Cintaku Gak Salah

Cintaku Gak Salah
Ara jadian dengan Bagus


__ADS_3

"Ara.. kamu pulang ma siapa minggu ini? " tanya Bagus.


Hari ini adalah giliran aku pulang ke rumah orang tuaku. Kami sudah membuat jadwal pulang 1 kali dalam seminggu, dan itu di rolling bergiliran.


"Aku rencana mau pulang diantar ma pak Ketua," jawabku.


"Pak ketua gak jadi pulang hari ini katanya ada urusan ma pak Kades yang gak bisa ditunda. Jadi giliranku yang harusnya minggu depan dimajukan hari ini. Kamu pulang sama aku aja yaa," Bagus menawarkan diri.


"Oh begitu yaa Gus, kok pak Ketua gak ada ngabari aku yaa? ini mendadak yaa?"


"Iya, kamu gak liat papan pengumuman yaa? Di situ ada kok pak ketua umumkan siapa yang pulang hari ini."


"Ooh begitu yaa... Baiklah, aku nebeng ma kamu yaa."


"Siap..." Bagus mengacungkan jempolnya.


"Kita berangkat jam berapa Gus?"


"Kita berangkat jam 3 sore aja, bagaimana, setuju?"


Aku mengangguk dan tersenyum.


"Ar..nanti kita men ke kute dulu, mau?" tanya Bagus.


"Lain kali yaa Gus. Soalnya aku belum bilang ke orang tua di rumah, aku takut nanti mereka khawatir kalo aku telat pulang."


"Ooh gitu.. ok dah, lain kali." Ucap Bagus sambil tersenyum


Bagus memang sejak awal perkenalan dah suka ma Ara. Kerap kali Bagus kasi perhatian ke Ara. Soal makan, mengawal Ara pergi mandi, pergi kasi penyuluhan dan lainnya. Kadang saat rapat, Bagus sering memandang Ara dari kejauhan. Ini mungkin yang namanya Cilok(Cinta Lokasi).


***


Sore harinya aku dan Bagus bersiap pulang. Bagus membawa sepeda motor dari rumah sejak awal KKN. Supaya mempermudah transportasi teman-teman d sini niatnya.


Di perjalanan Bagus yang lebih banyak bicara. Bagus menanyakan hobiku, makanan favorit, bahkan Bagus juga menanyakan tanggal lahirku dan zodiakku apa. Semua obrolan-obrolan kami mengalir aja.


"Ara.. kamu udah punya pacar?" Tiba-tiba Bagus menanyakan hal yang pribadi.

__ADS_1


Aku senyum aja dan gak menjawab.


"Ara, kamu dengar kan pertanyaanku?" Bagus mengulang pertanyaannya.


Aku masih diam, karena aku bingung harus menjawab apa. Sejujurnya aku suka ma Bagus tapi aku masih belum tahu arti rasa sukaku. Apakah karena memang suka kepribadiannya, perhatiannya, cinta atau ini hanya cinta lokasi aja. Semua pikiranku buyar seketika karena Bagus tiba-tiba menghentikan motornya dan minggir ke tepi jalan.


"Lho kok berhenti?" tanyaku.


Bagus turun dari motor dan menggerak-gerakkan pinggangnya.


" Aku pegel Ar, pinggangku mau dilemesin dulu bentar." Agus tetap melakukan aktivitas senam pinggangnya.


"Ooh iyaa Gus." Aku senyum dan turun dari motor. Cuma aku khawatir karena aku melihat cuaca agak mendung. " Hmm bakal hujan ne,"bathinku


Bagus mungkin melihat kekhawatiranku.


"Kenapa Ar? Kamu tampak khawatir."


"Langit kelihatannya mendung Gus, aku takut nanti kita kehujanan. Kita buruan lanjutin perjalanan yuk," pintaku.


Bagus berdiri menatapku. "Ar, yaa kita pulang. Tapi kamu jawab dulu pertanyaanku tadi."


