
Setengah jam kemudian kami sudah sampai di rumahku. Mama menyambut kepulangan ku. Kemudian aku memperkenalkan Bagus ke mama. Mama sepertinya tahu kalau aku ada hubungan dengan Bagus. Mama ramah banget ma Bagus.
"Ara, kamu buatin Bagus teh hangat dulu sana, supaya Bagus gak kedinginan dan masuk angin." Suruh mama.
Aku langsung ke dapur dan menyiapkan teh hangat untuk Bagus. Dari dapur aku memperhatikan mama lagi ngobrol ma Bagus, sepertinya asyik banget.
Kemudian aku keluar menyuguhkan teh hangat untuk Bagus.
"Teh nya Gus... Aku tinggal ke dalam bentar yaa, aku mau bawa baju-baju kotor ini ke dalam." Aku berlalu.
Bagus mengangguk dan melanjutkan ngobrol dengan mama.
Selang beberapa menit ibu masuk, dan menyuruhku keluar menemani Bagus.
Kulihat Bagus sedang meminum tehnya.
"Gus... bajumu basah, kamu sebaiknya segera pulang yaa, takutnya nanti kamu masuk angin."
Bagus tersenyum dan meminum lagi tehnya.
"Makasi yaa tehnya yaa Ar..Enak.. Ya deh aku pulang dulu yaa.." Bagus bersiap-siap pulang.
"Ara... Aku mencintaimu.." Bagus menatapku.
Aku membalas tatapannya. "Iya Gus, jangan sakiti aku yaa," pintaku.
Bagus menghidupkan motornya dan berlalu pergi meninggalkan rumahku.
Aku masuk ke kamar dan rebahan. Aku merasa kedinginan, kuambil selimut tebal di lemari, dan kupakai.
Saat aku rebahan, aku menghadap meja belajarku. Tiba-tiba mataku terhenti pada seikat bunga edelweis di meja belajar.
Bayangan Pram kembali muncul... Namun ada ras sesak di dadaku.."Hmm Pram tidak pernah mengirim surat padaku, gak ada kabar satupun dari Pram..Yaaa mungkin Pram sudah bertemu dengan seorang gadis pujaannya di sana..."
Aku berusaha menghapus bayangan Pram dari pikiranku. Bathinku," sekarang ada Bagus yang sangat mencintai dan menyayangiku.. Yang begitu perhatian kepadaku...Tiba-tiba ada perasaan indah bergelayut manja dalam anganku, ketika kuingat Bagus menggenggam tanganku. Dan ketika Bagus menyatakan perasaannya kepadaku."
Aku merasa bahagia sekali, seolah-olah Bagus adalah masa depanku, jodohku.
Tiba-tiba mama masuk ke kamarku dan duduk di pinggir tempat tidur.
__ADS_1
"Ara... Mama liat kamu punya hubungan spesial ma Bagus. Kamu pacaran yaa ma Bagus?"
Aku bangun dari tidurku. Aku gugup dengan pertanyaan mama. Aku harus jujur atau aku harus berbohong. Hmm...
Akhirnya aku memutuskan untuk terus terang pada mama.
"Iya mbk, masih sebatas teman dekat kok ma.", jawabku.
"Yaa mama sih gak masalah, yang penting kuliahmu jangan sampai berantakan. Karena sebentar lagi kamu harus menyusun skripsi. Dan itu butuh ketenangan dan keseriusanmu dalam belajar. Supaya apa yang kamu cita-citakan segera terwujud.
"Iya ma, doain aja ma supaya semua berjalan lancar.Ara akan berusaha untuk menyelesaikan skripsi sebaik mungkin supaya Ara bisa wisuda tahun depan." Aku semangat.
Mama tersenyum dan mengelus kepalaku. Kemudian mama memakaikan aku minyak kayu putih di bagian perut dan punggungku.
"Sekarang kamu istirahat dulu yaa sayang..." Mama beranjak meninggalkan kamar.
***
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Bagus datang ke rumah mau mengajakku ke pantai. Setelah Bagus minta ijin ke mama, aku dan Bagus pergi ke pantai.
