
Sejak kejadian kemarin, aku lebih berhati-hati dalam segala hal yang berhubungan dengan Ara. Aku juga tak ingin menyakiti perasaan istriku.
"Pa... kenapa kok Papa bengong sih?" Tanya Rahma.
"Ooh gak ada Dek... Papa cuma lagi mikirin dana untuk nutupin orderan Pak Rudi. Masalahnya ini ada 2 orderan yang belum diambil pemiliknya sementara kemarin Papa sudah bayarkan SPP adikmu Yusuf." Kataku.
"Gitu yaa Pa...Kalau Papa butuh duit, tu ada uang tabungan adek. Papa bisa pakai itu dulu, dengan catatan pinjam Pa... Besok kalau sudah semua pada bayar, Papa ganti uang adek."Kata Rahma.
Aku tersenyum memandang anakku Rahma.
"Iya Dek... Nanti Papa mau coba buat perjanjian di tempat Papa ambil bahan tu Dek. Siapa tahu Papa dikasi kelonggaran bayar sampai 1 bulan." Kataku semangat.
"Wuiih Papa memang keren yaa, Papa slalu punya ide-ide brilian. " Kata Rahma sambil mengacungkan jempolnya padaku.
"Hmmm Adek bisa aja puji-puji Papa... Bilang aja adek seneng kan, duitnya gak jadi dipake." Kataku sambil tertawa dan memainkan mataku.
Rahma awaknya tertawa, namun kemudian cemberut.
" Gak kok Pa.... Iiih Papa ini... Adek tu beneran niat bantu, eeee Papa malah berpikir buruk ke Adek. Hmmmm adek gak suka!!!" Kata Rahma sambil cemberut .
Aku tertawa melihat wajah Rahma yang cemberut sambil memanyunkan mulutnya.
"Papa becanda Dek... Awas bibirnya jangan dimanyun-manyunkan kayak gitu. Ntar gak bisa balik lho...Masak cantik-cantik bibirnya jelek." Kataku sambil tertawa.
"Habis Papa si... buat Adek kesel!" Kata Rahma.
"Iyaa yaa Papa minta maaf yaaa.... Makasi yaa Dek, tabungan Adek disimpen aja dulu nanti kalau kita butuh dana kepepet baru kita pakai yaaa..." Aku berdiri dan mengelus rambut anakku, dan kucium.
Akhirnya Rahma tersenyum .
"Dek...Papa pingin dibuatin kopi dong, tolong buatin Papa yaa..." Kataku.
__ADS_1
"Iya Pa... Ntr adek buatin."
Anakku langsung membuatkan aku kopi, kemudian langsung menyuguhkannya untukku.
"Makasi yaa Dek..."
Rahma tersenyum.
Aku memang lagi butuh uang untuk menyelesaikan orderan, namun aku tak ingin memakai uang tabungan anakku. Jadi kupikir nanti sebaiknya aku minta ke Koko yang juslan bahan kasi aku keringanan waktu pembayaran aja.
"Dek, Papa keluar dulu yaa... Nanti tolong adek gambar desain orderan Pak Rudi yaa..." Aku berpesan pada Rahma.
"iya Pa... Papa hati-hati di jalan yaa... Adek takut ntar Papa bawa motornya sambil tidur lagi." Rahma nampak cemas.
Aku tersenyum, kemudian mencium rambut anakku.
"Papa akan hati-hati Dek... Doain Papa yaa.." Kataku dan anakku mencium tanganku.
Hubunganku dengan Rahma memang hangat, berbeda dengan Sabila... Aku sering adu pendapat dengan Sabila, kami sering tidak cocok Mungkin karena wajah dan sifat Sabila yang mirip dan hampir sama denganku membuat kami sering ribut dan gak sejalan.
Rahma lebih periang, dan lebih mau bersabar mendengarkan dan menerima pendapat yang berbeda. Dan bawaannya yang selalu enjoy membuat hari-hari bersama Rahma selalu rame dan ceria.
Aku langsung menuju ke supplier bahan baku orderanku. Sampai di sana aku langsung minta keringan waktu pembayaran di Koko pemilik tokonya.
Dan aku sangat bersyukur sekali, Koko memberiku keringanan waktu pembayaran sampai 1 bulan.
"Gak apa-apa Pak Pram, bayarnya besok pas dah dapet bayaran dari pelanggannya Pak Pram aja."
Kata Koko.
"Iyaa Ko... Makasih banyak Ko. Nanti kalau dah dibayar langsung aku selesaikan notanya."
__ADS_1
"Okeey Pak Pram. Santai.... Sukses yaa Pak..."
Aku semangat dan optimis usahaku bakal maju. Smoga Tuhan memudahkan usahaku ini. Aku bahagia banget. Aku ingin mengabarkan perkembangan usahaku ini ke Ara.
Setelah semua selesai dari tempat sablon , aku mampir di angkringan. Aku ingin tahu keadaan Ara dan aku pingin lihat Ara.
Alu pesan minuman jeruk dingin. Aku mengirim pesan ke Ara dna kulihat Ara sedang online.
"Ara... "
Kurang dari 5 menit Ara sudah membaca dan membalas pesanku.
"Iyaa Pram..."
Kujawab," Iyaa Ar...."
"Ada apa Pram?"
Hmmm aku gak suka baca pesan Ara terakhir, apa maksudnya bilang "ada apa?"
Aku gak membalas pesan Ara. Aku bengong lihat foto Ara.
"Pram..."
Aku baca pesannya tapi tak kubalas.
Akhirnya Ara menelponku, dan kutrima.
"Pram... Kenapa? Kok pesanku cuma dibaca aja. Lagi sibuk yaa?" Kata Ara.
"Gak sibuk kok Ar... " jawabku singkat.
__ADS_1
"Praam.... Kenapa?