
Malam semakin larut... Suamiku masih duduk di hadapanku.
"Ma... Maafin Papa. Papa terlalu terburu-buru memutuskan untuk menikah lagi. Tadi di perjalanan pulang jemput anak-anak, Papa kepikiran dengan sikap Arjun dan ancamannya. Ada perempuan tersenyum seperti itu aja Arjun sudah marah segitunya apalagi kalau dia tahu Papa menikah lagi. Dan jujur ma, sikap dingin Mama buat Papa takut kalau nanti mama meninggalkan Papa. Tapi selain itu Papa merasa bersalah karena sikap Mama yang tetap menghormati Papa dan tetap mengajarkan anak-anak untuk tetap homat ke Papa. Ma ... Maafin Papa ." Kata suamiku panjang lebar menjelaskan.
Aku berusaha menghapus air mataku.
"Aku sudah ikhlas untuk semua takdir Tuhan kepadaku. Apapun yang ingin Papa lakukan, silahkan lakukan dan Mama akan menyetujuinya."
Suamiku menggeleng dan memegang kepalanya kemudian mengacak-acak rambutnya.
"Pa... Mama mau jujur satu hal ke Papa. Ada satu yang mengganjal di hati Mama. Jujur Pa, Mama kecewa sekali saat Papa bilang kalau Papa akan menikah lagi hanya karena Mama tak bisa melayani Papa. Mama sedih dan tersadar bahwa Papa tak benar-benar menyayangi mama. Hanya karena Mama sakit dan tak bisa melakukan kewajiban sebagai istri, Papa sudah ingin mencari istri lagi. Seperti itu cara Papa menyayangi dan mencintai Mama? Akhirnya mama sadar , yaa.... Hanya segitu besar cinta Papa ke mama... " Kataku dan aku sudah tidak menangis lagi.
Aku lega sudah mengatakan perasaanku yang mengganjal. Rasa kecewaku, rasa aku merasa lemah dan tak dibutuhkan hanya karena aku tak bisa melayaninya.
__ADS_1
"Maafin Papa.... Tolong maafin Papa." Kata suamiku meraih tanganku dan menggenggam nya.
"Pa... Mama sudah memafkan Papa jauh sebelum Papa minta maaf. Mama sudah berdamai dengan keadaan. Mama sadar diri, sadar akan kelemahan mama. Itu sebabnya saat Papa bilang ingin menikah lagi, mama tak marah. Walaupun hati mama berontak tidak menerimanya."
"Ma... Maafin Papa... Yaa Tuhan aku sudah salah Tuhan... Ma... Tolong Mama liat Papa. Papa sangat sayang ma Mama, Papa khilaf Ma... "
Aku tak mau memandang suamiku.
" Hmmm sudahlah Pa... Semua sudah terlanjur berjalan. Mama gak apa-apa. Lanjutkan rencana Papa, karena ini tak akan merubah keadaan. Mama bukan istri yang bisa memenuhi kebutuhan Papa seutuhnya. Mama ikhlas." Kataku dan kemudian membaringkan tubuhku untuk tidur.
"Ma... Aku harus bagaimnaa? Papa bingung..."
Aku hanya diam. Tak lama kemudian suamiku keluar dari kamarku dan menuju ruang kerjanya.
__ADS_1
Aku tak tahu apa yang dilakukan suamiku. Namun skitar setengah jam kemudian, suamiku kembali masuk ke kamarku. Namun aku pura-pura tidur.
"Ma... Papa dah memutuskan. Tolong dengerin Papa." Kata suamiku sambil membelai rambutku.
"Ma... Papa tahu mama belum tidur. Barusan Papa dah telpon Lily. Papa membicarakan masalah rencana pernikahan tu. Papa dah bilang ke Lily kalau Papa gak bisa melanjutkan rencana pernikahan tu. Papa ceritakan sikap Arjun dan Aldi soal peristiwa tadi di lesehan. Ma... Papa akan pertimbangkan untuk membatalkan rencana pernikahan itu Ma."
Suamiku mencium rambutku, kemudian tidur di belakangku dan memelukku.
"Maafin Papa yaa Ma.... Besok Papa akan bertemu dengan Lily dan membicarakan ini. Maafin Papa yang sudah menyakiti perasaanmu. Ma..." Kata suamiku dan membalikkan tubuhku.
Kami berhadapan, kupandangi wajah suamiku namun aku pejamkan mataku setelahnya.
"Aku sayang ma kamu Ma... Aku sayang ma keluargaku. Aku akan mempertahankan keutuhan rumah tangga kita. " Kata suamiku dan memelukku. Namun aku hanya diam.
__ADS_1
Aku tak tahu apakah aku bahagia dengan kata-kata suamiku barusan atau tidak. Karena aku tahu tak semudah itu suamiku akan membatalkan rencana pernikahannya.