
Selesai beres-beres sarapan, aku masuk ke kamar. Hari ini hari libur jadi aku tidak pergi ke toko.
Aku janji akan menelpon Pram kemarin. Namun aku coba mengirim pesan dulu.
" Pram..."
Pram langsung membaca pesanku. Dan Pram langsung menelponku, kutrima panggilan telponnya.
" Ara... Kamu sehat Ar?" Tanya Pram.
" Yaa Pram, aku sehat dah lebih baik dari sebelumnya. Cuma masih lemes dikit, mungkin mau pemulihan aja Pram. Kamu sendiri gimana keadaanmu Pram?"
"Aku sehat Ar... Kenapa kamu gak balas pesanku dari kemarin? Aku ada salah?"
"Gak ada apa-apa Pram. Cuma keadaanku lagi kacau." Jawabku.
"Kamu kenapa sayang?"
"Sudahlah Pram, aku gak mau bebanin kamu dengan semua masalah-masalahku. Aku ..."
Belum selesai aku bicara, Pram langsung memotongnya.
"Araa... Dengerin aku! Aku sayang ma kamu, aku ingin kamu bahagia. Aku tak pernah peduli akan diriku. Aku dah bilang berkali-kali padamu, aku hanya ingin melihatmu bahagia Ar, walaupun mungkin aku tak mungkin bisa memilikimu. Itu tak masalah bagiku!"
"Iyaa Pram... Tapi aku kasihan liat kamu. Masalahmu juga sudah banyak, aku gak ingin bebanin kamu lagi dengan masalah-masalahku." Aku menangis.
"Sayangku... Ada apa hmm? Ceritakan padaku. Siapa tahu bisa membuatmu lebih longgar."
__ADS_1
Aku masih menangis.
"Ar... Sudah stop dulu nangisnya..."
Kuhapus air mataku.
"Pram... Suamiku akan menikah lagi, besok rencananya."
"Apa??? Yang bener Ar? Gimana sih suamimu tu!!! Aku sudah berpesan padanya untuk menjagamu, untuk membahagiakanmu, trus kenapa sekarang mau menikah lagi? Hah!!! Gak bener nih. Nanti aku telpon suamimu, aku gak terima dia nyakiti kamu!"
"Pram dengerin aku dulu, tolong dengerin ceritaku. Please..."
"Aku gak suka Ara! Aku serius."
"Iyaa... Tapi dengerin dulu ceritaku. Pram... aku punya kelemahan Pram. Aku gak bisa melayani suamiku, mungkin aku sakit atau apa aku tak tahu. Yang terang aku tak bisa melayaninya sebagai istri. Kamu paham maksudku kan..."
"Na karena kelemahanku itu, suamiku ingin menikah lagi. Dan akupun sudah menyetujuinya. "
Pram mengalihkan ke panggilan video dan aku terima.
Pram menatapku sendu.
"Ara... Kamu punya kelemahan bukan berarti kamu harus menyetujui keinginan suamimu untuk menikah lagi. Kamu bisa menolaknya. Setidaknya kamu bisa berobat dulu. Bukan suamimu terus ambil keputusan untuk menikah lagi. Apa itu??? Hmmm...."
"Pram, sudahlah... Aku pasrah dengan keadaanku. Aku dah setuju Pram."
"Gak bisa seperti itu. Aku sudah ngomong ke suamimu agar dia menjagamu dengan baik, kalau dia mau menikah lagi sungguh aku gak terima Ar."
__ADS_1
Aku menatap Pram yang tampak marah.
"Ara... ijinkan aku ngomong ma suamimu."
"Jangan Pram. Kamu beneran sayang ma aku kan... "
Pram mengangguk. "Sangat menyayangimu Ara..."
"Pram, kalau kamu bener-bener sayang ma aku, tolong jangan telpon suamiku. Kemarin malam dia sudah minta maaf dan akan membatalkan niatnya untuk menikahi Lily karena suamiku gak bisa membayangkan kemarahan anak-anakku andai dia menikah lagi. "
"Oooh jadi dia sudah berniat membatalkan pernikahannya yaa. Baguslah kalau begitu. Berarti suamimu takut dimusuhi ma anak-anak yaa..."
"Iya Pram. Rencananya pagi ini suamiku ke rumah Lily calonnya istrinya. Smoga ada jalan terbaik Pram. Doain yaa...." Kataku.
"Iyaa Ar.... Aku yakin semua akan beres kok. Kamu sekarang tenang yaaa...Kamu baru sembuh jadi gak usah banyak pikiran."
Aku mengangguk.
"Pram... makasi yaa..."
Pram mengangguk dan tersenyum kemudian mengecup keningku.
Aku merasa lebih tennag sekarang...
"Ara... Kamu bersabarlah dulu dengan keadaanmu sekarang yaa... Aku akan selalu ada untukmu, slalu menemanimu..."
Aku mengangguk.
__ADS_1
" Aku hanya ingin melihatmu bahagia. Hanya itu Ar.... Tak ada yang bisa mengerti rasa sayang dan cintaku padamu Ar... Aku tulus sayang padamu."