
Pram menatapku.
"Sayangku... Jangan menangis. Maafkan aku... Please... Mengertilah ..." Kata Pram memelas.
Aku gak bisa membendung tangisku. Aku masih menunduk dan menangis.
"Ara... Dengerin aku. Tolong liat aku. Aku sangat menyayangimu, sangat mencintaimu. Aku ke sini karena ingin liat kamu dalam keadaan baik-baik saja. Aku gak peduli walaupun istriku marah dan gak setuju aku ke sini. Tapi dengan berbagai alasan aku tetap dan harus ke sini. Ara ...Liat aku."
Aku mengangkat kepalaku dan melihat Pram.
"Tapi kamu gak mau liat aku, kamu gak cari aku. Kamu gak ingin menemui ku. Itu buat aku sedih Pram " Air mataku menetes lagi.
"Ara... Aku sudah janji ke Pipin untuk tidak menemuimu. Dan sebentar lagi aku akan menuju bandara Ar."
Aku diam saja dan hanya menangis.
"Ara... Aku gak bisa ninggalin kamu kalau kamu nangis seperti ini. Ara ... liat aku Ar..."
"Iyaa Pram .. Aku ngerti Pram. Pergilah. Maafkan aku. Kamu gak perlu khawatirkan aku. Pergilah..." Kataku sambil menatap wajah sendu Pram.
"Sayangku. cintaku... I love you..." Kata Pram sambil mencium keningku lewat handphone nya.
Aku diam saja dan berusaha menghentikan tangisku, dan aku sudah mulai tenang. Aku mengangkat kepalaku dan menatap Pram. Dan Pram tersenyum.
Pram menatapku dalam-dalam. Mata bertemu mata. Hatiku berdesir. Aku menunduk mengontrol perasaanku.
"Ara... Aku punya waktu sekitar 1jam, sebelum aku berangkat menuju bandara. Aku ingin kita ketemu sebentar, aku ingin melihatmu."
__ADS_1
Aku sangat bahagia mendengarnya.
"Beneran Pram? Kamu mau temui aku Pram???"
"Iyaa sayang... Temui aku di rumah makan x. Kamu tahu tempatnya?"
"Iyaa aku tahu, tempatnya gak jauh kok. Aku ke sana Pram. Tunggu aku yaa..."
Pram mengangguk dan tersenyum.
"Iyaa sayang... Hati-hati di jalan yaa... I love you..." Kata Pram dan mengakhiri panggilan videonya.
Aku langsung menuju rumah makan yang di katakan Pram. Aku menyetir mobilku dengan kecepatan lebih tinggi dari biasanya karena jalan sepi dan lengang . Dan 25 menit kemudian aku sudah sampai di rumah makan yang dimaksud Pram.
Aku menelpon Pram, dan Pram langsung menerimanya.
"Yaa Pram... Aku ada di parkiran." Kataku.
"Wait .. Aku keluar sayang..."
Telpon pun diakhiri Pram.
Aku lihat sosok pria tinggi besar keluar dari rumah makan X. Pria itu tersenyum melihatku yang berdiri di depan mobilku.
Pram menghampiriku dan tersenyum. Kemudian Pram menyodorkan tangannya, akupun menyalaminya. Aku mencium punggung tangannya.
Pram menatapku. Aku menunduk.
__ADS_1
"Apa kabar Ar... Aku bahagia melihatmu baik-baik saja. Aku khawatir banget malam itu Ar."
"Makasi Pram dah mau menemuiku. Dan maaf kamu jadi melanggar janjimu ke mbak Pipin." Aku menatap wajah Pram.
Pram masih menggenggam tanganku, dan kemudian menciumnya sambil matanya slalu menatapku.
Tangannya mengusap wajahku, dan entah mengapa aku sungguh terharu. Tak terasa air mataku menetes. Aku mengangis.
Refleks tangan Pram memelukku, dan Pram mencium keningku. Aku menangis sesegukan.
Posisinya aku bersandar di bagian depan mobilku sedangkan Pram berdiri di depanku. Pram masih memelukku.
"Udah Ar... jangan menangis lagi. Kita sudah ketemu. Aku sudah di sini temenin kamu. Iblove you cintaku."
Aku masih belum bisa menghentikan tangisku. Aku menangis di pelukan Pram.
"Aku gak mau jauh dari kamu lagi Pram... Aku ingin kamu tetap di sini. Temenin aku, Pram..."
"Hmmm na ini yang aku takutkan bertemu Ar... Aku pun merasakan hal yang sama denganmu. Aku gak ingin berpisah lagi denganmu. Aku ingin tetap di sini nemenin kamu. Aku gak mau jauh lagi denganmu..."
Aku mendengar suara Pram agak parau, dan kuangkat kepalaku. Kulihat ternyata Pram juga menangis. Aku semakin menangis. Kami berdua menangis
"Ara... Maafin aku yaa... Aku sudah melewatkanmu.. Aku salah Ar..." Pram berkata dengan mata berkaca-kaca.
Aku hanya menangis.
Angin senja bertiup lembut, seperti ikut merasakan kesedihan kami. Kami bahagia namun kamipun sedih karena sadar bahwa kami akan berpisah lagi. Dan tak tahu kapan kami akan bertemu lagi.
__ADS_1