Cintaku Gak Salah

Cintaku Gak Salah
Aku Bahagia dan Lega


__ADS_3

Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan tak terasa sudah sebulan lebih Pram tlah tiada.


Sejak kepergian Pram, mbak Pipin sering menelponku. Kalau bukan mbak Pipin yang menelpon, aku lah yang menelpon. Hubungan kami semakin baik dan hangat. Begitu juga hubunganku dengan anak-anak mbak Pipin, terutama hubunganku dengan Rahma.


Suatu siang, saat aku sedang beristirahat di toko. Mbak Pipin menelponku.


"Ar, kamu lagi sibuk gak?" Tanya mbak Pipin.


"Gak sibuk kok mbak, ini jam istirahatku." Kemudian aku menjelaskan jam istirahat dan jam sibukku.


" Ooh gitu. Syukurlah, berarti mbak gak ganggu kan."


Akuvtertawa kecil.


" Mbak, khusus untuk mbakku ini aku gak akan merasa terganggu. Kan ada Siti yang bantuin, jadi masalah toko bisa dihandle ma Siti. Kecuali yang bener-bener gak bisa ditinggal."


Mbak Pipin tertawa.


"Ara... Aku mau tanya sesuatu. Tapi kamu janji gak marah yaa."


"Tergantung pertanyaannya dong, kalo pertanyaannya nyebelin yaa aku marah lah." Kataku dan menggoda mbak Pipin.

__ADS_1


" Ooh gitu? Kalau gitu aku gak jadi tanya dah. Kita bicarakan yang lain aja."


" Lho kok gak jadi tanyain aku sih. Aku kan cuma becanda mbak..Mau tanya apa ayooo." Kataku.


" Janji dulu gak akan marah." Kata mbak Pipin.


" Iyaa , aku janji gak akan marah. Tanya apa mbak?"


"Ar...apakah kamu brnar-benar mencintai dan menyayangi Pram?"


Aku terkejut dengan pertanyaan mbak Pipin. Aku diam sesaat.


Aku mengalihkan ke panggilan video dan mbak Pipin langsung menerimanya.


" Maafin aku Ar." Kata mbak Pipin. Pandangan mataku dan mbak Pipin bertemu.


" Mbak, aku gak marah kok, cuma aku merasa ditampar dengan pertanyaan mbak itu. Aku tahu aku salah, Pram juga salah jadi aku minta maaf. Tolong maafin aku dan Pram."


"Bukan begitu maksudku Ar. Aku merasa bersalah karena ternyata aku membuat kalian tidak bertemu. Aku yang minta maaf."


" Mbak, inilah takdir. Kami memang tidak berjodoh dan Mbak Pipin lah jodoh Pram dan aku berjodoh dengan suamiku. Pram tidak pernah berjanji apa-apa padaku. Pram hanya memberiku sebuah fotonya dan beberapa tangkai bunga edelweis. Hanya itu mbak. Maaf mbak, itulah kenyataannya. Dan aku sangat bersyukur sekali sekarang kita jadi saudara, aku sayang ma mbak. Aku tulus menyayangi Rahma, Sabila dan Yusuf."

__ADS_1


" Ara adikku sayang. Aku mengenal suamiku dan aku tahu bagaimana suamiku mencintai dan menyayangi seseorang. Aku bahagia menjadi bagian dari salah satu perempuan yang dia cintai. Aku sangat mencintainya Ar. Pram sangat berarti bagiku."


Mbak Pipin menangis dan akupun menangis.


" Sudahlah mbak, mbak jangan sedih lagi yaa. Mulai sekarang kalau mbak ada apa-apa bilang aja ke aku yaa. Anggap aku ini benar-benar adikmu. Yaa mbak." Aku menatap mbak Pipin.


Mbak Pipin semakin menangis sampai sesenggukan.


" Udah dong nangisnya mbak. Aku kalo nangis lama-lama suka sulit nafas mbak. Setiap liat mbak nangis aku juga ikut nangis. Aku gak bisa liat mbak nangis." Akupun menangis sesenggukan.


Mbak Pipin menarik nafas panjang, kemudian menghapus air matanya.


" Ar, mbak sayang ma kamu. Makasih yaa karena kamu mau jadi adik mbak. Padahal dulu mbak pernah ngatain kamu macam-macam. Maafin mbak yaa."


Aku menggeleng.


"Aku yang minta maaf mbak, kumohon mbak bisa lupakan semua itu, dan bisa benar-benar maafin aku."


" Iyaa Ar, kita saling memaafkan yaa. Kamu juga tolong maafin mbak yaa."


Aku mengangguk. Aku bahagia dan lega akhirnya semua yang mengganjal sudah longgar dan selesai.

__ADS_1


__ADS_2