
Aku masih menjalani berobat jalan setelah pulang dari rumah sakit. Semakin hari keadaanku semakin membaik.
Aku istirahat total seperti yang disarankan oleh dokter. Aku sebenarnya ingin ke kantor hari ini tapi istri dan anak-anakku melarang ku.
" Pa ... Istriarahat dulu dah lagi 1 minggu saja. Yaa..." Kata Istriku membujukku.
"Papa pingin ke kantor Bu, Papa bosan di rumah terus." Kataku.
"Pokoknya gak boleh. Hari senin depan Papa boleh ke kantor."
Aku membuang nafasku, kesal. Aku bosan di rumah terus, apalagi aku merasa kesehatanku sudah membaik.
"Sekarang Papa minum obat dulu terus istirahat."
Aku diam saja.
"Pa.... Ngambek yaa..."
Aku menggeleng malas menjawab. Aku langsung menuju kamar. Aku mencari handphone ku tapi tak kutemukan.
"Bu... Handphoneku mana?' Tanyaku.
" Oh ini Pa, tadi Adek nelpon mau tanyain apa gitu ibu gak ngerti, soal kerjaan. Maaf Ibu lupa kasi tahu Papa. Tadi Papa lagi di kamar mandi waktu adek nelpon."
Aku mengambil handphone ku. Kemudian menelpon Rahma, anakku.
Setelah selesai telponan dengan Rahma, aku melihat telpon dan pesan yang masuk.
"Bu... Papa mau tidur dulu yaa..."
__ADS_1
"Iya Pa...."
Aku membuka media sosialku. Aku menghabiskan waktuku sampai akhirnya aku tertidur.
Aku terbangun karena istriku yang membangunkanku untuk makan siang.
"Pa... Ayo bangun dulu, kita makan yuk...," ajak istriku.
Aku mengucek mataku, dan mengangguk.
" Yusuf sudah pulang Bu?"
"Sudah Pa... Itu lagi nungguin Papa untuk makan siang." Kata istriku.
"Lho kok dibiarkan sih nungguin Papa bangun. Kasian Yusuf kan Bu..."
Aku langsung bangun dari tidurku setelah semua nyawaku terkumpul. Kulihat Yusuf sedang menonton TV. Akupun menghampirinya.
Yusuf tersenyum.
" Kita makan yuk...." Ajakku dan Yusufpun mengangguk.
Saat di meja makan aku melihat bagaimana Yusuf lahap menyantap makan siangnya.
" Yusuf.... Lain kali kalau kamu sudah lapar sebaiknya makan saja duluan yaaa.... Gak usah tunggu Papa..."
"Gak enak makan sendiri Pa... Gak apa-apa kok Pa... Yusuf tunggu Papa aja. Paling Papa juga gak tahan kok kalau makan terlambat. Ya kan...." Yusuf melirikku dan tersenyum.
Aku tertawa mendengarnya.
__ADS_1
Tak berapa lama datang Sabila dan Rahma. Mereka langsung ikut duduk untuk makan siang. Istriku mengambilkan nasi untuk mereka berdua.
"Sabila... Gimana seneng sekarang ke kantor?" Tanyaku. Sabila mengangguk.
" Iyaa Pa... Seru juga yaa ternyata jualan online. Saat ada yang deal dengan customer tu ada kepuasan sendiri yaa Pa." Kata Sabila.
"Iyaa Nak.. Jadi nanti coba cari bagaimana strategi pemasaran lewat online...."
Sabila mengangguk. Begitulah obrolan-obrolan kami di saat makan siang.
"Pa... Sepertinya Papa istirahat saja di rumah, biar Adek ma kak Sabila yang urus kantor dan jualan online..." Kata Rahma.
" Wah, Papa kok sudah mau dipensiunkan sih... Papa kan masih muda." Kataku menggoda Rahma.
Semua tertawa....
"Papa ne gak sadar yaa kalau sekarang Papa tu dah tua, jadi yaaa memang harus pensiunlah." Kata Rahma. Sabila manggut-manggut.
"Kata siapa Papa sudah tua? Papa kan umurnya masih 20 tahun, wong Papa masih ganteng kok... Iya kan Bu,Suf..." Aku melirik istriku dan Yusuf.
Yusus tertawa sedangkan Sabila dan Rahma memanyunkan mulutnya. Aku tertawa......
"Pa ... Kita sayang sama Papa, itu sebabnya kita nyuruh Papa untuk istirahat aja di rumah." Kata Rahma.
" Iyaa Dek ... Kalau sekarang oke Papa setuju untuk istirahat dulu. Tapi ntar kalau Papa dah benar-benar sehat Papa akan ikut bantu di kantor. Yaa papa cuma ngecek aja. Jadi posisinya Papa jadi bos kalian...." Kataku.
"Siap Bos..." Kata Rahma.
Aku tersenyum.
__ADS_1
Aku memperhatikan anak-anakku satu persatu. Mereka tampak bahagia dengan aktivitas mereka sekarang. Dan istriku sudah lebih baik kesehatannya dari sebelumnya.