Cintaku Gak Salah

Cintaku Gak Salah
Aku nikmati sakitku


__ADS_3

Sampai di rumah Arini dan Azka menyambut kami. Tampak mereka senang dan bahagia. Aku memeluk kedua anakku.


Kemudian kami makan malam bersama. Dan selesai makan Aku memeriksa PR Arini, dan menyuruh Azka untuk belajar mempersiapkan diri untuk pelajaran besok .


Aku merebahkan badanku di kasurku yang empuk, terasa menjadi tempat ternyaman untuk mengistirahatkan tubuhku sejenak.


Suamiku masuk ke kamarku, kemudian memijat kakiku.


"Capek yaa Ma? "Kata suamiku.


Aku mengangguk dan tersenyum.


"Mau Papa buatin teh manis?"


" Gak usah Pa...Mama mau istirahat bentar Pa... Mama ngantuk sekali." Kataku.


Tengah malam aku terjaga. Kulihat suamiku tertidur pulas di sampingku.


Kukecup kening suamiku. " Makasih Pa... "Bathinku.


Kemudian aku melanjutkan tidurku da memeluk suamiku.


Pagi pun tiba, kulihat tak ada pesan masuk dari Pram. Aku semakin gelisah dan khawatir.


Aku melakukan aktifitas ku seperti biasa dengan perasaan yang tidak nyaman. Namun aku sadar, aku tak boleh egois hanya memikirkan perasaanku saja. Aku harus tetap bisa menjalankan kewajibanku sebagai ibu untuk anak-anakku dan kewajibanku sebagai istri dari suamiku.


Akhirnya sekitar jam 11 siang aku menerima pesan dari Pram.

__ADS_1


"Ar....Maaf ndak sempat kirim pesan kemarin, aku sempat hilang 3 jam kemarin, jadi sekarag lemas banget dan aku dijaga Yusuf di luar. Aku kesulitan bernafas Ar... Doain aku Ar yaa... Maafkan salah-salahku yà sayang..."


Aku tak dapat menahan air mataku menetes. Aku sangat sedih dan takut. Aku tak bisa membayangkan bagaimana Pram melewati masa sakitnya saat ini. Istrinya yang lagi sakit dan tak mungkin bisa merawatnya, dan anak-anaknya pun sedang sakit.


Aku membalas pesan Pram.


"Pram... Aku ingin kamu kuat dan semangat untuk sembuh. Aku barusan transfer uang untuk berobat Pergi ke dokter spesialis paru-paru supaya sesak nafasmu cepat diobati. Tolong jangan tolak bantuanku kali ini. Aku ingin kamu sembuh, liat mbk Pipin istrimu dan anak-anakmu.... Mereka sangat membutuhkanmu. Aku mohon kalau kamu benar sayang ma aku, turuti keinginanku. Aku mohon sayangku..."


Sebelum membalas pesan Pram, aku sudah mentransfer sejumlah uang ke rekening Pram untuk berobat.


Pram langsung membalas pesanku.


"Ar... Aku gak perlu ke dokter, aku gak mau merepotkanmu. Besok aku sembuh kok. Sebentar aku transfer balik uang yang barusan kamu kirim."


Aku mengirim emoticon menangis. Aku tak mau membalas pesan Pram. Aku marah dengan sikap Pram ini.


Akupun membalas pesan Pram.


"Aku serius Pram, aku ingin kamu menuruti keinginanku kali ini. Aku mohon, sungguh-sungguh aku mohon. Ini saatnya kamu membuktikan kalau kamu benar-benar sayang ma aku. Pergilah ke dokter spesialis paru-paru. Ini semua demi istri dan anak-anakmu ."


"Baiklah Ar... Aku sayang ma kamu nanti sore aku akan ke dokter spesialis paru-paru. Aku minta tolong Sabila untuk mendaftarkan aku. Makasi yaa...Doakan aku ya Ar..."


"Iya Pram... Sekarang kamu istirahat dulu, benar-benar istirahat. Yaa.... Aku ingin kamu sembuh."


"Iya Ar... Udah dulu yaa..."


Aku lega dan merasa lebih tenang karena Pram akhirnya mau menuruti keinginan ku. Aku ingin Pram sembuh. Aku berdoa untuk kesembuhan Pram.

__ADS_1


Kemudian aku melanjutkan aktifitasku dengan Siti.


****


PRAM


Sore harinya aku ke dokter spesialis paru-paru seperti permintaan Ara. Rahma yang mengantarku ke dokter.


Sampailah giliranku diperiksa dokter. Dokter memintaku untuk Rontgen paru-paru dulu. Setelah keluar hasil Rontgen nya, dokter memberikan resep obat yang harus ditebus. Rahma yang lebih memperhatikan apa saja anjuran dokter dan keterangan-keterangan untuk obat yang akan aku minum.


Setelah selesai diperiksa, aku menebus obat yag harus dibeli. Aku hanya bisa duduk bersandar sambil berusaha mengatur nafasku yang terasa sesak.


Antrian di apotik lumayan cukup panjang, jadi aku benar-benar merasa sungguh tersiksa. Namun yaaah aku nikmati sakitku....


Hingga giliran namaku dipanggil, Rahma membayar semua obat yang harus dibeli.


Rahma memandangku


Setelah pembayaran selesai kamipun pulang dengan menggunakan taxi. Di perjalanan Rahma mengusap dadaku dengan minyak layu putih agar nafasku tidak terlalu sesak.


"Pa...Kata dokter kalau sampai besok Papa gak ada perubahan, Papa disuruh balik kontrol lagi Pa."


Aku hanya mengangguk dan memejamkan mataku.


"Nanti Papa harus paksa diri makan yaaa, terus minum obatnya. Di sini dokter juga resepin Papa obat untuk sembuhin sesak nafas Papa."


Aku hanya mengangguk saja. Aku pasrah dan benar-benar lemas.

__ADS_1


__ADS_2