
PIPIN
Aku sedih melihat keadaan suamiku. Dia baru bisa tertidur, di hidungnya dipasang alat bantu pernafasan.
" Kuatlah suamiku...Aku membutuhkanmu.." Kataku dalam hati. Air mataku menetes. Kugenggam tangannya.
Aku baru saja selesai telponan dengan Ara. Entah mengapa tadi aku berkeinginan mengirim pesan ke Ara. Aku memberitahu Ara keadaan Pram.
Namun karena Ara ingin menelpon jadi aku langsung menelponnya.
Kuusap wajah suamiku yang pucat.
Aku berdoa untuk kesembuhan suamiku.
Satu jam berlalu, Pram terbangun dari tidurnya.
Kupandangi wajahnya, Pram membalas genggaman tanganku namun lemah.
" Bu... Papa haus." Kata suamiku.
"Iyaa Pa...Minum Pa.." Aku mendekatkan sedotan air ke bibir suamiku. Suamiku meneguknya pelan.
"Bu ... Maafin Papa yang belum biaa bahagiakan ibu. Maafin salah-salah Papa yaa..." Suamiku menatapku lemah.
Aku menangis. Kucium tangannya.
"Pa... Papa adalah suami yang baik, dan bapak yang baik untuk anak-anakku. Ibu sayang ma Papa, sayang banget Pa.."
Suamiku mulai susah bernafas lagi. Kemudian aku memposisikan tempat tidurnya posisi duduk supaya bisa bernafas lebih baik.
Suamiku memejamkan matanya lagi.
Telpon suamiku berdering, kulihat kontaknya yang muncul Ara. Aku langsung menerimanya.
"Mbak... Maafkan aku lancang nelpon mbak. Aku gak tenang mbak, bagaimana keadaan Pram?" Kata Ara di seberang sana.
"Pram baru aja bangun Ar... Ini baru habis minum." Kataku.
__ADS_1
Kulihat Pram membuka matanya perlahan.
" Ibu telponan ma siapa?" Tanya suamiku.
" Ibu telponan ma Ara, Pa." Suamiku menarik nafas panjang.
"Ara... Pram masih susah bernafas. Aku kasian ngeliatnya Ar." Aku menangis.
"Mbak Pin, yang kuat Mbak. Mbak harus tegar, kita doakan supaya keadaan Pram bisa membaik." Terdengar Ara menangis.
"Ar... Tolong semangati Pram. Ne Bicaralah." Kataku sambil kutaruh handphone nya dekat bibir suamiku. Namun handphonenya aku speaker supaya Pram bisa dengar.
" Pram... Ini aku Pram."
Pram tersenyum.
" Iyaa Ar... Badanku lagi sakit, doakan aku yaa..." Suara Pram lemah.
Terdengar Ara menangis.
"Aku selalu mendoakanmu Pram. Kamu harus kuat Pram, semangat untuk sembuh. Liat mbak Pipin ma anak-anakmu masih sangat membutuhkanmu. Please kuat Pram. Aku tahu kamu kuat."
"Iyaa, aku tahu kamu kuat dan semangat. Aku... Aku ingin kamu bersemangat untuk kesembuhanmu. Tenangkan pikiranmu, aku yakin kamu akan sembuh. Iyaa..."
Pram hanya mengangguk, dan kulihat air matanya menetes. Kuhapus air matanya dengan tisu yang ada di meja.
Aku gak tahu, sedikitpun tak ada perasaan cemburu atau marah pada Ara sekarang. Aku benar-benar merasa Ara seperti adikku sendiri.
Sejak aku membaca pesan Ara ke handphone suamiku dulu, aku sadar bahwa Ara tidak seperti yang aku bayangkan.
" Pram, kamu harus banyak istirahat, ikutin apa anjuran dokter. Jangan pikirkan pekerjaan dulu, biar Rahma yang handle dulu yaa... Sekarang kamu istirahat yaa Pram."
"Iyaa Ar. Ara... Maafin aku yaa..." Kata Pram.
Ara terdengar menangis.
" Kamu gak ada salah ma aku Pram. Udah jangan pikir macam-mcam. Aku mau kamu sembuh dan sehat Pram. Yaa... Janji Pram, kamu harus kuat dan semangat."
__ADS_1
"Iyaa... Semua sudah ada yang mengaturnya Ara. Maafin aku..."
Aku menangis mendengar kata-kata suamiku.
" Mbak Pipin... mbak juga harus jaga kondisi mbak yaa... Mbak juga harus istirahat yang cukup supaya mbak selalu sehat dan bisa jagain Pram."
"Iyaa Ar... Kamu juga doain Pram yaa.."
"Selalu mbak. Aku doain mbak juga supaya sehat selalu. Sekarang Pram istirahat dulu dah yaa..."
Pram mengangguk lemah.
"Iyaa Ar... Udah dulu yaa... Kamu juga jag kesehatanmu yaa..." Kataku.
"Iya Mbak..."
Kemudian Ara mengakhiri panggilan.
Suamiku menatapku sendu sambil berusaha menstabilkan nafasnya yang tampak sesak.
" Bu... Kenapa ibu kasi tahu Ara kalau Papa sakit?" Tanya suamiku.
" Sudah Papa gak usah banyak pikiran dulu. Ibu percaya ma Ara. Ara sudah ibu anggap seperti adik sendiri." Kataku.
Suamiku mengangguk.
"Ibu pulang dulu, istirahat. Papa sudah baikan kok."
Aku menggeleng.
" Ibu sekarang sudah sehat Pa... Biarkan obu merawat Papa, nemenin Papa di sini."
Suamiku tersenyum.
"Papa gak mau ibu sakit, kalau gitu kita pulang aja besok yaa Bu."
" Papa boleh pulang dari rumah sakit saat Papa benar-benar sehat. Iyaa Pa. Udah gak usah bandel, badan Papa butuh istirahat. " Aku mengelus rambut suamiku. Kukecup keningnya.
__ADS_1
Suamiku mengangguk dan mencium tanganku. Kemudian suamiku tertidur.