Cintaku Gak Salah

Cintaku Gak Salah
Ara dirawat di rumah sakit


__ADS_3

Aku bersiap akan ke kantor hari ini. Aku menganttar Yusuf ke sekolah dulu baru aku langsung ke kantor.


Aku tak mampir ke percetakan, karena sejak aku sakit bila hari, Rahma yang mengurus orderan ke percetakan. Sabila standby di kantor.


Sedangkan aku, pulang dari mengantar Yusuf sekolah, langsung menemani Sabila di kantor. Aku sudah tidak mengantar paket lagi ke pelanggan tapi aku bekerjasama dengan seorang teman untuk membantu pengantaran orderan ke pelanggan.


Aku dan Sabila bertugas di bagian pemasaran dan promosi.


Usahaku semakin maju dan lebih teratur. Ini semua ide anakku Rahma.


Sampai di kantor aku langsung membuka pesan-pesan yang masuk, siapa tahu ada orderan yang masuk.


Aku berusaha untuk konsentrasi membuat gambar yang diminta pelanggan tapi setengah jam aku kotak-katik tapi gak juga selesai.


Aku kepikiran Ara yang sampai saat ini gak aktif. "Kamu kenapa Ar... Aku khawatir Ar..." Kataku dalam hati.


Aku menghela nafas panjang... Aku keluar dari kantor, aku uring-uringan.


"Sabila... Papa mau ke warung bentar yaa..." Kataku pada Sabila.


"Papa mau beli apa? Biar Sabila yang beliin. Iya Pa ..."


Aku menghela nafas. Bagaimana mungkin aku menyuruh Sabila yang ke warung, karena aku ingin membeli sebatang rokok. Pasti Sabila bakal marah besar.


"Kenapa Pa? Papa mau beli apa? "


Aku menggeleng. Aku teringat Ara, saat aku sakit Ara melarangku merokok demi paru-paruku yang sedang error waktu itu.

__ADS_1


"Gak jadi. Papa cuma ngantuk. Papa tiduran dulu di belakang yaa..." Kataku beranjak menuju ruang kecil di pojokan.


"Pa... Kalau Papa kurang sehat, sebaiknya Papa pulang aja. Biar Papa bisa istirahat dengan baik."


"Papa baik-baik aja kok, cuma ngantuk aja. Papa tiduran bentar."


Sabila kemudian melanjutkan pekerjaannya.


Aku menatap langit-langit kamar, pikiranku tak tenang. Aku ingin menelpon Ara, tapi aku tak ingin istriku terluka dan berfikir yang tidak-tidak lagi padaku dan Ara.


Aku menenangkan diriku. Aku berdoa semoga Ara baik-baik saja. Semoga Ara hanya sibuk aja.


Aku bermain-main dengan pikiranku sendiri hingga akhirnya aku tertidur.


Rahma membangunkan aku.


"Pa... Ibu minta Papa pulang, ditunggu makan siang ma Ibu."


"Iyaa Pa... Kita pulang yuk... Yusuf sudah pulang sekolah, tadi dijemout ma kak Sabila." Kata Rahma.


"Ooh iyaa yaa... Yuk kita pulang." Ajakku.


Kemudian kami pulang, dan sesampainya di rumah kami langsung menyantap makan siang sederhana yang disediakan istriku.


Selesai makan siang, aku langsung ke kamar. Aku duduk di pinggir kasurku.


Istriku tak berapa lama juga ikut masuk kamar.

__ADS_1


"Lho kok tumben Papa habis makan gak ke teras, malah ke kamar. Ada apa Pa..." Tanya istriku.


" Papa dari pulang nganter Yusuf ke sekolah ngantuk Bu... Tadi di kantor Papa juga tidur, ee bangun-bagun ternyata sudah siang."


"Ibu pijetin yaa Pa..." Aku mengangguk.


Istriku mulai memijitku. Aku merasa kegelisahanku berkurang saat aku merasakan setiap sentuhan pijatan istriku.


"Papa gak sesak nafas kan?"


"Gak Bu, cuma kayaknya Papa lelah sekali."


"Ooh kalau begitu obat yang paling tepat buat Papa sekarang ini tidur Pa. Mungkin Papa kecapean sekali."


"Iya Bu. Papa tidur dulu yaa..."


Istriku mengangguk.


"Pa... Ada yang ingin ibu sampaikan, tapi Papa yang tenang yaa..."


Aku langsung bangun dari tidurku dan duduk di hadapan istriku. Perasaanku tak enak.


"Ada apa Bu?" Tanyaku.


"Ara dirawat di rumah sakit Pa..."


Aku seperti disambar petir. Namun aku beruasaha menenangkan pikiranku.

__ADS_1


"Ara sakit apa Bu?


Istriku menangis kemudian memelukku. Aku merasa lemas. Pikiran menerawang tak jelas.


__ADS_2