
Anak-anakku malam ini semuanya menginap di rumah sakit. Anak-anakku sudah tidur. Aku masih terjaga, berharap suamiku sadar dari tidurnya.
Aku pandangi wajah suamiku. Suamiku tampan sekali, berwibawa. Aku tersenyum memandangnya.
Laki-laki yang membuatku jatuh cinta dengan pesona wajah putih bersihnya dan mata sendunya kini sedang berjuang untuk hidup.
Aku tak henti-hentinya berdoa untuk suamiku, untuk kesembuhannya.
" Bangun sayangku.... Aku membutuhkanmu, aku sangat mencintaimu, tolong jangan tinggalkan aku. Bangun sayang.." Bathinku. Aku membelai wajah suamiku.
Air mataku tak terasa jatuh, aku merasa sangat tak berdaya.
"Sayang.... Bangunlah...." Kata-kata itu berkali-kali kubisikkan di telinganya. Aku berharap suamiku mendengar panggilanku dan segera sadar.
Aku mengantuk, dan setengah tertidur.
Dan aku terbangun karena aku merasa ada yang menggerakkan genggaman tanganku. Kulihat, ternyata suamiku.
"Sayang.." Aku membals menggenggam tangan suamiku lagi.
Suamiku perlahan membuka matanya dan tersenyum. Aku terharu, dan kucium hidung mancungnya.
"Pa.... Makasi Papa dah bangun. Ibu khawatir Pa..." Kataku sambil mencium tangan suamiku.
Suamiku tersenyum dan berusaha membuka matanya lebih lebar.
" Papa jangan paksa diri dulu. Papa istirahat dulu yaa... Ibu di sni temenin Papa, tuh anak-anak semua juga nungguin Papa. " Aku tersenyum.
Suamiku mengangkat tangannya dan menghapus air mataku dan berkata pelan.
__ADS_1
" Bu.... Maafkan aku yaa ...Aku belum bisa membahagiakanmu..."
" Ibu bahagia Pa.... Ibu sayang dan cinta ma Papa, bertahanlah untuk ibu. Untuk anak-anak juga Pa....Yaa..."
Suamiku hanya memejamkan matanya. kemudian membuka matanya lagi.
"Sekarang Papa istirahat dulu yaa... Ibu tungguin Papa di sini. I love you Pa..." Kataku sambil membelai rambut suamiku. Perlahan-lahan suamiku tertidur lagi.
Pagi-pagi aku terbangun. Kulihat ketiga anaku juga sudah bangun.
"Bu... Tadi malam Papa bangun gak Bu?" Tanya Sabila
"Papa semalam bangun Nak, tapi ibu suruh istirahat dulu. Biar bener-bener sehat."
"Syukurlah Bu... " Kata Sabila dan Rahma hampir bersamaan.
" Sabila, sekarang ajak adik-adikmu balik ke rumah dulu yaa. Nanti beli aja nasi bungkus di warung yaa..." Kataku dan mengeluarkan uang 50 ribuan 1 lembar.
" Bu, adek nanti ke kantor sebentar yaa... ada yang harus adek kerjain. Gak lama kok, nanti sekitar jam 10an adek dah balik ke sini." Kata Rahma.
" Iyaa Dek... Nanti Yusuf biar dianter sekolah sama kak Sabila aja yaa..." Kataku.
" Iya Bu...." Kata Yusuf, menyalamiku dan menyalami Papanya yang sedang tidur disusul kakak-kakaknya.
Sekarang tinggal aku dan suamiku di kamar rawat. Kuambil air hangat yang sudah disediakan Rahma untuk mengelap badan suamiku.
Suamiku terbangun dan tersenyum.
"Bu.... Papa haus." Aku segera mengambilkan air minum untuk suamiku. Aku membantu meminumkan air putih dengan pipet.
__ADS_1
" Pelan-pelan Pa..."
Suamiku minum dengan perlahan.
"Papa sarapan bubur dulu yaa... Ini ada bubur untuk sarapan Papa. Ibu suapin yaa..." Suamiku mengangguk dan kusuapin sedikit demi sedikt.
Namun baru 3 suap, suamiku sudah tak mau memakannya lagi.
Suamiku menatapku.
"Ibu sudah sarapan?"
"Sudah Pa...Tadi Rahma beli nasi bungkus untuk ibu." Aku tersenyum.
" Bu.... Ada yang ingin Papa katakan. Ibu mau dengar kan?"
"Iyaa Pa... Ibu akan dengarkan. Apa yang ingin Papa katakan ?" Aku mengelus pipi suamiku.
"Papa sebelumnya minta maaf..."
Aku menatap suamiku dan kulihat ada bulir air mata yang akan menetes di ekor matanya. Aku mengambil tissue dan menghapus air matanya.
" Kenapa Papa menangis?" Tanyaku.
"Papa sedih karena Papa belum bisa bahagiakan ibu dan anak-anak. Maafin Papa. Tapi Papa sudah berusaha namun memang inilah nasib Papa."
"Hush.... Papa sekarang gak lihat kalau usaha yang Papa bangun sudah menunjukkan hasil? Papa sudah punya banyak pelanggan, usaha Papa sudah memperlihatkan hasil Pa. Sedikit lagi. Iya kan..." Kataku menyemangati suamiku.
Suamiku tersenyum. "Ibu benar-benar sayang Papa yaa... Papa bahagia Bu.... Terimakasih ibu sudah mau temani Papa sampai detik ini."
__ADS_1
" Ibu sangat sayang dan mencintai Papa. Ibu ingin Papa temani ibu sampai kita punya cucu Pa."
Tatapan suamiku sendu, aku ingin menangis namun kutahan. Aku ingin tegar dan menyemangati suamiku.