Cintaku Gak Salah

Cintaku Gak Salah
Lolos mendapatkan beasiswa


__ADS_3

Waktu berjalan cepat, tak terasa sudah hampir 1 bulan sejak Ara mendaftarkan diri untuk mendapatkan beasiswa x.


Tuti menghampiri aku. ";Ara, selamat yaa ku lolos dapat beasiswa x. Kamu hebat lho. Teman-teman kita yang 1 angkatan cuma 5 orang yang lolos. Kamu ma Amir salah satunya." Tuti memberikan ucapan selamat kepadaku.


Aku kaget dan senang sekali. Benar-benar surprise.


"Beneran Tik aku lolos? " kataku dengan nada gak percaya.


Tuti mengangguk. "Coba dah kamu lihat sendiri ke papan pengumuman yang sebelah kanan tu," kata Tuti sambil menunjuk salah satu papan pengumuman.


Aku bergegas menuju papan pengumuman.Dan benar adanya, ada namaku, Amir, Icha, Suci dan kholid. Aku senang dan bahagia sekali. Uang beasiswanya bisa kupakai untuk tambahan membeli buku-buku.


Aku sangat bersyukur karena berhasil lolos mendapatkan beasiswa x ini, karena yang mendaftar banyak dan yang diterima hanya beberapa orang saja.


"Ara, selamat yaa... Kamu berhasil mendapat beasiswa x itu," ucap Amir mengagetkan aku dari belakang. Karena senangnya, aku sampai gak sadar kalau ada Amir di belakangku.

__ADS_1


"Ya Amir, aku senang sekali. Tapi kamu juga dapat kok, selamat yaa."


Amir tertawa senang sambil mengangguk.


Tak berapa lama teman-teman yang lain datang menghampiri kami dan mengucapkan selamat.


***


Setelah kuliah terakhir usai, aku segera pulang, Aku menunggu angkot. Cuma kali ini aku sendiri, karena teman-teman yang satu jalur denganku sudah pulang lebih dahulu.


"Kamu belajarlah lebih rajin lagi yaa nak, " nasehat ibu padaku sambil masih memelukku.


Aku mengangguk. Dan Ayah membelai rambutku. Akju terharu dan sangat senang. Selain aku bahagia karena mendapat beasiswa, aku juga bahagia karena aku melihat kedua orang tuaku rukun dan bahagia.


"Ya Ara...Ayah harap dengan kamu mendapat beasiswa kamu semakin rajin belajar agar kuliahmu bisa cepat selesai. yaa biasa lulus dalam waktu 4 tahun," Ayah menambahkan dan memberiku semangat.

__ADS_1


"Iya ayah...Ara akan berusaha lebih giat lagi. Ara gak mau mengecewakan ayah dan ibu. Ara ingin membahagiakan Ayah dan ibu," jawabku.


Keadaan ekonomi keluargaku terbilang pas-pasan. Kedua orang tuaku bekerja sebagai pegawai negeri di salah satu instansi pemerintah. Namun kami hidup bahagia .


Memang pernah ayahku tergoda oleh seorang wanita teman kerjanya di kantor, namun syukurlah sekarang semua sudah kembali normal, dan ayah tidak jadi menikah karena menyadari kekhilafannya.


Dengan aku mendapat beasiswa berarti aku dapat mengurangi beban hidup keluargaku. Aku bisa membantu membeli buku-buku kuliah dan tambahan untuk ongkos transportasi ke kampus.


Setelah selesai peluk-peluknya dengan ayah ibu, aku masuk ke kamar. Aku merebahkan tubuhku di tempat tidur. Sebelumnya aku mengambil bunga edelweis yang ada di atas meja. Aku menciumnya. Pikiranku melanglang ke seorang cowok yang memberikannya kepadaku.


"Konon ceritanya, bunga edelweis adalah lambang cinta sejati, tapi benarkah itu? Ahh.. mungkin Pram memberiku bunga ini karena menganggap aku tak lebih dari sekedar sahabat. Hmmm, "batinku. Aku mencoba menyadarkan diriku agar tidak berharap lebih pada Pram.


Aku bangun dari tidurku. Aku duduk di kursi belajarku dan mencoba menulis sesuatu di buku harianku. Aku menulis rasa bahagia dan rasa syukurku karena telah lolos mendapatkan beasiswa.


Aku berjanji untuk kuliah lebih baik lagi, lebih rajin lagi.

__ADS_1


__ADS_2