
Di tempat berbeda...
Setelah semua urusan beres, akhirnya aku ikut wisuda tahun ini. Aku bahagia karena bisa membahagiakan kedua orang tuaku. Aku bisa mewujudkan impian orang tuaku..
Tampak wajah bahagia mama dan papa.. Aku lulus dengan predikat Cumlaude.. Syukurlah...Aku terharu melihat senyum bahagia mama dan papa.
Sesungguhnya, aku sedih sekali. Karena dulu aku berharap ada seorang pria yang mendampingiku saat wisuda, Bagus harapanku waktu itu. Namun semua mimpiku berantakan.
Namun melihat wajah bahagia kedua orang tuaku, membuat rasa sedihku berkurang.
Teman-teman banyak memberiku selamat. Aku berfoto dengan teman-teman. yang wisuda tahun ini. Ada 21 orang dari fakultas ku yang ikut wisuda, di antaranya Aku, Tuti, Ica, Amir dan beberapa teman yang lain.
"Ara... Selamat yaa.. akhirnya perjuanganmu berhasil." Kak Joko menghampiri aku dan memberiku selamat.
"Makasi kak..." Jawabku dan kemudian aku tersenyum.
"Boleh kita foto Ar?" Kak Joko minta ijin.
"Iya kak, silahkan." Kemudian aku minta tolong Amir untuk ambil foto.
"Ara... Aku mau ke tempat Arif dulu yaa.. Aku senang melihatmu memakai toga ini. Sukses selalu buatmu..." Kata kak Joko. Kak Joko menjabat tanganku dengan tatapannya yang khas.
" Makasi Kak... Oh iya salam ma kak Arif yaa" Kataku. Kemudian kak Joko berlalu.
Amir menghampiriku.
__ADS_1
"Ara... Apa rencanamu selanjutnya?" tanya Amir.
"Aku belum tahu pasti Mir. Cuma mungkin besok aku akan ke tempat kursus bahasa Inggris. Aku mau perdalam bahasa Inggris ku."
Amir manggut-manggut. " Iyaa yaa itu bagus Ar. Melengkapi mana yang kurang."
Aku tersenyum.
"Kalau kamu sendiri apa rencanamu? " Aku bertanya balik.
"Kalo aku si, rencana istirahat sejenak beberapa hari yaa sambil menunggu kantor atau perusahaan yang buka lowongan pekerjaan."
"He he bagus juga rencanamu Mir."
Aku tertawa. "He he kamu bisa aja Mir."
"Kamu harus tetap semangat, perhatikan kesehatanmu. Aku melihatmu agak kurusan sekarang."
"Iya Mir, aku akan makan banyak-banyak yaa Mir." jawabku sambil tertawa.
Amir salah satu sahabatku di masa kuliah. Dia yang selalu memberikan perhatian kepadaku. Namun antara aku dan Amir tidak ada hubungan apapun kecuali sahabat.
Setelah bertemu dengan teman-teman, aku diajak pulang oleh kedua orangtuaku.
Di rumah, mama sudah mempersiapkan acara selamatan kecil sebagai rasa syukur atas keberhasilanku.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, aku terharu sekali melihat nasi tumpeng sederhana yang sudah disiapkan mama.
"Maa.. Makasi yaa ma.. Mama selalu menguatkan Ara." Aku meluk mama dan menangis di pelukannya.
Papa ikut memelukku. Kami bertiga berpelukan..
"Pa... makasi yaa Pa.. " Kemudian aku memeluk papa.
Kemudian kami makan bersama.
"Ara... Apa rencanamu setelah ini? " Papa membuka percakapan.
"Sudah... Biarkan Ara istirahat dulu Pa... Karena kemarin itu pertarungan terberat Ara, ngurus skripsi, ujian terus lengkapi semua berkas-berkas untuk wisuda. Kita biarkan Ara tarik nafas sebentar." kata mama.
Papa mengangguk setuju.
"Pa, mungkin Ara istirahat hanya 2 hari aja Pa.. Terus setelah itu, rencana Ara mau kursus bahasa Inggris Pa, karena bahasa Inggris Ara kurang lancar."
"Iyaa itu bagus Ara, papa setuju."
"Iya Ara... mama juga setuju."
"Untuk tempat kursusnya kamu pilih tempatnya yang bagus yaa Ar, dan kalau bisa jaraknya jangan terlalu jauh dari rumah." lanjut Papa.
"Iya pa... " jawabku.
__ADS_1