
Hari demi hari aku semakin dekat dengan Muhlas. Kalau di tempat kursus aku memanggilnya dengan panggilan pak Muhlas atau kadang teacher.
Setiap selesai kursus pak Muhlas mengajakku berbincang sebentar. Tapi tidak dengan hari ini. Pak muhlas memanggilku.
"Ara... Kamu mau pulang yaa..." Aku mengangguk.
"Kalo kita jalan-jalan sebentar, kamu bisa kan?"
"Mau kemana pak?" tanyaku.
"Ar, bisa gak kalau di luar kursus kamu jangan panggil aku pak, cukup panggil namaku saja."
Aku tersenyum dan mengangguk.
"Sekarang aku mau mengajakmu makan di warung ikan, murah meriah tapi enak banget lho." Kata Muhlas sambil merapikan buku diktat-diktatnya.
"Kamu mau kan.." Muhlas kembali mengajakku lagi. Muhlas menatapku menunggu jawabanku.
"Iya, tapi jangan lama yaa, soalnya aku belum ijin ke mama". Kataku.
"Gak jauh kok, deket." Muhlas tersenyum kemudian berjalan menuju parkiran motor. Aku mengikutinya dari belakang.
Kemudian kami mengendarai motor masing-masing menuju warung yang di maksud Muhlas.
Sekitar 10 menit kami sampai di warung ikan D. Kami mencari tempat duduk yang kosong karena ternyata warung itu banyak pengunjungnya.
__ADS_1
Kemudian Muhlas memesan 2 ikan goreng lalapan,2 nasi dan 2 minuman jeruk hangat.
"Kamu pernah ke sini Ar? " Tanya Muhlas.
"Gak, aku baru kali ini ke sini. Sepertinya masakannya enak yaa karena aku lihat banyak pengunjungnya." Kataku.
Muhlas mengangguk sambil mengambil sebungkus kerupuk yang ada di depannya dan kemudian memakannya.
Tak sampai 5 menit pesanan kami datang. Masakannya memang enak, ikannya gak amis dan sambalnya enak banget. pas pedasnya. Pokoknya enak.
"Gimana Ar, enak kan?" Muhlas memandangku yang masih menghabiskan ikan. Aku mengangguk.
"Ar... Kamu sudah punya pacar?" Aku tersenyum dan menggeleng.
Aku hanya tersenyum. Kemudian Muhlas tiba-tiba menatapku tajam.
"Ar... Kamu mau menjadi istriku?" Muhlas menatapku sambil menunggu jawabanku.
Aku terdiam. Aku kaget sekali dengan pertanyaan Muhlas yang menurutku sangat tiba-tiba dan menurutku terlalu cepat.
"Kenapa kamu diam Ar? Kamu gak bersedia?" Muhlas memalingkan pandangannya dan meminum jeruk hangatnya.
Aku bingung harus menjawab apa.
"Kamu gak harus jawab sekarang. Kamu pikirkan dulu dah baik-baik yaa Ar... Maaf kalau kesannya aku tergesa-gesa tapi kamu perlu tahu Ar, aku gak mau pacaran jadi kalau aku merasa sudah pas dengan seorang gadis aku lebih baik memperistrinya"
__ADS_1
"Yaa... Ara pikirkan dulu yaa."
" Ya Ar... Aku tunggu." Kata Muhlas sambil menghabiskan minumannya.
Aku menghabiskan minumanku, kemudian aku mengajak Muhlas pulang.
Muhlas mengantarku pulang. Setelah sampai di belokan rumahku, aku menyuruh Muhlas pulang.
"Sampai sini aja dah yaa, gak perlu antar aku sampai rumah, " kataku.
"Aku antar kamu sampai rumah, karena tadi aku mengajak mu pergi."
Sesampainya di rumah, Muhlas minta maaf kepada papa karena tadi mendadak mengajak aku pergi tanpa ijin dulu.
Papa tak mempermasalahkannya. Kemudian Muhlas langsung pamit pulang.
Papa dan mama sepertinya menyukai Muhlas, karena memang Muhlas orangnya sopan, sederhana, baik dan bisa bertanggung jawab.
Aku masuk kamar, kemudian duduk di meja belajarku. Aku memikirkan kata-kata Muhlas yang secara tidak langsung tadi sudah melamarku mengajak aku menikah.
"Secepat itukah? " Pikirku...
Aku baru mengenalnya kurang dari 3 bulan, dan memang kami tidak menjalin hubungan pacaran namun sikap dan perhatian Muhlas kepadaku bisa terlihat kalau Muhlas menaruh hati padaku.
Aku berbaring, namun mataku tak bisa terpejam. Bermacam-macam pikiran bermain-main di kepalaku. Aku takut kecewa seperti pengalamanku sebelumnya dengan Bagus. Namun lama kelamaan akhirnya aku tertidur.
__ADS_1