
Kami terbangun dan ternyata hari sudah sore. Aku melihat suamiku sudah lebih baik keadaannya. Terutama sesak nafasnya, sudah berkurang.
Saat itu kami sedang duduk di teras.
"Pa... Ibu buatin teh hangat yaa.." Kataku.
"Ibu pingin teh hangat? Biar Papa yang buatin, ibu tunggu di sini yaa .." Kata suamiku.
"Lho Papa ni gimana sih, ibu yang nawarin teh kok malah Papa yang mau buatin ibu teh. Ibu buatin yaa .." Kataku.
Suamiku tersenyum dan berdiri menghampiriku.
"Bu... Ibu belum sehat benar, biar Papa yang buat teh nya yaa... Tunggu yaa..." Suamiku mencium rambutku.
Aku terharu mendapat perlakuan suamiku. Begitu baik dan begitu setia dia melayaniku.
Kuraih tangan suamiku, kucium punggung tangannya. Suamiku memelukku.
"Tunggu yaa .. Papa buatin."
Kutatap ketulusan di matanya.
"Pa.... kali ini biarin ibu yang buatin Papa teh. yaa... Ibu pingin sekali buatin Papa teh, dah lama sekali ibu gak pernah melayani Papa."
Suamiku tersenyum, kemudian mengangguk.
Aku kemudian ke dapur, namun suamiku mengikutiku dari belakang.
"Lho, kok Papa gak tunggu di teras aja?" Tanyaku.
__ADS_1
"Iyaa, Papa pingin liat ibu buat Teh." Kata suamiku.
Aku tersenyum, dan sungguh aku bahagia sekali. Aku bisa merasakan kasih sayang suamiku padaku, ketulusannya dan cara dia mencintai dan menyayangi ku.
Tak makan waktu lama, akhirnya teh pun siap. Kami kembali duduk di teras. Kami ngobrol-ngobrol membicarakan anak-anak dan kerjaan di kantor.
"Pa... Papa gak kangen ma Mamak?" Tanyaku.
"Kangen dong Bu.... Tapi besok kalau Papa dah baikan baru Papa telpon Mamak. Papa gak mau Mamak khawatir. "Kata suamiku.
"Pa... Ibu sayang ma Papa... Papa kalau kerja jangan sampe terlalu paksa diri Pa. Ibu gak mau Papa sakit lagi. Ibu takut Pa."
"Apa ynag ibu takutkan?"
"Ibu takut terjadi yang gak-gak ma Papa kemarin tu. Liat Papa sesak nafas trus nafsu makan gak ada, ditambah lagi Papa lemes dan sempat gak sadarkan diri kapan tu di kantor. Ibu takut sekali Pa."
Suamiku tersenyum.
Aku memeluk suamiku.
"Pa... Kemarin Papa berobat ke dokter dapet uang dari mana Pa?"
Suamiku menghela nafas.
"Papa dapat pinjaman dari teman Bu. Tapi sudahlah... Ibu gak usah pikirkan itu. Ya.... Papa gak mau ibu kepikiran trus ibu sakit lagi. Ya... Yang penting Papa sekarang sudah sehat."
"Iya Pa "
Dari lorong jalan menuju rumahku, kulihat Rahma sedang mengendarai motornya.
__ADS_1
Aku dna suamiku menyambutnya.
"Pa...Bu... Adek pulangnya terlambat. Tadi adek pergi ke tempat percetakan. Jadi telat deh." Kata Rahma dan menyalami kami setelah motornya di parkir di pinggir.
"Iya Nak... Gak Pa pa, yang penting sekarbg adek dah sampek rumah. " Kataku.
" Papa buatin teh hangat yaa..." Kata suamiku
"Gak usah Pa... Adek mau mandi. "
"Ooh gitu... Iya udah mandi duku dah sana." Kata suamiku.
Yusuf datang dan memberi salam, kemudian menyalami kami berdua secara bergantian.
"Dari mana Nak? " Tanya suamiku.
"Yusuf habis kerja kelompok Pa di rumah Anto."
" Sudah makan siang Yusuf?" Tanyaku.
"Sudah Bu... Tadi pulang sekolah Yusuf makan dulu pakai telur dadar. Yusuf liat Papa ma ibu masih tidur, jadi yaa Yusuf makan aja sendiri."
Aku memperhatikan Yusuf bicara. Anakku sudah remaja.
"Iyaa sekarang rapikan biku-bukumu yaa... Habis tu mandi, giliran ma kakakmu yaa..." Kataku.
"Iya Bu." Yusuf masuk kamar.
Aku memperhatikan suamiku yang sedang mengotak katik handphone nya, kemudian suamiku menelpon seseorang.
__ADS_1
Ternyata suamiku menelpon pelanggannya yang sepertinya menanyakan orderannya di suamiku. Setelah selesai menelpon, suamiku kembali duduk di dekatku.
Suamiku menjelaskan siapa orang yang tadi ditelponnya.