Cintaku Gak Salah

Cintaku Gak Salah
Ara kritis


__ADS_3

ARA


Sudah hampir seminggu aku dirawat di rumah sakit. Demamku gak turun-turun.


Aku merasa begitu lemah. Nafsu makanku tidak ada.


Aku pasrah akan keadaanku.


Kemarin Pram dan mbak Pipin menelpon suamiku. Dan aku dapat berbicara sebentar karena aku benar-benar lemah dan tak bertenaga.


Pram dan mbak Pipin memberiku semangat, aku senang dan bahagia sekali. Aku dapat berbicara dengan mbak Pipin. Aku lega sudah meminta maaf padanya atas semua salahku padanya.


Aku pun ingin sembuh namun aku tak berdaya. Hanya semangat dan doa yang kupunya. Aku ingin sembuh.


Suamiku sangat setia menungguku. Dia selalu menemaniku, dia selalu menyemangati ku.


Anak-anakku sangat khawatir akan keadaanku. Aldi dan Arjun ingin pulang namun keadaan tak memungkinkan karena saat ini mereka sedang semesteran. Sedangkan Arini dan Azka di rumah di temani Bibi.


Kadang Arini da Azka mampir menjengukku sepulang mereka sekolah. "Mama harus sembuh, adek kangen ditemani tidur Ma..." Kata Arini. Sementara Azka hanya menatapku sedih.


Aku sangat sedih melihat anak-anakku, mereka pasti kehilangan sosok ibu saat aku tak ada di rumah.


Sedangkan untuk urusan toko, sementara di handle Siti. Tapi sesekali suamiku menyempatkan diri menyambangi toko sebentar melihat keadaan.

__ADS_1


"Ma ... Ini Papa belikan puding kesukaan Mama, dimakan dulu yaa..." Kata suamiku yang baru datang dan membawakan aku puding.


Aku menggeleng... Keinginan untuk makan itu yang hilang. Aku hanya ingin tidur rasanya aku lelah sekali.


"Maa... Makanlah puding ini sedikit aja Ma... Yaa..." Suamiku agak memaksa.


Akhirnya aku mengangguk. Kemudian suamiku menyuapiku. Baru setengah kumakan puding itu, tiba-tiba aku merasa kenyang, aku tak sanggup menghabiskannya. Sementara badanku terasa lemas banget.


Suamiku mengusap dahiku. Lho Ma .. Kok demamnya naik lagi?"


Aku hanya tersenyum dan kemudian memejamkan mataku.


Tiba-tiba nafasku terasa sesak, dan pandanganku kabur.


Perawat berdatangan dan memeriksaku. Dan tak lama datang pula dokter jaga di sana. Mereka memeriksa keadaanku.


Aku merasa ngantuk sekali, dan lemas. Aku mendengar suamiku berteriak memanggil namaku.


Aku benar-benar tak berdaya.


Dokter memeriksa keadaanku. Tekanan darahku drop. Kemudian dokter mrnyuruh perawat mengambilkan obat. Yang kemudian disuntikkan ke tubuhku.


Aku hanya bisa pasrah dan dalam ketidakberdayaanku aku berdoa.

__ADS_1


"Kumohon sembuhkanlah aku, Tuhan.... Hanya kepadaMU aku memohon dan berlindung...Sembuhkanlah aku Tuhan..."


Aku ingin berteriak namun suaraku tak bisa keluar. Dadaku terasa sesak dan sakit sekali.


Setelah kondisiku agak stabil, suamiku diperbolehkan masuk.


MUHLAS


"Silahkan Pak... Sekarang Bapak bisa temani ibu lagi." Kata salah satu perawat dan mempersilahkan aku masuk.


Aku duduk lemas di pinggir ranjang istriku. Aku menangis.


Aku berkata pada Ara istriku, walaupun dia tertidur setelah diberi suntikan obat oleh dokter.


" Ma....Aku sayang dan cinta banget ma Mama.... Kuatlah.... Lihat anak-anak kita Ma .. mereka membutuhkanmu."


Aku menggenggam tangan istriku, kucium. Aku menangis. Aku takut terjadi yang tidak kuinginkan pada istriku.


Kemudian aku berbisik pada istriku..."Maa... Aku tahu kamu kuat Ma... Sembuhlah... Please semangat sayangku. Lawan sakitmu. Aku membutuhkanmu, anak-anak membutuhkanmu. Aku berjanji akan membahagiakanmu..."


Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku hanya bisa menangis dan berdoa untuk kesembuhan istriku.


Aku sudah sering membuatnya kecewa dan menangis. Aku berjanji pada diriku sendiri, aku akan memperbaiki diriku dan lebih perhatian pada istriku. Aku akan membahagiakannya...

__ADS_1


__ADS_2