Di sepanjang perjalanan Bagus selalu menggenggam tanganku yang kiri. Aku bahagia sekali. Aku merasa mulai benar-benar mencintai Bagus.
Sesampainya di Pantai, kita mencari tempat yang teduh di bawah pohon kelapa. Bagus membelikan aku minuman dan memberikannya kepadaku.
Bagus tersenyum. Sungguh setiap aku melihat mata Bagus, aku melihat begitu banyak cinta untukku, aku melihat ketulusannya menyayangiku. Aku terbuai...
Bagus mengajakku berenang di pantai, tapi aku menolak. Karena aku tidak bisa berenang, aku memilih duduk menunggu di bawah pohon sambil membaca novel.
Fari jauh aku memperhatikan, Ternyata Bagus memiliki banyak kelebihan fisik. Wajahnya ganteng, kulit sawo matang, hidung mancung, rambut ikal dan postur tubuhnya yang tinggi dan jangkung. Aku yakin banyak gadis di kampusnya yang menyukainya, seperti kata Dewi.
Aku menarik nafas dalam-dalam... Ada keraguan, "Benarkah Bagus mencintaiku? Apakah perasaannya hanya sesaat saja kepadaku?"
Bagus tiba-tiba sudah berada di depanku.
""Hai... Kamu kenapa Ar?? Dari tadi aku memanggilmu, tapi kamu gak menyahut. Kulihat lagi asyik baca .novel, tapi setelah kudekati eeee ternyata kamu lagi melamun. Ada apa Ar?"
Bagus duduk di depanku dan mengambil buku novelku. Bagus menatapku.
Aku menunduk kemudian menggeleng.
__ADS_1
" Kamu kenapa Ara?" Bagus mengangkat daguku.
Aku menatap mata Bagus. Kami saling bertatapan, tapi entah mengapa tiba-tiba aku ingin menangis. Aku ragu, aku takut kecewa pada akhirnya.
" Kenapa Ara, kok kamu mau nangis? Aku ada salah yaa ma kamu?" Bagus menatap lekat mataku.
"Gus... Kamu yakin dengan perasaanmu? "
Bagus tersenyum, kemudian mendekatkan wajahnya ke wajahku. "Ara... Aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku. Kamu jangan ragu yaa." Tiba-tiba Bagus mencium lembut keningku.
Getaran indah itu datang lagi, jantungku berdegup tak menentu.
"Aku sayang kamu Ar..," Bagus mencoba mencium bibirku.
Namun aku menolaknya, ku taruh 2 jariku di bibirnya. Aku berusaha mengontrol perasaanku.
"Aku juga mencintaimu Gus, tapi aku takut kehilangan kamu."
Aku menunduk.
"Ara, dengerin yaa... Jangan pernah dengar kata orang tentang aku. Memang banyak temen-temen cewek si kampusku yang suka sama aku tapi aku gak punya perasaan pada mereka. Aku serius sayang ma kamu Ar."
Bagus meyakinkan aku.
Aku menatap mata Bagus mencari kebenaran apa yang dikatakan barusan.
Bagus mendekatkan bibirnya lagi ke keningku, dan menggenggam jariku yang tadi menghalangi bibirnya. Bagus mendaratkan bibirnya di bibirku. Bagus mencium bibirku sekilas kemudian menatapku.
Aku merasakan getaran hebat dalam hatiku. Baru kali ini dicium laki-laki. Perasaan indah dan sebagainya berkecamuk dalam dadaku. Sepeti inikah rasanya dicium kekasih?? Ooh sungguh indah dan menenangkan.
Bagus akan menciumku lagi, namun aku menggeleng.
"Gus... Maaf, aku gak bisa terima ciumanmu lagi. Aku masih belum siap," kataku.
Bagus tersenyum... "Yaa gak apa-apa Ar...Aku sayang ma kamu Ar."
Kemudian kami ngobrol tentang macam-macam. Mengenai cita-cita kita, skripsi, kuliah, dosen dan lain-lain.
Aku bahagia karena Bagus bisa meyakinkan aku bahwa dia benar-benar mencintaiku.
__ADS_1
Tak berapa lama kami pulang, karena nanti sore aku dan Bagus harus balik lagi ke lokasi KKN.
***