Cintaku Gak Salah

Cintaku Gak Salah
Pipin marah besar ke Ara


__ADS_3

Aku mulai merasa tidak nyaman. Bermacam-macam pikiran bermain-main di kepalaku. Aku berusaha menenangkan diriku.


'Ara..." Aku dengan suara Pipin di seberang sana memanggilku.


"Ya mbak."


"Kamu sayang ma Pram yaa..."


Aku diam. Aku tidak tahu harus bilang apa. Aku diam saja.


"Ara, aku sudah tahu semuanya. Pram sudah cerita semuanya."


Aku dengar suara Pram di sana yang menyuruh Pipin untuk mematikan telpon dan menyelesaikan masalahnya nanti cukup dengannya saja dan tidak perlu melibatkan aku.


"Ara, kamu dengar baik-baik yaa. Aku sudah tahu hubunganmu dengan Pram. Aku mau tahu, apakah suamimu tahu hubunganmu dengan Pram?"


Suara Pipin terdengar tegas sedang mengivestigasi aku.


" Ya Mbk. Aku sayang ma Pram. Maafkan aku. Tapi hubunganku dengan Pram tidak seperti yang mbk Pipin pikirkan. Dan suamiku tidak tahu hubunganku dengan Pram karena aku pikir memang dia gak perlu tahu." Jawabku pelan.

__ADS_1


Aku berusaha tenangkan diriku namun aku tahu masalah ini sulit. Tak terasa olehku, air mataku menetes.


"Ooh begitu. Sekarang kamu mau bagaimana kelanjutan hubunganmu dengan Pram. Kamu kan tahu kalau kamu dah punya suami dan Pram juga sudah punya istri, kenapa kamu masih berhubungan?? Hah!!!! " Suara Pipin sudah mulai meninggi.


Aku diam dan menangis. Aku sadar rasaku dan rasa yang dimiliki Pram salah. Aku tidak tahu harus ngomong apa.


"Ara, kamu mau aku harus bagaimana? Hah!!! kamu mau menikah dengan Pram? Kamu mau? Kamu mau ngomong ma suamimu kalau kamu mau menikah dengan Pram? Jawab pertanyaanku." Suara Pipin terdengar penuh amarah.


Aku tidak menyalahkan Pipin yang marah padaku. Aku tahu aku dan Pram salah. Apapun alasannya tetap salah.


"Ara, kamu jawab pertanyaanku!!!"


" Aku gak tahu bagaimana kelanjutannya Mbak. Maafin aku. Tapi hubunganku tidak seperti yang mbk Pipin bayangkan. " Aku mencoba menjawab pertanyaan mbk Pipin.


Aku diam.


"Tadi aku sudah tanya Pram, apa maunya. Dan kata Pram, dia ingin menikahimu. Kalau kamu berdua tetap ingin menikah, apakah kamu sanggup kehilangan anak-anak dan suamimu?"


"Mbk, aku minta maaf atas semuanya mbk. Biarkan aku pikirkan lagi semuanya mbk." Jawabku.

__ADS_1


Aku mendengar Pram berbuca dengan istrinya di seberang telpon. Dan kemudian Pram mengambil telponnya dan bicara padaku.


"Ara, sudahlah. Maaflan aku. Biar aku selesaikan masalah ini dulu dengan istriku. Kamu baik-baik di sana yaa "Kata Pram.


"Iya Pram."


Kemudian panggilan diakhiri oleh Pram.


Aku menangis sejadi-jadinya. Aku tidak pernah membayangkan semua akan terjadi seperti ini.


Baru kali ini selama hidupku, aku diperlakukan seperti penjahat yang sedang diinvestigasi dan akan diadili. Ada perasaan malu dan sedih banget.


Aku menangis dan memikikan apa yang sebaikanya harus aku lakukan. Aku kasihan dengan Pram. Bagaimana keadaannya sekarang.


Aku menghela nafas panjang dan menghapus air mataku.


Aku tak pernah menyangka akan seperti ini akhirnya. Aku membuat keributan di rumah tangga Pram. Aku bingung harus berbuat apa?


Aku sadar perasaanku salah. Perasaan Pram salah. Aku tahu Pram sangat mencintaiku. Dan cinta Pram dari dulu sampai sekarang tidak pernah hilang. Aku tahu itu. Tapi aku tidak tega Pram harus mendapat cecaran seperti itu dari Pipin istrinya.

__ADS_1


Aku bisa membayangkan bagaimana marah Pipin ke Pram, karena cara Pipin marah kepadaku dengan suara nada tinggi sudah membuatku gak nyaman.


Namun divakhir telpon tadi, Pram tetap menunjukkan rasa sayangnya padaku, "Kamu baik-baik di sana yaa..."


__ADS_2