Cintaku Gak Salah

Cintaku Gak Salah
Merasa gak nyaman


__ADS_3

Aku duduk di teras sambil memangku Al, menunggu suamiku pulang dari kantor.


Ria dan teman-temannya masih di kamar. Sementara Afif masih asyik menonton TV, begitu juga Ana.


Aku melihat di kejauhan kedua mertuaku sedang jalan menuju ke rumahku.


Aku menyambutnya dan Al langsung diambil oleh ibu mertuaku dari gendonganku.


Tak berapa lama suamiku datang. Kami berkumpul sambil minum teh hangat.


"Dek, aku istirahat di kamar dulu yaa... Aku agak pening nih. "Kata suamiku.


"Oh iya bang...Istirahat dulu dah," kataku.


Aku masuk ke kamar menemani suamiku, sementara Al masih di gendong neneknya.


Aku memijit kepala Muhlas, dan mengolesi minyak angin.


"Dek...Baru kali ini aku merasa capek sekali. Ada pekerjaan yang harus dikirim sore hari sebelum jam 4, jadi kami semua lembur. yaa menguras tenaga dan pikiran Dek."


Aku hanya mengangguk sambil masih terus memijit kepalanya. Sebenarnya aku juga lagi pusing, karena dari tadi gak bisa istirahat, mau tidur tapi di luar suara TV dan tape recorder besar banget jadi aku merasa terganggu. Hmmm...


Aku merasa gak nyaman, begitu ramai orang di rumahku. Aku menyewa rumah kontrakan yang ukurannya tidak besar sementara semua keluarga suami hampir setiap hari ada di rumahku. Bahkan kadang adik-adik suamiku juga mengajak temannya ke rumah.

__ADS_1


Malam pun tiba, aku harus menyiapkan makan malam. Setelah siap, kami pun makan bersama.


Selesai makan malam, kedua mertuaku berpamitan untuk pulang, jadi Muhlas suamiku harus mengantar mereka bolak balik maklum kendaraan malam agak sulit di sekitar rumah kontrakanku itu. Terpaksa suamiku harus mengantar mereka bolak balik, padahal dia lagi sakit kepala.


Setelah semua pulang, tinggallah aku, Al dan suamiku serta Ria dan Afif yang tinggal di rumahku.


"Dek, kok rasanya aku seperti meriang yaa... " Kata suamiku sambil mengambil jaket kemudian menuju tempat tidur. Aku masih memberi Al ASI.


"Mungkin abang karena abang kecapekan jadi badannya meriang." Kataku.


"Hmmmm.... Iya dek..Abang minum obat dulu dah... " Katanya sambil mencari obat bebas di kotak obat.


"Bang... Ada yang mau aku bahas." Kataku.


"Adek mau ngomong apa?"


"Sebelumnya maafin aku yaa... " Aku diam sejenak karena ragu untuk membahasnya. Kutatap mata suamiku, baru aku melanjutkan kata-kataku.


" Bang, maafin aku yaa,sebenarnya aku merasa gak nyaman dengan keluarga abang yang hampir setiap hari datang. Belum lagi adik-adikk abang bawa temen-temennya main ke sini.Maaf aku kadang gak bisa istirahat di siang harinya karena mereka sangat gaduh. Ada yang menyetel TV dan ada yang menyetel Tape recorder, dan itu suaranya beradu. Aku pusing bang. Belum lagi aku harus menyiapkan makan untuk mereka semua. Dan hal yang paling aku gak suka adalah saat abang harus mengantar ibu,Ana dan bapak secara bergantian bolak balik, padahal abang sudah lelah di kantor."


Suamiku mendengarkan keluhanku.


"Maafkan aku bang... Aku sebenarnya gak mau ungkap ini semua, tapi aku pikir gak baik kupendam jadi aku putuskan untuk membicarakannya dengan abang." Aku kemudian menunduk.

__ADS_1


Suamiku menarik nafas panjang...


"Dek, maafin aku yaa.... Aku sudah membuat adek merasa gak nyaman di rumah sendiri."


"Aku juga bisa merasakan ketidak nyamanan ini dek, karena ini sudah kita jalani hampir setiap hari dan kalo gak salah hampir 1 tahun ini sejak kita menikah. Aku juga merasa lelah harus antar semuanya bolak balik setelah aku pulang kerja, karena aku juga sudah lelah di kantor. "


"Tapi aku sendiri belum tahu cara menyelesaikannya. Karena aku gak mungkin melarang mereka untuk mengunjungi kita."


Aku merasa bersalah mendengar penjelasan suamiku. Aku membuatnya merasa terjepit. Aku diam saja, kemudian memeluk Al buah hatiku.


"Aku bukan gak suka dikunjungi, tapi jangan setiap hari seperti sekarang ini bang. Belum kalau mereka bertengkar, kadang ibu bertengkar sama Ana, kadang Afif bertengkar adu mulut dengan Ria. Pokoknya gaduh bang. Maaf."


Muhlas mencium keningku, "Maafin aku yaa dek. Nanti aku pikirkan jalan keluarnya yaa..."


"Ya bang... Sekarang abang istirahat dah yaa... biar cepet sembuh sakitnya."


Beberapa menit kemudian aku melihat Muhlas sudah tertidur, mungkin karena pengaruh obat yang diminum atau mungkin karena lelah juga.


Aku pandangi wajah suami dan anakku. Tiba-tiba air mataku. menetes. Bukan kehidupan rumah tangga seperti ini yang aku harapkan, tapi aku gak tahu jalan keluarnya bagaimana.


Aku berusaha menerima keadaan ini karena aku berusaha untuk mengerti keadaan suamiku, tapi lama kelamaan aku gak kuat juga.


Dedek Al terbangun dan menangis. Sepertinya dedek pipis, aku kemudian mengganti popoknya dan meninabobokan Al. Akhirnya aku dan Al tertidur.

__ADS_1


__ADS_2