
Sampai rumah, Sabila sudah menyiapkan bubur untukku. Aku terpaksa memakannya, namun aku merasa sungguh hambar bubur yang kumakan.
"Pa... Papa harus paksa makan buburnya. Ibu suapin yaa... " Kata istriku.
Aku memandang istriku yang masih tampak pucat dan lemas.
Aku mengangguk dan tersenyum. " Biar Papa makan sendiri yaa Bu... Ibu tiduran aja di sebelah Papa yaa.... Papa gak mau ibu sakit. "
"Tapi Pa...." Aku langsung memotong kata-kata istriku.
"Husss .... Bu... Papa sayang ma ibu, sayang banget. Papa pingin ibu benar-benar sehat. Sekarang ibu istirahat yaa ..."
Istriku mengangguk menuruti kata-kataku dan tidur di sebelahku, memelukku.
Aku menghabiskan buburku. Kemudian Rahma memberiku obat-obat yang harus kuminum.
Aku memandang anak-anakku yang berdiri di hadapanku. Aku melihat wajah khawatir mereka. Betapa tidak, pasti mereka sangat khawatir karena kedua orang tuanya sakit.
Aku terpikir kata-kata Ara dalam pesannya tadi siang. Aku harus semangat untuk sembuh, demi istri dan anak-anakku yang sangat membutuhkanku.
__ADS_1
"Anak-anak Papa gak usah sedih gitu dong.... Sini duduk dekat Papa ma ibu." Kataku. Kemudian anak-anakku duduk di dekat tempat tidur tua kami. Rahma memijat kakiku, sementara Sabila memijat kaki ibunya. Dan Yusuf duduk di dekatku, memelukku.
Pipin berusaha bangun, dan duduk memelukku.
"Sekarang dengarkan kata-kata Papa yaa.... Istriku...Papa sayang ma ibu, sangat sayang sampai Papa pilih ibu menjadi teman hidup Papa. Itu karena Papa tahu dan yakin siapa orang yang Papa sayangi. Maafkan selama ini Papa belum bisa bahagiakan ibu." Kataku dengan nafas tersengal-sengal.
Istri dan anak-anakku menangis.
"Ibu bahagia Pa. Ibu yang minta maaf belum bisa jadi istri yang baik buat Papa. Ibu sering marah-marah dan ngomel. Maafin ibu yaa Pa.." Kata istriku pelan.
Aku tersenyum, kukecup kening istriku.
"Iyaaa... Papa sayang ma kalian semua... Jangan khawatir dan sedih... Papa akan sembuh. Papa yakin Papa akan sembuh, karena ibu ma anak-anak Papa masih butuhin Papa. Papa akan semangat untuk sembuh. Kalian penyemangat Papa...Papa sayang kalian semua." Kataku dna tersenyum.
Aku dan istriku mengangguk hampir bersamaan.
"Sabila juga selalu doa monta kesembuhan untuk Papa ma ibu. " Kata Sabila dengan air mata yang masih bercucuran.
Yusuf memelukku erat.
__ADS_1
"Pa... Yusuf sayang Papa ma ibu."
Aku terharu, namun aku tak ingin menangis di depan anak-anakku. Aku harus tegar.
"Iyaa sekarang, Papa ma ibu mau tidur dulu, iatirahat. Kalian juga harus istirahat yaa..." Kataku.
Anak-anakku menganggu. Rahma menghapus air matanya, begitu juga Sabila.
Kemudian anak-anakku keluar dari kamarku. Tinggalah aku dan istriku.
"Bu... Ibu harus punya semangat untuk sembuh. Ibu harus sembuh untuk kuatkan Papa. Untuk temanin Papa. Yaa..." Kupeluk istriku.
Istriku menangis dalam pelukanku.
"Papa juga harus semangat untuk sembuh, temenin ibu yaaa..." Aku mengangguk.
Mungkin karena pengaruh obat, aku akhirnya tertidur.
Aku tidur nyenyak sekali. Dan aku terbangun tengah malam. Aku merasa nafasku sudah agak longgar. Aku sangat bersyukur.
__ADS_1
Aku bersimpuh dan berdoa, untuk kesembuhan istriku. Kupandangi wajah tirusnya. Aku sangat menyayanginya.
Kemudian aku melanjutkan tidurku, dan berharap esok hari kesehatanku akan semakin membaik.