Cintaku Gak Salah

Cintaku Gak Salah
Hampa


__ADS_3

Aku sedih melihat Pram dari layar handphone ku yang sedang tidur dengan bermacam-macam alat yang dipasang di badannya.


Suamiku duduk di sebelahku dan memelukku. Aku tak tahu perasaan apa yang sedang berkecamuk dalam hatiku. Aku menangis.


Sebelum telepon diakhiri mbak Pipin, tak lupa mbak Pipin memintaku berdoa untuk kesembuhan Pram.


"Ma... Sudahlah... Sebaiknya Mama doakan Pram supaya Pram kuat dan bisa lolos sari masa kritisnya. Ya...." Kata suamiku dan aku hanya memgangguk.


Aku menatap suamiku.


"Pa... Maafin Pram yaa Pa... Maafin dia... Maafin Mama..." Kataku dan kemudian menunduk.


Suamiku mengangguk.


"Sekarang Mama tenangin pikiran Mama, trua kita sama-sama doakan Pram yaa... "


Aku mengangguk....


"Ma... Malam ini biar Mama gak usah masak yaa... Papa pesan makanan di aplikasi online saja yaa..."


"Iyaa Pa...Nanti Papa tanya anak-anak pingin makan apa yaa..." Suamiku mengangguk dan keluar mencari Arini dan Azka.


Aku duduk di tempat tidurku. Seketika nafsu makanku hilang. Aku tak berselera. Aku membayangkan penderitaan Pram saat ini.


"Kamu kuat Pram... Kamu harus kuat. Kamu ingin melihatku bahagia, ada sadarlah Pram...." Bathinku berteriak dan air mataku terus bercucuran.


Aku melihat foto profil Pram. Aku menatap mata sendu Pram.


Kenangan-kenangan saat masih di SMA menari-nari di pikiranku. Terbayang bagaimana keras dan kekehnya Pram kalau aku tak mau menuruti nasehat dan sarannya. Palagi yang berhubungan dengan kesehatanku.


Terbayang bagaimana Pram memberikan perhatiannya padaku. Aku ingin berteriak meminta untuk kesembuhan Pram. Aku menangis.


Aku duduk bersimpuh dan berdoa untuk kesembuhan Pram dan juga untuk ketenangan serta kekuatan buat mbak Pipin untuk menghadapi ujian ini.

__ADS_1


Keesokan harinya, aku hanya duduk di kamar. Sebelumnya aku sudah mrnyiapkan sarapan dan bekal yang harus dibawa anak-anakku. Kemudian suamiku mengantar anak-anak sekolah.


Hati ini aku tidak ke toko, adu audah menelpon Siti untuk menghandle toko dan mempersiapkan orderan-orderan yang harus dikirim.


Semalam aku tidak tenang tidur, karena terbayang wajah Pram yang pucat.


Aku menelpon mbak Pipin ingin menanyakan keadaan Pram.


"Mbak, gimana keadaan Pram?" Tanyaku.


" Pram masih belum sadarkan diri Ar. Mbak takut Ar, mbak gak mau kehilangan dia. Mbak sangat menyayanginya dan mbak sangat membutuhkannya..." Mbak Pipin menangis.


Akupun menangis.


"Kita hanya bisa berdoa pada Tuhan mbak... Smoga Pram bisa melewati masa kritisnya ini mbak. Mbak juga harus jaga kesehatan, dan mbak juga harus kuat demi anak-anak. Yaah..." Kataku menguatkan.


Kami telpon biasa bukan video call. Kemudian mbak Pipin menceritakan bagaimana kejadian sampai Pram menjadi kritis.


Setelah kurang lebih 5 menit kami telponan, tiba-tiba mbak Pipin berteriak.


Aku senang mendengarnya, aku bersyukur pada Tuhan.


"Bener mbak? Ara mau liat mbak, maafin Ara... " Aku ingin megalihkan ke panggilan video namun aku gak enak.


Namun mbak Pipin langsung mengalihkan ke panggilan video dan akupun langsung menerimanya.


"Mbak, sebaiknya panggilkan dokternya mbak." Kataku. Namun Pram melarang dengan gelengan kepala.


Aku melihat Pram membuka matanya.


" Ara... Sebentar... Mbak kasi liat ke Pram." Kemudian tampilan video dirubah hingga aku dan Pram dan Mbak Pipin bisa saling lihat.


"Pram... Kamu lihat siapa ini kan... Ayo semangat sayangku... Aku dan Ara sangat berharap kamu sembuh." Kata mbak Pipin.

__ADS_1


Aku menatap mata Pram. Tatapanku bertemu dengan Pram. Aku hanya menangis tak sanggup berkata-kata...


Pram menatapku lemah dan menggelengkan kepalanya seakan-akan berkata agar aku jangan menangis. Aku hanya bisa menangis. Kami memang tak berkata-kata tapi seolah-olah hati kami berbicara.


Aku tahu, Pram paling gak suka kalau melihatku menangis. Pram ingin melihatku selalu tersenyum dan bahagia.


"Maafin aku Ar...." Kata-kata itu akhirnya keluar dari mulut Pram." Aku menangis dan kulihat mbak Pipin pun menangis.


"Aku ingin kamu bertahan dan berusahalah untuk sembuh Pram, aku mohon..." Aku akhirnya bersuara mensuarakan apa kata hatiku.


Pram menggeleng dan menarik nafas dalam-dalam...


"Pin...Maafkan aku yaa... "Kata Pram dengan suara lemah.


"Pa... Papa harus kuat, ibu sayang Papa, ibu ma anak-anak masih butuh Papa." Mbak Pipin menangis.


" Tolong jaga anak-anak.." Kata Pram sambil memejamkan matanya.


"Papa kuat... Papa kuat... " Kata mbak Pipin sambil menangis.


" Mbak Pin, tolong panggil dokter mbak... Pram.... Aku... aku.... " Aku menangis dan gak sanggup melanjutkan kata-kataku.


Pram menatapku dan tersenyum....Aku tak mampu melanjutkan kata-kataku, aku menatap Pram dengan tatapan memohon.


Kemudian mbak Pipin berteriak memanggil suster.


"Pram... jangan tinggalkan aku Pram...." Teriak Pipin.


Aku tak melihat Pram lagi walaupun panggilan video masih hidup. Aku hanya mendengar suara saja. Mungkin karena kamera handphone sudah gak tepat arahnya.


Terakhir kudengar suara mbak Pipin berteriak memanggil nama Pram.


Aku merasa hampa.... Aku sudah kehilangan dia.... Aku duduk lemas bersender di dinding kamarku. Air mataku deras mengalir, dadaku terasa sakit, sakit yang teramat sakit.

__ADS_1


"Aku mencintaimu Pram .... Kamu orang baik Pram...." Kataku dalam hati.


Aku menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainannya.


__ADS_2