Cintaku Gak Salah

Cintaku Gak Salah
Arjun kesal


__ADS_3

Hari ini Aldi dan Arjun balik dari kota X tempat kuliahnya. Kami sekeluarga menjemputnya ke bandara.


Di sepanjang perjalanan lagu-lagu Ariel Noah menemani. Azka sesekali ikut bersenandung, sedang Arini sibuk dengan game di HP nya. Sedang aku sendiri sibuk dengan hatiku yang sudah mulai retak gak beraturan.


Aku memang pernah membahas soal keinginan suamiku untuk poligami. Aku hanya mengatakan kalau memang Papa siap dan bisa ,silahkan... Mama gak akan melarang Papa. Apalagi kondisiku yang sering sakit beberapa tahun terakhir ini, jadi aku memakluminya saat suami ingin menikah lagi. Aku tahu dan sadar diri.


Namun aku tak menyangka kalau suamiku benar-benar ingin menikah lagi hanya karena aku sudah tak mampu melayaninya sebagai istri seperti dulu. " Inikah rasa sayang itu?" Tapi aku berfikir ini lebih baik daripada suamiku menikah diam-diam.


Cuma sejujurnya ada perasaan kecewa yang sangat mendalam yang mempertanyakan sejauh apa dan sebesar apa rasa sayang dan cinta suamiku padaku.


Tapi aku tak me


nyalahkan suamiku, karena dia berhak untuk itu dan tak perlu ijin dariku. " Mungkin memang ini takdirku." Batinku.


Ada pesan masuk, kulihat dan ternyata itu dari Pram. Akupun membuka pesannya.


"Ar... kenapa kamu tak membalas pesanku? Kamu kenapa?"


" Kamu marah Ar?"


"Kamu marah karena kata-kataku yang seperti raja?"


"Maafin aku Ar... Aku mencintaimu,tolong maafin aku."


"Tolong balas pesanku Ar."


Sari kemarin aku hanya membaca pesan Pram dan aku tak membalas satupun pesannya. Aku masih belum enak hati, pikiran dan perasaanku kacau.


Akhirnya aku membalas pesan Pram.


"Pram, maaf aku baru balas."

__ADS_1


" Anak-anakku hari ini baru pulang dari kota x trmpatnya kuliah."


" Besok aku telpon, maafin aku. I love you .."


Aku kemudian menyimpan handphone ku di dalam tasku.


Tak berapa lama kami sudah sampai di bandara dan bertemu dengan Aldi dan Arjun. Aku memeluk kedua anakku bergantian. Ada rasa tenang saat aku memeluk mereka. Aku seperti mempunyai kekuatan untuk hadapi masalahku saat ini.


"Mama kenapa? Keliatan banget mama kurus banget Ma." Kata Aldi sambil memandangku.


Aku tersenyum. "Iya Nak... Kemarin kna mama sakit hampir 10 hari lho Nak, tapi syukurlah sekarang mama dah baikan, dah sehat."


Arjun tersenyum memandangku.


"Kenapa Arjun? Berarti mama gak perlu diet kan untuk ngurusin badan Mama." Aku berkelakar. Sambil berputar menunjukkan badanku ynag sudah langsing.


Aldi langsung tertawa terbahak-bahak Kemudian Arini ikut tertawa. Aku memeluk Aldi.


Bagaimana tidak, 2 hari lagi suamiku akan menikah. Perasaanku semakin kacau.


Kemudian kami mengajak anak-anak ke sebuah lesehan bebek yang menjadi favorit anak-anakku.


Saat tiba di sana, pelayan yang melayani kami senyum-senyum dengan suamiku.


Ardi memperhatikan itu.


"Hmmm... Kenapa kok kamu senyum-senyum ma Papaku. Ada apa hmmm?" Tanya Arjun dengan juteknya


Si mbak langsung tersenyum dan membungkukkan badannya sebagai tanda permohonan maaf.


Arjun yang merasa kesal langsu membuang muka ke arah lain.

__ADS_1


Kemudian aku memesan makanan untuk anak-anakku. Setelah itu barulah aku menenangkan Arjun.


"Kenapa kamu Arjun, kok bersikap seperti tadi? Tanyaku lembut sambil memperhatikan wajah Arjun yang masih kesal.


Arjun hajya menggeleng, kemudian dia menatap Papa nya.


Suamiku tersenyum sementara Arjun menatap Papa nya dengan pandangan yang tak enak dilihat.


"Kenapa Arjun? Kok tatap Papa seperti itu?"


"Pa... Arjun mau tanya Papa, apakah Papa kenal ma pelayan barusan? Cantik kagak, senyum-senyum lagi ke Papa. Seolah-olah dia kenal Papa " Kata Arjun sambil tetap menatap Papanya.


"Papa gak kenal. Mungkin dia lihat Papa gimana gitu, ganteng berwibawa gitu." Kata suamiku sambil tersenyum dengan niat becanda.


Namun Arjun bukanny tertawa, dia masih tampak marah.


" Pa... Papa jangan macam-macam yaaa.... Jangan pernah Papa berfikir untuk genit-genit ke perempuan lain. Arjun gak suka. Dan kalau sampai Arjun tahu Papa macam-macam, liat aja apa yang akan Arjun lakukan." Kata Arjun kesal.


Aku menengahi mereka. Karena suasana jadi tak enak.


" Arjun... Kok ngomong seperti itu ke Papa Nak? Gak boleh seperti itu yaa sayang... Please jangan dilebarin masalahnya, mbak pelayan tadi tu juga cuma senyum aja gak bertingkah yang aneh-aneh. Jadi gak perlu dimasukkan ke hati." Kataku.


Sementara suamiku tampak keringat dingin kaku. Sedang Arjun diam sambil memainkan jari-jarinya.


"Begini anak-anak Mama. Tolong dengerin Mama."


Anak-anakku semua memperhatikanku. Kemudian aku melanjutkan kata-kataku.


"Anak-anakku. Kalian semua Mama anggap sudah besar jadi Mama harap kalian bisa belajar menahan emosi dan amarah saat ada yang tidak pas di hati kita. Jangan cepet tersulut emosinya yaa, itu gak baik. Sikapi dengan tenang kalau ada hal-hal seperti tadi. Gak perlu marah ataupun jutek. Yaa sayang Mama semua... Tolong inget oesan Mama itu yaa."


Anak-anakku mengangguk, dan kulihat suamiku tersenyum menatapku. Dia menatapku dengan tatapan yang senang sekali.

__ADS_1


Aku tersenyum.


__ADS_2