Cintaku Gak Salah

Cintaku Gak Salah
Penjelasanku, bukan pembelaan diri


__ADS_3

Keesokan harinya aku memilih tidak banyak bicara. Aku melakukan aktivitasku sebagai ibu rumah tangga seperti biasa.


Selesai sarapan, aku duduk menikmati teh hangat ku. Suamiku menghampiriku, kemudian duduk di hadapanku.


"Hari ini Mama jualan?" Tanya suamiku.


Aku menggeleng pelan, dan meneguk tehku.


"Mau aku buatka kopi Pa?"


" Ya boleh."


Aku kemudian membuatkan secangkir kopi untuk suamiku kemudian aku suguhkan.


Aku kembali duduk di tempatku tadi sambil memegang handphone ku.


Aku melihat suamiku juga sedang sibuk dengan handphonenya.


Untuk beberapa saat suasana hening...

__ADS_1


" Ma... Ingat pembicaraan kita semalam. Aku tidak ijinkan kamu berhubungan dengan Pram lagi. Dalam bentuk apapun. Baik telponan ataupun saling kirim pesan. Tidak bekerjasama dengan dia dalam bentuk apapun!!!" Kata suami tegas sambil menatap tajam mataku.


Aku mengiyakan dengan mengangguk.


"Aku tidak mau mendengar istri Pram mengatakan kamu masih ada hubungan dengan suaminya!"


"Iya."


"Aku berfikir untuk memberitahukan Mamamu soal ini. Supaya Mama bisa menasehati dan mengajarmu."


"Cukup Pa. Aku sudah katakan semalam, aku tidak ingin Mamaku tahu demi mamaku karena Papa tahu kan kalau Mamaku sakit-sakitan. Tapi kalau Papa tetap berkeras untuk memberitahu Mamaku, itu artinya aku tak akan balik ke rumah ini. Itu aja! " Kataku tegas sambil menatap suamiku.


" Bukan itu maksudku Ma... Aku hanya ingin Mamamu tahu. Itu saja."


"Tapi Ma ..."


"Pa . . Aku mohon sama Papa, tolong ini cukup antara kita berdua aja. Aku ingin terus terang ke Papa. Tolong dengarkan penjelasanku." Kataku.


Suamiku mengangguk dengan mimik kesal sambil melepas handphonenya.

__ADS_1


"Tolong Papa dengerin dulu sampai aku selesai" Kataku.


"Iya lanjutkan!"


"Pa... Maafkan aku, aku memang sayang dan cinta Pram. Perasaan itu muncul begitu saja. Aku tak tahu kapan awal mulanya. Aku merasa nyaman dengan dengannya walaupun aku berhubungan dengannya hanya lewat handphone Pa. Walaupun kami tidak bertemu langsung."


Aku menjelaskan ke suamiku apa adanya. Aku bukan berniat untuk membela diri, tapi aku ingin suamiku tahu apa sebabnya aku bisa menyayangi Pram.


Setelah mendengar penjelasanku, suamiku mengangguk dan menatapku geram.


"Jadi itu yang buat kamu suka ma dia! Kamu gak berfikir hubunganmu salah!!!"


"Aku tidak membenarkan apa yang sudah aku lakukan. Salah tetap salah dan buruk tetap buruk. Cuma aku ingin Papa tahu bahwa hubunganku tidak seperti yang Papa bayangkan. Aku dan Pram berjauhan, kami tidak pernah bertemu kecuali dulu waktu kita ke kota X. Dan itupun aku bertemu dengannya di depan Papa. Hanya itu, dan selebihnya kami memberikan perhatian hanya lewat handphone Pa. Itupun Pram menghubungiku hanya untuk tahu keadaanku saja.


"Pram menjadi sandaranku saat aku punya masalah saja. Saat kamu hanya peduli ma keluarga besarmu saja. Saat kamu sibuk dengan nafsumu saja untuk poligami di saat aku tak bisa melayanimu sebagai istri. Jadi harusnya Papa tahu, aku sayang dan cinta ma Pram karena aku sadar dia sangat mencintai dan menyayangiku. Tidak seperti Papa,yang hanya karena aku memiliki kelemahan langsung berniat untuk poligami. Sebesar itu cinta papa ke aku??? Tapi sudahlah... Aku gak nyalahin Papa, aku mengerti. Tapi Papa perlu tahu, waktu ada isu kota kita akan dilanda tsunami besar waktu itu, Pram datang ke sini Pa. Begitu besar rasa sayangnya padaku, itu yang membuatku semakin sayang dan cinta Pa. Maafkan aku."


"Pram sayang dan cinta ma aku sejak kami masih duduk di bangku SMA, dia memendam perasaannya karena berfikir aku punya tunangan waktu itu. Dan cinta Pram gak lekang oleh waktu, dia menyayangiku bukan karena fisik tapi benar-benar tulus menyayangiku. "


Selesai mengatakan itu semua, membuatku lega. Aku ingin agar suamiku tahu bagaimana hubungan kami. Bukan hubungan cinta seperti selingkuh yang dia bayangkan.

__ADS_1


Aku tak mengatakan kalau waktu Pram datang ke kotaku, kami bertemu. Karena aku berfikir itu akan memperkeruh suasana. Suamiku akan berfikir macam-macam walaupun aku jelaskan matia-matian. Biarlah itu menjadi ceritaku dan Pram dan teman-temannya waktu itu


Suamiku terdiam.


__ADS_2