
Aku kuliah seperti biasa. Aku berjalan menuju ruang kuliah. Masih pagi, udara terasa sejuk dan hari ini tampah cerah.
Saat aku akan masuk ke ruang kuliah, tiba-tiba ada seseorang yang menarik tanganku pelan dari belakang.
"Pram, bisa keluar sebentar, ada yang mau aku bicarakan," kata Armando.
Aku menoleh ke belakang, dan ternyata Armando di belakangku.
""Ooh kamu, baik. Tapi aku ada kuliah 15menit lagi. Kalo gak lama aku mau tapi kalo lama maaf aku gak bisa," kataku sambil memandang Armando yang kelihatan agak marah dan kesal.
"Gak lama kok, ayo buruan kita ke belakang bentar."
Aku kemudian menuju ke belakang kampus mengikuti Armando yang sudah berjalan di depanku.
Sesampainya di belakang kampus, Armando langsung berbicara keras sambil memandang ke arahku dengan gaya menantang.
"Kamu ada hubungan apa dengan Pipin?! Kamu kan tahu kalau Pipin itu pacarku kenapa kamu mendekatinya??
Aku tak gentar dengan suara Armando yang meninggi, " Emang aku ada hubungan apa dengan Pipin? Aku cuma teman saja gak lebih. Dan andaikata Pipin dekat dengan aku, apa salahnya? Coba kamu tanyakan sendiri ke Pipin."
Aku geram melihat gaya Armando yang sok jadi jagoan.
"Arrgh... kamu banyak omong, kamu sudah tahu Pipin itu pacarku, seharusnya kamu jangan dekat-dekat dengan Pipin. Kamu ngerti gak, hah??"
__ADS_1
Kesabaranku mulai habis karena gaya Armando yang sok dan mulai memegang kerah bajuku.
"Kamu jangan macam-macam ya... Aku gak suka gayamu yang sok seperti ini, kamu pikir aku takut ma kamu!!! " Aku menepis tangan Armando dari kerah bajuku. Dan mulai memasang kuda-kuda untuk melawan.
Banyak mahasiswa yang melihat aku dan Armando beradu mulut.
Tiba-tiba muncul Agus dan Pipin. Teman-teman mulai ada yang melerai, tapi Armando masih kelihatan marah dan sok jago.
Aku tetep dengan posisiku memasang kuda-kuda.
"Sudah, sudah kenapa si kamu Armando? Sikapmu seperti anak kecil aja. Kamu harusnya tanya permasalahannya dulu ke Pipin secara baik-baik." Agus berusaha menengahi.
Pipin diam saja di sebelah Agus. Pipin tampak khawatir dan takut.
"Lho kamu berani ngomong seperti itu ke aku? Aku ini temanmu, teman Pipin dan juga teman Pram. Aku tahu permasalahannya, jadi kamu jangan bersikap seperti itu!!" Agus mulai kesal.
Aku masih saling adu pandangan dengan Armando.
"Sudah, sekarang begini, biarkan Pipin yang memilih siapa yang dia sukai, kamu jangan sok jagoan dan memaksakan perasaanmu!!" Agus kembali bersuara.
"Armando, aku mencintai Pram, maafkan aku. Sudah berkali-kali aku katakan padamu kalau kita sudah gak cocok karena kamu sering paksakan kehendakmu. Dan itu sudah aku katakan berkali-kali kepadamu sebelum aku dekat dengan Pram. Tapi kamu tetap gak mau terima." Pipin bersuara kemudian menunduk.
Aku tercengang mendengar pengakuan Pipin. Sementara aku tahunya aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Pipin, selain teman.
__ADS_1
Perlahan aku menurunkan tanganku yang tadi posisinya memasang kuda-kuda. Aku menghela nafas.
Pipin memandangku.
Armando kemudian duduk lemas.
"Sudahlah Armando, kalo memang sudah tidak ada kecocokan kenapa harus dipaksakan," Agus menepuk pundak Armando.
"Yaa udah terserah kamu Pin..." Kata Armando lemas. Kemudian berdiri dan beranjak pergi.
Aku kemudian duduk di dekat pohon. Aku menarik nafas. Pipin dan Agus mendekati aku. Dan teman-teman mahasiswa yang lain mulai beranjak pergi.
Tinggallah aku, Pipin dan Agus. Aku masih menunduk terdiam. Sementara Pipin dan Agus mengambil tempat duduk di sebelahku.
"Maafin aku Pram, aku buat kamu dalam masalah," kata Pipin sambil menunduk dan menangis.
"Hmm sudahlah Pin, gak apa-apa. Semua sudah terjadi, dan itu bukan salahmu," kataku menenangkan Pipin yang menangis.
"Ya udah Pram, sekarang kamu selesaikan masalahmu dengan Pipin, aku pergi dulu. Aku ada kuliah," kata Agus sambil menepuk pundakku.
"Ya Gus, thanks yaa ," jawabku sambil menjabat tangan Agus.
Agus meninggalkan aku dan Pipin berdua.
__ADS_1
Aku masih terdiam. Sementara tangis Pipin sudah mulai reda. Aku gak jadi ikut kuliah, karena moodku sudah hilang.