Cintaku Gak Salah

Cintaku Gak Salah
Pernikahan Sederhana


__ADS_3

Aku merasa bahagia karena akhirnya setelah 2 hari keluarga melakukan musyawarah, hari pernikahanku tiba juga.


Bermacam-macam perasaan bercampur jadi satu. Yang pasti aku bahagia karena sebentar lagi aku akan mempunyai istri yang akan mendampingiku. Namun ada perasaaan gugup juga, smoga acara ijab qabul lancar.


Tidak banyak yang diundang dalam acara ini. Keluarga besar ku, tetangga sekitar rumah aja, sama keluarga Pipin.


Aku tidak mengundang teman-teman ku karena aku ingin pernikahanku sederhana saja, yang penting sah. Aku sadar, aku belum bekerja dan keluargaku termasuk keluarga yang pas-pasan. Aku tidak ingin memberatkan keluargaku.


Aku dan Pipin dirias memakai adat jawa. Setelah semua undangan datang, akhirnya proses pernikahan dimulai.


Syukurlah semua proses berjalan lancar. Setelah itu undangan menyantap hidangan ala kadarnya yang sudah disiapkan mamak dan adik-adikku.


Selang beberapa menit setelah memberikan ucapan selamat tamu undangan pulang semua, kecuali keluargaku besar masih beberapa orang saja." Akhirnya aku resmi menjadi suami Pipin ," kata hatiku bahagia.


Hari sudah mulai gelap dan semua undangan sudah pulang.


"Pram, papa nyariin kamu. Papa duduk di teras, cari papa dulu sana yaaa," Pipin menyuruhku ke teras menemui papanya.


Kemudian aku mencari papanya Pipin ke teras.


"Pa... kataku sambil memperbaiki posisi dudukku.


Papa menarik nafas panjang.

__ADS_1


"Pram... Kamu sekarang sudah sah menjadi suami Pipin. Papa harap kamu bisa membahagiakan Pipin."


Mendengar itu aku mengangguk dan tetap menundukkan kepalaku.


" Papa tidak tahu seberapa besar cinta kamu kepada anak papa. Tapi papa berharap kamu jangan pernah menyakitinya.... Sekarang apa rencana kamu untuk menghidupi Pipin?"


"Aku akan menyayangi Pipin sepenuh hatiku pa dan aku tak akan menyakitinya. Cuma untuk saat ini aku belum bisa memberikan kebahagiaan materi untuk Pipin, karena aku belum bekerja." jawabku sambil menunduk.


"Trus rencanamu apa? Kamu akan usaha apa?" Tanya papa.


"Aku akan mencoba ke daerah Pantai di sini, kebetulan di sini banyak daerah pantai untuk wisata. Aku berencana untuk sementara aku akan menjadi pemandu wisata. Dan sambilan aku akan mencoba usaha yang lain juga."


Papa mengangguk mendengar penjelasan ku.


"Baiklah, papa setuju dengan rencanamu itu. Nanti papa lihat juga kalau ada posisi yang lowong di tempat papa, kamu akan papa tarik bekerja di sana."


"Hmmm... Benar kata Pipin kamu tu keras kepala. Ya sudah terserah kamu, kamu mau usaha apa yang penting kamu bisa mencukupi kebutuhan materi Pipin."


"Buka begitu Pa.. Maaf, aku hanya memang sudah punya rencana dari sebelumnya." Kataku.


"Atau begini saja, kamu mau usaha apa terserah kamu tapi biarkan Pipin bekerja supaya bisa membantu keuangan rumah tanggamu!!!" Suara papa agak meninggi.


"Maaf pa... Pram gak ijinkan Pipin bekerja. Kalau sudah menjadi istriku, tolong biarkan aku yang akan mengurus apa yang boleh dan tidak boleh dikerjakan istriku." Jawabku dan aku sudah tidak menunduk lagi.

__ADS_1


Kulihat wajah papa tampak kesal dan marah.


"Kamu tu gimana sih, apa mau mu ??? Hah!!! Papa ini niat bantu kamu, kamu paham gak sih???"


"Iya pa, Pram paham, dan terima kasih atas bantuan yang papa tawarkan. Tapin maaf pa,Pram belum bisa terima. Biarkan aku mencoba mencari pekerjaan sendiri dulu pa..." Jawabku tegas namun dengan nada suara yg sopan.


"Hmmm terserah kamu kalo begitu!!!" Papa meninggalkan aku dan pergi menuju kamar yang sudah disediakan mama.


Aku memandang ke arah langit. Sekarang aku duduk sendiri. Aku tahu papanya Pipin kesal dan marah dengan jawabanku tapi aku memang harus menegaskan prinsip-prinsipku kepada papanya Pipin.


"Pram... Kamu belum mau masuk kamar?" Tanya Pipin yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingku.


Aku memegang tangan Pipin, kemudian kucium jari-jarinya


"Kamu sudah ngantuk yaa Pin?" tanyaku.


Pipin hanya tersenyum.


"Kalau kamu dah ngantuk, kamu masuk kamar dulu yaa, ntr aku nyusul."


"Baiklah, aku tunggu di kamar yaa..." Pipin kemudian meninggalkan aku sendiri.


Sejujurnya, aku terganggu dengan kata-kata papanya Pipin. Aku tidak suka kalau ada yang ikut campur dalam urusan rumah tanggaku.

__ADS_1


Pikiranku ini membuatku lupa, kalau hari ini adalah hari pernikahanku, dan malam ini adalah malam pengantinku.


Aku menghela nafas. Sebaiknya aku masuk kamar dan tidur.


__ADS_2