
Sampai di rumah aku langsung masuk kamar, karena aku belum fit benar jadi badanku mulai lemas. Suamiku mengikutiku dari belakang. Sementara anak-anakku istirahat ke kamar mereka masing-masing.
Suamiku keluar kamar lagi dan tak lama kemudian membawa segelas teh hangat.
"Ma... Ini teh hangatnya Ma... Mama kelihatannya masih lemes yaa. Ini Papa buatin mama teh hangat gak terlalu manis kok Ma." Kata suamiku sambil menyodorkan segelas teh padaku.
Aku tersenyum dan meminum nya. " Makasi Pa."
Aku kemudian bersiap untuk tidur. Suamiku mengelus rambutku.
" Ma... Papa sayang banget ma Mama. " Kata auamiku.
Aku hanya mengangguk.
"Ma... Papa jadi ragu untuk menikah lagi. Apalagi Papa lihat sikap Arjun tadi di lesehan." Kata suamiku sambil menggeleng.
Aku memandang suamiku tanpa ekspresi apa-apa. Aku lelah, hatiku lelah.
__ADS_1
"Sebenarnya Ma, pelayan tadi tu juga yang melayani kami saat berkunjung ke sana bersama Lily. Waktu tu Papa ke sana bertiga ditemani Ali. Waktu tu kami membicarakan soal rencana pernikahanku dengan Lily. Jadi mungkin pelayan tadi tu kebetulan mendengar pembicaraan kami." Kata suamiku.
"Ooh begitu... Iyaa tapi semua sudah beres kan Pa. Papa gak perlu khawatir." Kata dengan suara datar.
"Iya Ma... Papa sangat berterima kasih karena mama sudah mendinginkan suasana dan bisa menyelesaikan masalah tadi." Kata suamiku sambil menggenggam tanganku kemudian menciumnya.
Aku tersenyum kemudian membuang pandanganku ke arah lain.
" Ma... Kenapa mama bersikap dingin pada Papa? Maafin keinginan Papa untuk menikah lagi itu. Apakah karena itu? "
"Itu hanya perasaan Papa saja, maafkan Mama kalau Papa merasa seperti itu. Mama hanya masih merasa belum fit aja Pa." Kataku.
Aku mulai kesal mendengar kata-kata suamiku. Aku bangun dari posisi tidurku.
"Pa... sejujurnya mama sudah tak ingin membahasnya karena semua sudah Mama anggap selesai. Toh mama juga sudah menyetujuinya. Apalagi yang Papa inginkan. Ini semua belum cukup?" Kataku dan menciba melepas genggaman tangan suamiku.
" Tapi sikap dingin Mama 3 hari terakhir ini membuat Papa takut Ma."
__ADS_1
"Apa yang Papa takutkan. Pa... Mama sudah menyetujui keinginan Papa untuk menikah lagi, walaupun jujur Pa, itu sangat berat dan menyakitian. Tapi mama sadar kalau beberapa bulan terakhir mama sering sakit dan tak bisa melayani kebutuhan biologis Papa . Jadi semua perasaan Mama, sudah mama kesampingkan. "
Suamiku diam dan tertunduk.
" Pa... Mama bukan tak mau melayani Papa, tapi mama lagi sakit. Cuma .... " Aku tak bisa melanjutkan kata-kataku.
Syamiku masih tertunduk.
"Pa... Tolong jangan bahas ini lagi, yang terpenting Mama sudah setuju dan tidak mempermasalahkan Papa akan menikah lagi." Kataku dan mencoba untuk berbaring lagi dan akupun menangis.
Namun tiba-tiba suamiku memelukku. Namun aku menolaknya.
" Maafin Papa... Tolong maafin Papa. Papa dah sakiti perasaan Mama." Kata suamiku sambil memandangku.
Aku tak bisa ngomong karena perasaanku terasa sesak dan aku tak bisa membendung air mataku lagi. Yang sebelumnya aku selalu berusaha untuk tak menangis di depan suamiku namun kali ini aku gagal.
Aku menangis dan memeluk guling yang ada di dekatku. Aku berusaha menghentikan tangisku namun tak berhasil.
__ADS_1
" Ooh Tuhanku, mengapa Kau biarkan tangisku pecah di hadapan suamiku?? Aku tak ingin tampak lemah Tuhan. Aku ingin tampak tegar di hadapan suamiku Aku sadar akan kekurangan dan kelemahanku." Bathinku