Cintaku Gak Salah

Cintaku Gak Salah
Telpon Ara


__ADS_3

Aku berusaha menenangkan Pipin lagi. Aku katakan aku akan mengakhiri semuanya.


Aku bersiap-siap akan ke kantor, namun Pipin melarangku.


"Mau ke kantor atau mau hubungin Ara? Hah! Heran, apa sih lebih Ara. Cantiknya juga biasa-biasa aja. Kamu tu sudah kena guna-guna. Sadar Pa!!!" Kata istriku sambil tetap saja menggerutu sendiri.


Aku diam saja, males ngeladeninya. Karena apapun yang akan aku katakan tidak akan merubah kenyataan dna tidak akan bisa meredakan kemarahan istriku.


Saat aku akan berangkat, Pipin kembali mencegahku.


"Pa, kamu denger gak apa yang aku katakan. Hah! Dari tadi aku ngomong tapi kamu cuma diam saja."


"Bu, aku lagi pusing dan aku sudah bilang dari kemaren kalau aku akan menyelesaikannya dengan Ara. Tapi kamu tetep aja marah. Jadi Papa pikir apapun yang Papa katakan tetap tidak bisa meredakan amarahmu." Kataku sambil menatap istriku.


"Kamu nyebelin Pa."


"Maafin aku Bu... Tolong ijinkan Papa pergi ke kantor dulu." Kataku beranjak pergi.


Akhirnya Pipin mengijinkan aku pergi.


Sesampainya di kantor, aku tidak bisa konsentrasi karena pikiranku penuh. Dan sepertinya pak Amin bisa melihat kondisiku.


Akhirnya rapat diakhiri Pak Amin, dan aku kembali ke ruang kerjaku.


Pak Amin mengikutiku masuk ke ruang kerjaku.

__ADS_1


"Pak Pram, masih sakit kepala kah?" Tanya Pak Amin.


Aku hanya mengangguk dan mulai membuka laptopku.


"Maaf Pak, kalau masih kurang sehat gak pa-pa pulang aja dulu." Pak Amin menepuk pundakku.


Aku tersenyum.


"Aku sehat Pak, cuma ada masalah di rumah." Kataku.


"Oh ya?"


"Iyaa... Pipin istriku mengetahui hubunganku dengan Ara."


"Ooh itu to masalahnya. Yaa pasti buat sakit kepalanya tambah 3 kali lipat nih." Kata Pak Amin sambil tersenyum meledek.


"Jangan ngeledek gitu lah, lupa yaa dulu pak Amin juga pernah ngalami."


Pak Amin tertawa terbahak-bahak.


"Iyaa Pak. Bikin pusing yaa Pak. Aku juga heran baru kali ini aku lihat Pak Pram jatuh cinta ma perempuan." Pak Amin mengeluarkan rokoknya.


Aku ambil 1 batang, kubakar dan kuhisap dalam.


"Aku tu dah jatuh cinta ma Ara tu dah dari dulu Pak. Sejak pertama kali aku melihatnya. Itu waktu SMA kelas 2. Gak tahu, aku suka banget ma Ara. Kagum banget. Bahkan tahu gak Pak, kami 1 group menyukai orang yang sama. Gila gak tu."

__ADS_1


Pak Amin tertawa.


"Oh iyaa??? Kok bisa."


"Na itu juga aku gak tahu Pak. Kok bisa. Tapi itulah, Ara tu punya sesuatuyang gak semua perempuan punya. Gitu Pak." Kataku sambil merokok dan pikiranku jauh ke Ara.


"Ooh gitu yaa... Aku jadi penasaran Pak. Tapi sayang yaa Pak, Ara sudah punya suami. " Kata Pak Amin sambil melirikku.


Aku tertawa. Kemudian Pak Amin keluar dari ruanganku, karena ada panggilan telpon dari luar.


Aku memandang foto Ara yang ada di profile. Aku ingin mengabarinya tapi aku ragu, Apakah Ara masih mau menerima telponku atau tidak setelah kejadian kemarin.


Aku melihat Ara online. Akhirnya aku menelponnya pakai nomor yang lain, dan Ara menerimanya.


"Ara... Ini aku Pram."


Ara langsung menangis.


Aku tak tega melihatnya menangis. Aku ingin memeluknya, menghilangkan kesedihannya, menenangkan dia. I love you Ara.


"Ara, dengerin aku yaa..."


"Iya Pram."


"Maafin aku, aku audah mengacaukan semuanya. Ini salahku, aku ceroboh tidak menghapus pesan-pesanmu, jadi Pipin baca semua pesan-pesan kita." Kataku.

__ADS_1


Dan aku juga menjelaskan bagaimana detail kejadian kemarin dan bagaimana Pipin sampai ingin bunuh diri.


Ara mendengarkan ceritaku sambil sesekali aku mendengar isak tangisnya.


__ADS_2