Cintaku Gak Salah

Cintaku Gak Salah
Kegelisahan seorang pecinta


__ADS_3

Semalam aku kepikiran Ara terus. Karena sampai pagi ini aku tak mendapat kabar dari Ara. Aku berusaha mengerjakan orderan yang sudah masuk.


"Pa... Sudah beres belum gambar untuk orderan Pak Wajiman?" Tanya anakku.


" Belum Dek. Papa lagi gak enak badan nih. Sejak kemarin Papa lemes." Kataku.


"Papa kenapa? Dari kemarin banyak bengongnya. Ada apa sih Pa?"


Aku tersenyum kemudian berdiri dan mencium kepala Rahma.


"Papa baik-baik saja Dek. Papa cuma letih aja. Mungkin Papa perlu tidur ne Dek." Kataku.


"Bener nih Papa gak kenapa-kenapa? Papa gak demam kan?" Tanya Rahma.


"Iyaa Dek. Papa gak kenapa-kenapa. Papa sehat, cuma mungkin kurang tidur aja. Udaah... jangan dipikirin. Papa keluar dulu dah yaa..."


" Iya Pa... Tapi HP nya tetep hidup yaa Pa. Biar nanti kalau Adek perlu ma Papa, adek bisa segera telpon Papa."


"Siap Bos!!!" Aku tersenyum dan berlalu mengendarai sepeda motor butut ku.

__ADS_1


Aku pergi ke taman burung. Aku duduk di kursi kayu. Sebenarnya aku cuma kepikiran Ara. Aku khawatir keadaannya. Sampai sekarang belum juga ada kabarnya.


Aku ingin mengirim pesan namun aku khawatir keadaan akan runyam. "Hmmm... Ara, gimana keadaanmu." Bathinku.


Setiap ada notifikasi pesan masuk, aku selalu melihat HPku, berharap ada pesan masuk dari Ara. Namun lagi-lagi aku kecewa.


Aku lihat hari ini Ara tak pernah aktif. Aktif kemarin malam. Pikiranku kacau.


Aku mengirim tulisan di story ku berharap Ara akan membukanya nanti.


"Kegelisahan seorang pecinta


Waktu badai datang diujung asa"


"Yaaa Tuhanku... mengapa aku begitu mencintainya. Ampuni aku Tuhan, kusangat mencintainya..." Bathinku bergejolak.


Aku merasakan begitu berat resiko dari perasaanku ini. Aku mencintai seorang wanita yang sudah memiliki pendamping hidup. Namun aku tak kuasa menolak dan membuang perasaanku. Karena Ara sudah ada tersimpan di lubuk hatiku yang paling dalam.


Rasa ini tak pernah mati.

__ADS_1


Aku menyanyikan lagu-lagu yang sering kunyanyikan dengan Ara saat kami sedang berdua. Kupandangi foto profil Ara. Setiap ku memandangnya ada perasaan tenang dalam hatiku. Wajah keibuan Ara yang begitu teduh, dengan hati yang lembut membuatku benar-benar merasa nyaman di dekatnya.


Aku slalu menyemangati diriku, Ara yang slalu mengalah saat aku keras dan debat dengannya, Ara yang selalu menurut apapun kata-kataku.


Tak kan ada yang mengerti perasaanku, karena apapun alasannya di mata siapapun semua rasa dan cintaku salah.


"Maafkan aku yang sudah melewatkanmu Ara, sayangku...Maafkan aku." Aku berkata dalam hatiku.


Seandainya dulu aku tak melewatkannya, pastilah aku yang ada di sisinya saat ini. Akulah yang menemaninya saat ini. Menemaninya dalam suka dan dukanya.


Aku bangkit dari dudukku. Sudah cukup lama aku duduk di sini. Kubuka pesan-pesan yang masuk di handphone ku, tapi yang kuharap dan kutuju tak kunjung ada.


Aku semakin khawatir dengan keadaan Ara. Ara sakitnya pasti agak parah, sampai tidak memberiku kabar sama sekali.


Kuputuskuan untuk pergi berdoa, berdoa untuk kesembuhan cintaku. Berdoa untuk kebahagiaan Ara.


" Bahagia itu saat kita melihat orang yang kita sayangi bahagia. Saat kita melihat orang yang kita cintai tersenyum. Saat kita sadar bahwa ada tawa kebahagian yang terpancar di wajah orang yang kita cintai. Dan kita merasa terluka saat orang yang kita sayang dan cintai terluka."


Aku akan membahagiakanmu Ara...I love you...

__ADS_1


__ADS_2