
"Pram... Aku bahagia namun kadang aku merasa sangat bersalah. Maafin aku Pram." Kataku dan menunduk. Tak terasa air mataku akan jatuh dan aku tetap menunduk.
"Sayang... Aku ngerti apa yang kamu rasakan. Sekarang kamu mau aku gimana?" Pram menatapku namun aku tetap menunduk.
"Ara... Hmmm... Aku jadi bingung Ar..."
Pram memandang ke samping dengan pandangan yang bingung.
Kami terdiam beberapa saat. Tak lama akhirnya Pram menatapku lagi. Kami saling berpandangan.
"Ara... Aku sayang ma kamu, dan aku gak mau liat kamu sedih dan merasa bersalah terus. Kalau kamu terbeban gak apa-apa Ar... Kamu jalani kehidupanmu sebelumnya biarkan semua berlalu. Anggap semua gak pernah terjadi."
"Gak Pram... Aku gak mau Pram. Aku mau tetap di dekatmu, dampingi kamu. Aku gak mau pisah ma kamu lagi Pram " Kataku sambil menangis.
Pram diam saja sambil menatapku.
"Pram... Maafkan aku...Dan tolong mengerti perasaanku."
"Ara... Kamu sering berkata kalau kamu merasa bersalah, dan akupun yang sebenarnya juga merasa seperti itu. Tapi sungguh Tuhan, aku tak tahu bagaimana sebaiknya aku. Aku sajgat menyayangimu."Pram menunduk sambil memegang kepalanya.
__ADS_1
"Iya Pram, Aku ngerti Pram. "
"Ara... Kamu mau aku gimana Ra?" Pram menatapku dalam.
"Pram... Peluk aku...Aku sayang ma kamu, aku cinta ma kamu. Aku gak mau kamu jauh dariku."
"Sayangku... Sini aku peluk....i love you... Aku sayang banget ma kamu Ar. Rasa cintaku ini anugrah terindah yang kudapat dari Tuhan. Dan rasa ini ada sejak pertama kali kita bertemu dulu. Please tetap sayang dan cintai aku."
Aku mengangguk. "I love you... Pram. Aku juga sangat sayang ma kamu. Aku ingin kaku jadi milikku, walaupun aku tahu itu gak mungkin."
"Husst Ar... Jangan bilang gak mungkin. Semua mungkin kalau memang Tuhan ijinkan. Kita jalani aja yaa sayang..."
Aku mengangguk.
"Iya Pram. Aku selalu berdoa untuk keselamatan dan keberhasilanmu."
Syukurlah kami berdua sudah tenang. Kami sepakat untuk maju menatap masa depan yang akan terjadi. Apapun keadaannya kami akan terus mengikuti jalan yang ditunjukkan Tuhan untuk kami.
"Ar... Besok aku akan pergi ke desa X, Pak Amin adakan acara Tafakur alam untuk semua staf. Aku perginya 2 hari. Kamu jangan telpon yaa, nanti aku yang telpon kamu duluan yaa sayang... "
__ADS_1
"Ooh iya Pram. Tapi jangan macem-macem di sana yaa... Pasti ada banyak cewek yang ikut. Kamu jaga pandangan dan hatimu untukku Pram."
"Hmmm... Apa sih, kok ngomong seperti itu? Aku ini sudah tua Ar, kita berdua sudah hampir kepala 5 jadi gak pernah terpikir hal-hal seperti itu. "
"Iyaa..."
" Ara, dengerin aku yàaa.. Aku gak gampang untuk suka ma orang Ar. Aku bukan tipe laki-laki yang mudah mengumbar rasaku. Kamu dengar itu Ar?" Kata Pram sambil menatapku.
"Iyaa Pram. Tapi kamu tu auka becanda ma cewek. Itu dari SMA kamu lakukan. Kamu sering bercanda riang ma teman-temen yang cewek. Aku inget betul gimana dulu kamu ketawa ketiwi ma temen-temen yang cewek."
Pram tertawa terkekeh-kekeh.
"Ara... Kamu bener-bener gak perhatiin yaa... Aku dulu ketawa dan becanda ma temen-temen tapi mataku selalu ke arahmu. Kamu gak sadar kan?"
"Masak sih... Kok aku gak liat??"
"Yaa gimana kamu bisa liat, kamu menunduk terus sambil corat-coret kertasmu. Kalau kamu mengangkat kepalamu, aku seneng banget, aku berharap kmau akna melihatku. Tapi... Hmmm ternyata gak, kamu cuma sesekali aja liat aku."
"Ooh gitu yaa.. He he... maafin aku yaa.. Aku gak peka. I love you sayangku."
__ADS_1