
Sampai di rumah, aku istirahat sebentar. Pipin pergi ke kamar adikku untuk beristirahat.
Setelah aku sholat, aku dipanggil papa ma mamak.
"Kamu dari mana saja tadi Pram?" Kata mamak.
"Tadi aku pergi ke wartel, menelpon papanya Pipin." jawabku singkat. Kulihat pandangan papaku yang tidak mengenakkan hati.
"Hmm... Bagaimana keputusannya? Apa kata papanya Pipin?" Kata papaku sambil memandangku tajam.
Aku bingung menjelaskan kepada kedua orang tuaku.
"Kenapa kamu diam saja nak? Jawab pertanyaan papamu. Apakah papanya Pipin mengijinkan kamu menikahi putrinya?" Tanya mamak dengan nada lembut.
Aku menggeleng dan menunduk.
"Trus sekarang bagaimana? Apa mau papanya Pipin?" Nada papa semakin tinggi.
"Pa, Papanya Pipin minta supaya Pipin pulang balik. Kalau tidak papanya akan menuntut Pram." Jawabku memberanikan diri mengatakan apa adanya. Namun aku tetap menunduk.
"Ooh papanya Pipin tu mau main-main yaa sama papa!!! "
"Kalau begitu besok kamu antar Pipin balik ke rumah orang tuanya. Ini yang papa gak mau Pram. Kamu tu belum bekerja, masak sudah bawa lari anak gadis orang. Cari masalah saja!!!" Papa melanjutkan marahnya.
"Iya Pa.." jawabku sekenanya.
Tuba-tiba Pipin muncul dari pintu kamar adikku.
"Pa... maafin Pipin. Boleh Pipin ikut bicara?" Pinta Pipin.
Ibu menggaguk kemudian menyuruh Pipin duduk di kursi yang kosong.
__ADS_1
"Pa, ini bukan salah Pram pa.. Ini salah Pipin. Pipin yang ingin segera menikah dengan Pram. Besok Pipin akan bicara lagi dengan papa Pipin."
"Maafin Pipin Pa..Ma.. Sikap Pipin ini sudah membuat Pram dan keluarga dalam masalah." Kata Pipin sambil menangis.
Mamak menghampiri Pipin, kemudian mamak mengelus rambut Pipin dengan lembut.
"Sudahlah nak, jangan menangis yaa... Semua sudah jalanNya... Iyaa.. Besok kamu coba telpon papamu lagi yaa." Kata mamak menenangkan Pipin.
" Makasi ma..." Kata Pipin sambil menghapus air matanya.
" Jadi besok kamu Pipin, telpon papamu yaa bicarakan baik-baik, semoga ada jalan keluar." Kata Papa.
Kemudian papa dan mama meninggalkan kami berdua.
"Pin, kita duduk di teras yuk..." ajaku.
Pipin mengangguk dan mengikuti aku menuju teras.
"Kamu sudah lihat keadaan keluargaku, aku bukan orang berada dan aku mungkin gak bisa mencukupi kebutuhan materi seperti yang kamu dapatkan dari kedua orang tuamu. " Kataku sambil memandang langit yang bertaburan bintang-bintang.
"Pram, aku sangat mencintaimu, dan aku sudah cukup bahagia berada di sisimu. Aku gak butuh harta materi, kamu mencintaiku sudah cukup bagiku." Kata Pipin meyakinkan aku.
Pandanganku masih jauh ke langit.. Aku menghela nafas.
"Pram.. Tolong maafin papaku yaa.. Besok aku akan telpon papa lagi... Please tolong jangan diam saja." Pipin mendekati aku dan berdiri di dekatku.
Aku memandang Pipin, dan tersenyum... Kemudian aku mengangguk .
"Sekarang kamu masuk dulu yaa... Istirahat duluan. Aku masih ingin sendiri di sini dulu."
Pipin mengangguk. "Tapi Pram, kamu juga jangan terlalu malam tidur yaa.." Kata Pipin dan tersenyum.
__ADS_1
Kemudian Pipin masuk untuk tidur di kamar adikku.
Aku masih duduk di teras, masih memikirkan apa yang harus aku lakukan. Bermacam-macam pikiran bermain-main di kepalaku. "Smoga ada jalan keluar," kata hatiku.
***
PIPIN
Pagi ini aku menelpon papa
"Pa... Ini Pipin Pa..."
"Yaa... nanti kamu pulang yaa, papa akan belikan kamu tiket pesawat supaya kamu bisa segera pulang." Kata Papa
"Pa... Tolong papa ngertiin Pipin. Jangan salahkan Pram, dia gak salah Pa... Pram sudah ngelarang Pipin untuk ikut tapi Pipin yang maksa ingin ikut Pa.."
" Sudah cukup. Papa gak mau denger kamu bela laki-laku itu terus. Papa ingin kamu segera pulang. Itu saja, Titik jangan bantah papa kali ini." Papa berbicara di telpon dengan nada tinggi.
"Maafin Pipin pa... Sekali ini Pipin gak ngikutin apa kata papa. Ijinkan Pipin menikah dengan Pram kalau memang papa sayang ma Pipin." Aku memohon agar papa memberikan ijin.
"Tidak!!! Papa tetap gak setuju. Besok kakakmu akan ke sana jemput kamu, dan kalau kamu tetap gak mau, papa betul-betul akan menuntut Pram!!!" Ancam papa.
"Kalau begitu papa gak sayang ma Pipin. Biar Pipin menghilang selamanya kalau papa lakukan itu. Semua ini salah Pipin pa, karena Pipin begitu mencintai Pram. Selamat tinggal Pa.." Ucapku sambil menangis karena aku putus asa.
"Pa... tolong sampaikan salam hormat dan sayang Pipin ke mama, Pipin sangat sayang ma mama. Dan Pipin juga sangat sayang ma papa. Maafin semua selah Popin pa.." Aku semakin menangis.
Pram memelukku, menenangkan aku. Aku pasrah, aku gak tahu lagi apa yang harus aku lakukan dan katakan kepada kedua orangtuaku agar mereka mau mberikan ijin dan restu kepadaku.
"Pin... Kamu jangan berfikir macam-macam nak... Ini mama nak.. Nanti mama telpon lagi ya nak, jangan berfikir macam-macam yaa sayang... Mama akan berusaha meyakinkan papamu. Kamu baik-baik di sana yaa.." Tiba-tiba kudengar suara mama di telpon.
"Maa... Pipin sayang mama... Tolong Pipin kali ini yaa...Tolong yakinkan papa yaa ma.. Pipin mohon ma.." kataku sambil menangis.
__ADS_1
" Iya nak... mama akan berusaha sayang... Sekarang tutup dulu telponnya, besok telpon mama lagi yaa sayang... Mama sayang kamu nak..." Mama menutup telponnya.