Cintaku Gak Salah

Cintaku Gak Salah
Kehilangan


__ADS_3

Dokter dan suster berdatangan masuk ke ruangan dan langsung mengambil tindakan pada suamiku.


Aku tak paham apa yang sedang dilakukan oleh pak Dokter dan suster, yang kutahu mereka sedang berusaha menyelamatkan suamiku


Aku menangis dan memohon pada Tuhan untuk kesembuhan suamiku. "Selamatkan suamiku Tuhan," doaku.


Rahma dan Yusuf baru datang langsung menghampiriku.


" Papa kenapa Bu?" Tanya Rahma sambil menangis.


Aku memeluk kedua anakku.


"Nak, doakan Papamu supaya bisa melewati masa kritisnya yaa. Kita hanya bisa berdoa sayang..." Kataku dan berusaha menenangkan Rahma dan Yusuf.


"Bu, Yusuf takut Bu..." KatabYusuf dan memelukku erat.


Aku berusaha tersenyum, "Berdoalah Nak. Yaah..."


Yusuf mengangguk.


" Rahma, kak Sabila mana? "


" Kak Sabila lagi urus pengiriman do ekspedisi Bu. Tapi tadi kak Sabila bilang akan langsung ke rumah sakit setelah selesai di ekspedisi."Rahma menjelaskan.


"Iyaa ..."

__ADS_1


Kami memperhatikan dokter dan suster dari balik pintu. Dan tak berapa lama pak dokter keluar.


Aku langsunh menghampiri pak dokter.


" Pak Dokter, bagaimana keadaan suami saya?"


Pak dokter tersenyum. " Kita berdoa saja yaa Bu. Ibu banyak-banyak berdoa supaya pak Pram bisa melewati masa kritisnya. Ya Bu."


"Iyaa Pak Dokter, terimakasih."


Kemudian pak dokter dan suster itu langsung pergi meninggalkan kami. Aku dan anak-anak langsung masuk menemui suamiku yang sepertinya sedang tidur.


"Pa... Ini adek ma Yusuf datang. Berjuanglah Pa, demi kami Pa." Aku mencium tangan suamiku.


Rahma mencium tangam Papanya yag satunya sedangkan Yusuf memijit kaki papanya.


"Papa kenapa Bu?"


" Gak apa-apa Nak. Papa lagi pingin istirahat. Kamu duduk di sini Nak." Kataku dan mrminta Sabila untuk duduk menggantikanku.


Sabila langsung duduk.


Mungkin karena lelah, akhirnya aku tertidur. Dan aku bermimpi Pram mengajakku berjalan di sebuah jalan yang terasa sejuk dan indah pemandangannya. Namun Pram tiba-tiba berjalan cepat dan meninggalkanku. Aku berusaha mengejarnya tapi aku tak bisa mengejarnya.


Di saat aku kelelahan, tiba-tiba Pram suamiku muncul dan berkata. " Jaga anak-anak Bu, Maafkan Papa." Pram langsung pergi semakin menjauh dan aku berteriak memanggilnya. "Pram...Pram..." Namun Pram terus saja berlalu.

__ADS_1


Aku terbangun dan menangis. Aku sadar ternyata itu hanya mimpi. Aku langsung memeluk suamiku dan mencium keningnya dan berbisik." Pa, jangan tinggalkan ibu."


Di saat yang hampir bersamaan tiba-tiba suamiku denyut jantungnya melemah, terdengar dari alat yang terpasang di tubuhnya.


Aku meminta Sabila memamggil suster sedangkan Rahma dan Yusuf sudah mulai menangis dan berteriak memanggil Papanya.


Aku mencium tangan suamiku. Perasaanku sudah mulai tak enak. "Yaa Tuhanku, kuatkan aku tolong sembuhkan suamiku."


Dua orang suster masuk ke kamar dN memintaku untuk menunggu di luar.


"Bu, sebentar lagi dokter datang. Ibu berdoa yaa." Kata seorang suster. Dan aku mengangguk.


Dokterpun datang bersama seorang suster, mereka langsung masuk kamar ruangan suamiku sedangkan aku dan anak-anakku menunggu di luar.


Selang beberapa menit, dokter keluar. Dan memghampiriku.


"Bu, maafkan. Tuhan berkehendak lain. Pak Pram meninggalkan kita. Yang tabah yaa Bu.." Aku merasa sempoyongan. Aku lemas langsung dipegang Sabila dan Rahma.


Kemudian dokter dan suster itu berlalu.


Anak-anakku menangis dan berteriak memanggil Papanya. Aku dan anak-anakku langsung masuk kamar dan menangisi suamiku.


Tangis kesedihan dan kehilangan menyelimuti kamar ruang inap suamiku. Aku merasa sangat sedih dan sangat kehilangan. Aku menangis.


Melihat anak-anakku menangis, aku sadar kalau aku harus kuat. Aku harus kuat demi anak-anakku.

__ADS_1


"Sudahlah anak-anakku... Papa sekarang sudah tenang, sudah tidak kesakitan lagi. Kita harus ikhlaskan Papa yaa Nak."


Anak-anakku masih berteriak menangis sambil memanggil Papanya.


__ADS_2