
PIPIN
Aku mengelap badan suamiku dengan air hangat.
Suamiku yang dulu badannya gempal sekarang mulai mengurus.
Sudah hampir seminggu suamiku dirawat di rumah sakit. Keadaannya masih lemah, walaupun sudah ada perubahan. Suamiku nafasnya sudah tidak sesesak sebelumnya.
Aku mensyukuri perubahan kesehatan suamiku yang semakin membaik dari hari ke hari.
"Bu... Kenapa ibu mau menikah sama Papa?" Tanya suamiku.
"Ibu gak tahu alasan tepatnya apa, ibu tahunya ibu sayang dan cinta ma Papa. Dan ibu merasa nyaman di dekat Papa."
"Ooh gitu yaa Bu... I love you..."
"I love you Pa...Kalau Papa sendiri kenapa mau nikahi ibu?" Aku sudah selesai mengelap suamiku, sekarang aku memakaikan bedak supaya badannya tetap harum.
"Papa sayang ma ibu, dan Papa liat ibu tulus sayang ma Papa...Ibu mau menerima Papa apa adanya ..Makasi yaa Bu..."
Suamiku menatapku sendu.
Aku tersenyum. " Iyaa Pa...Ibu tahunya Papa tu gak pernah perhatiin cewek waktu di kampus. Papa tu cuek. Beneran sayang ma ibu? " Kataku.
Suamiku mengangguk.
__ADS_1
Aku tahu suamiku menyayangi dan mencintaiku, namun aku juga tahu suamiku sangat menyayangi dan mencintai Ara. Namun sikapku yang dulu selalu marah dan cemburu pada Ara sekarabg sudah tidak lagi.
Sikapku berubah setelah aku membaca pesan Ara dulu yang ditujukan ke suamiku. Karena suamiku dan Ara akhirnya memutuskan menjalani takdir yang sudah ditetapkan Tuhan.
Dan aku tahu suamiku juga sangat menyayangi dan mencintaiku, karena perhatian dan kasih sayangnya dari dulu sampai sekarang tak berubah.
Sekarang, aku menyayangi Ara dan menganggap Ara seperti adikku sendiri.
Aku sengaja mengajak suamiku bernostalgia kenangan-kenangan kami dulu agar sakit yang dirasakannya bisa berkurang.
" Pa... Ibu boleh tanya?"
Suamiku mengangguk dan tersenyum.
Suamiku melempar pandangnnya ke luar jendela dan menghela nafas panjang.....Itu artinya suamiku tak suka dengan pertanyaanku.
"Maafin ibu yaa Pa .. Kalau pertanyaan ibu ini gak Papa sukai yaa gak usah dijawab yaa..." Aku mencium kening suamiku da mengecup bibirnya sekilas.
Suamiku menatapku.
"Papa gak mau Ibu tersakit dengan masalah itu lagi. Maafin Papa, Bu..."
" Ibu sekarang sudah menganggap Ara seperti adik ibu sendiri. Ibu juga gak tahu kenapa perasaan ibu yang dulu marah dan benci pada Ara bisa tidak ada sama sekali. Ibu tulus sayangi Ara."
Suamiku mengangguk, namun kulihat air mata di ujung pelupuk matanya.
__ADS_1
" Ibu sayang ma Papa...Ternyata keikhlasan kita dalam mencintai seseorang sungguh bisa menenangkan. Maafkan ibu yaa Pa..."
" Papa sayang ka ibu, dan Papa yakin ibu bisa merasakannya. Tolong jangan bicarakan Ara lagi yaa Bu..."
Aku menghapus air mata suamiku. Aku menangis melihat suamiku menangis.
" I love you Bu...." Suamiku menggenggam tanganku.
Aku tersenyum dan memeluk suamiku. Suamiku membalas pelukanku.
Aku mengenal suamiku, aku tahu bagaimana cara dia mencintai seorang wanita. Aku tahu bagaimana suamiku di saat yang sama mencintai dua orang wanita.
" Bu..."
Aku melepas pelukanku.
"Iyaa Pa..."
" Makasi yaa karena akhirnya ibu mengerti dan memaklumi apa yang sudah terjadi."
Aku tersenyum. Aku mengusap wajah suamiku, orang yang sangat aku cintai. Aku bahagia melihat suamiku bahagia dan aku merasa sedih saat melihat suamiku bersedih.
" I love you... Papa cepet sembuh yaa... Ayo wujudkan apa yang menjadi cita-cita Papa. Ibu sangat sayang ma Papa, bahagiakan ibu yaa Pa ... "
"I love you, Bu...." Suamiku menatapku dan mengangguk.
__ADS_1