
Keesokan harinya...
" Ma... Hari ini kalau Mama merasa kurang sehat sebaiknya Mama jangan ke toko dulu. Biar Siti yang handle dulu. Ya ..." Kata suami saat melihat wajahku yang agak pucat.
Aku menatap sendu suamiku dan mengangguk.
Kemudian aku menelpon Siti untuk mengambil kunci toko ke rumah dulu.
Aku bersyukur sekali mempunyai karyawan seperti Siti, orangnya pintar, cekatan dan yang paling penting adalah kejujurannya.
"Pa... Anak-anak sudah berangkat sekolah?"
"Sudah Ma... Ini Papa baru pulang antar mereka. Ni Papa beli bubur ayam 2 porsi. Kita sarapan dulu yuk..." Ajak suamiku sambil menyiapkan 2 mangkok bubur ayam.
Aku tak keluar kamar, aku sarapannya di kamar karena kepalaku terasa agak pening.
" Hmmm.. yummy bubur ayamnya enak banget Ma... Habisin yaa... Biar Mama cepet fit lagi." Suamiku menyantap bubur ayamnya dengan semangat.
Aku mengangguk dan tersenyum. Sesekali aku meliriknya, aku terharu melihat cara suamiku memperlakukanku sekarang. Dia begitu perhatian.
"Pa... Makasi yaa..."
Suamiku tersenyum dan mengangguk sambil terus melanjutkan sarapannya.
Aku berusaha menghabiskan sarapanku.
Aku kemudian mengecek handphone ku, syukurlah ada 3 orderan yang masuk. Kemudian aku melihat kontak Pram, Pram aktif terakhir saat Pram menelponku kemarin.
Aku semakin kepikiran. "Ada apa dengan Pram?"
Aku menarik nafas.
Kemudian aku mencari obat dan vitamin di laci meja riasku. Aku meminumnya.
__ADS_1
"Ma... Papa antar ke dokter yaa?"
" Gak usah Pa... Mama barusan sudah minum obat dan vitamin. Mama cuma letih aja Pa."
"Iyaa udah, kalau sampai nanti malam Mama belum pulih kita ke dokter yaa.."
"Iyaa Pa." Aku merebahkan tubuhku lagi di tempat tidur.
"Oh iya Ma... Tadi Siti ke sini dan Papa sudah kasikan kunci tokonya."
"Iya Pa. Nanti Mama telepon Siti." Aku memejamkan mataku.
Suamiku mencium keningku kemudian pergi ke ruang kerjanya.
Aku tertidur, mungkin karena pengaruh obat. Namun tidurku hanya sekitar 1 jam an.
Aku langsung menghubungi Siti, agar mempersiapkan orderan yang harus dikirim hari ini.
Aku membasuh mukaku, kemudian duduk di sofa kamarku.
"Ara...Ini aku, Pipin. Pram masuk rumah sakit semalam."
Aku terkejut. "Ya Tuhanku, apa yang terjadi pada Pramku?" Hatiku berteriak.
Aku tahu betul siapa Pram, dia tidak akan ke rumah sakit kalau sakit-sakit sedikit. Berarti Pram keadaannya parah.
Aku langsung menjawab pesan mbak Pipin.
" Mbak, Pram sakit apa? Kenapa dia gak cerita kalau dia lagi sakit????"
Aku tak sadar kalau air mataku menetes. Aku menangis.
Aku tak tahu apa yang harus kulakukan.
__ADS_1
Pesanku belum dibaca mbak Pipin.
Aku menangis. Pantas saja perasaanku gak enak dari kemarin. Bahkan aku merasa sesak nafas.
"Apakah Pram sesak nafasnya kambuh lagi?" Pikirku.
Aku ingin menelpon mbak Pipin, tapi kuurungkan keinginanku. Aku harus tetap tenang.
Aku menghapus air mataku, kemudian aku berdoa memohon kesembuhan untuk Pram.
Tak berapa lama masuk pesan dari mbak Pipin(dari nomor Pram).
" Pram semalam benar-benar sesak nafas. Jadi Sabila ma Rahma langsung membawanya ke rumah sakit. Sekarang Pram sedang tidur."
"Mbak, aku boleh telepon?" Aku minta ijin.
Pipin langsung menelponku dan akupun menerimanya.
" Mbak, Pram sakit apa sebenarnya?"
" Mbak tahunya kapan tu Pram sakit radang Paru, tapi sudah sembuh dan baikan. Tapi 3 hari lalu Pram sakit lagi, kupikir sakit biasa aja. Memang sih Pram demam, tapi Pram tetap ke kantor. Nah kemarin ke dokter lagi, eeeh sempat-sempatnya mampir ke kantor. Pulangnya sampe rumah Pram udah lemes, langsung tiduran. Nah malemnya Pram benar-benar sesak nafas. Trus langsung dibawa ke UGD ma Sabila , ternyata saturasi oksigenne rendah. Langsung dibantu alat pernafasan gitu, dioksigen. Ini Pram sudah bisa tidur."
Terdengar suara mbak Pipin menangis.
"Iyaa mbak... Mbak Pipin harus tenang yaa... Kita doakan supaya Pram bisa baikan dan sembuh,,aamiin yaa Tuhan... Sembuhkan Pram." Kataku dan aku tak sadar kalau aku berbicara di telpon sambil menangis.
"Iyaa Ara... Makasi yaa.."
"Iyaa mbak, nanti tolong kabari aku lagi yaa Mbak, gimana keadaan Pram."
"Iyaa Ara.."
Telepon kuakhiri. Aku duduk lemas. Bermacam-macam perasaan dan pikiran bermain-main di kepalaku.
__ADS_1
Aku hanya bisa pasrah dan berdoa untuk kesembuhan Pram.