"Ar.. kenapa kamu diam? Ara... Sejak awal aku melihatmu, aku sudah suka sama kamu. Apa kamu gak merasakannya? Atau kamu memang mengabaikan perasaanku? Jawab Ar..Please..."


Aku memberanikan diri melihat Bagus.


"Gus, aku tahu kamu perhatian sama aku. Tapi aku gak tahu perasaanmu yang sebenarnya bagaimana. Jadi sudahlah kita seperti ini menurutku itu lebih baik. Mungkin kamu cuma suka sesaat aja Gus. Jadi yaa jalani biasa aja, sampai perasaanmu benar-benar pasti. Yaa..."


Agus berusaha meyakinkan aku.


"Ara... aku yakin dengan perasaanku. Kalo kamu gak percaya besok kamu ku ajak ke rumahku. Aku sering ceritain kamu ke ibuku. Aku serius Ar, aku suka ma kamu, sayang ma kamu."


Saat bersamaan hujan mulai turun, kemudian kita menepi di pinggir pertokoan supaya gak basah kena hujan. Ada beberapa pengendara motor juga berteduh di sana.


Kemudian aku duduk di kursi panjang punya toko. Bagus ikut duduk di sampingku.


" Nih, kamu pakai jaketku," Bagus memberikan jaketnya kepadaku.

__ADS_1


Aku mengambil dan memakainya.


"Makasi Gus..." Tak sengaja mataku bertemu dengan Bagus. asa perasaan tak menentu di hatiku. Terasa indah dan berdesir membuatku merasa bahagia.


Bagus refleks menggenggam jari-jemariku. Aku tambah gugup dan debaran jantungku semakin gak menentu. Aku berusaha mengontrol perasaanku.


"Aku mencintaimu Ar... "bisik Bagus.


Aku masih belum tahu bagaimana perasaanku sebenarnya. Tapi perasaan berdebar-debar ini apakah artinya aku juga menyukai atau cinta ma Bagus? Aku larut dengan perasaan dan pikiranku sendiri, sementara Bagus tetap menggenggam jari-jemariku. Tiba-tiba ada perasaan nyaman...Aku menarik nafas, kemudian menghembuskannya perlahan. Hmmmm...


"Ara... Aku mqu kamu jadi pacarku mulai saat ini. Kamu mau kan..."


Entah dorongan apa yang membuatku mengangguk. Aku masih mengontrol perasaan dan hatiku yang semakin tidak menentu.


"Makasi Ar.. Aku janji gak macem-macem, aku janji akan bahagiakan kamu." Bagus aemakin meyakinkanku.


"Gus... Aku takut kecewa, dan aku takut sakit hati suatu saat nanti. aitu sebabnya aku gak berani menerima cintamu. Karena aku lihat banyak cewek di sekelilingmu. Dan aku dengar dari Dewi banyak cewek menyukaimu."


"Aku gak peduli ma yang lain, aku suka dan cinta ma kamu. Yang ku tahu cuma itu."


Bagus beranjak berdiri, dan duduk berjongkok di depanku. Bagus menatap mataku. Dan aku membalas tatapannya.


Perasaanku semakin gak menentu. Namun aku segera sadar bahwa aku harus pulang. Karena aku melihat hujan sudah mulai reda.


Aku berdiri dan perlahan melepas genggaman Bagus.


"Gus, hujan sudha mulai reda, kita jalan lagi yuk..."


Bagus tersenyum dna mengangguk. Kemudian kami melanjutkan perjalanan.


Di sepanjang perjalanan, Bagus bersenandung ...


Oh janjiku... tak kan kulepas selamannya... ho ooo


Oh janjiku kan kuikuti kata hatiku... hoooo ooo


Tangan kiri bagus menggenggam tanganku dan ditaruh di paha kirinya, sementara tangan kanannya tetap memegang gas.

__ADS_1


Aku merasa bahagia, aku berfikir sudah menemukan orang yang benar-benar mencintaiku dan aku mencintainya. Aku terbuai dengan janji-janji manis Bagus.❤️❤️❤️


__ADS_2