatap Ara yang menangis.
Aku tahu dan bisa rasakan rasa sayang dan cinta Ara padaku. Yaah aku mengerti.... Betapa berat Ara mengatakan ini semua.
"Pram... Aku gak mau kita berjalan dengan perasaan bersalah dengan mengatasnamakan sayang dan cinta kita. Aku berharap kamu mengerti. Biarlah semuanya kita serahkan pada ketentuan Tuhan. "
__ADS_1
"Iyaa Ar... Aku mengerti... " Kataku.