
Aku berusaha mengatur nafasku yang tiba-tiba sesak. Aku manarik nafas dalam-dalam lalu kuhembuskan.
Aku memang tidak begitu mempedulikan diriku. Istriku yang sedang sakit lebih membutuhkan perhatianku.
Setelah nafasku mulai teratur, aku kembali melanjutkan perjalanan ku pulang. Sebelumnya aku mampir di warung yang sudah menjadi langgananku hampir 2 bulan ini.
Setelah semua lauk dan sayur yang aku pesan siap, aku melanjutkan perjalananku pulang.
Sampai rumah, Yusuf menyambutku. Dan seperti biasa Yusuf menyalamiku, dan aku megelus rambutnya. Dan ada keinginan kuat, aku ingin memeluknya.
"Pa... Papa kenapa sih... Kok tumben peluk Yusuf seperti ini?" Kata Yusuf yang masih dalam pelukanku.
Aku melepas pelukanku.
"Emang Papa gak boleh peluk kamu Nak? Papa pingin tahu aja, anak Papa sekarang sudah seberapa besar. Sekalian mau bandingin, besaran Papa atau kamu badannya?" Kataku sambil tertawa.
"Iiih Papa... Gak perlu dibandingin juga dah keliatan, badan Papa jauh lebih besar daripada Yusuf. Gimana sih..." Kata Yusuf sambil menggerakkan mulutnya.
"He he ... Papa becanda Nak...Papa cuma mau bilang, Papa sayang ma Yusuf." Kataku kemudian mencium rambutnya.
"Iya Pa..."
"Kak Sabila sudah pulang Nak? Papa jarang ngobrol ma Kak Sabila." Kataku sambil menaruh makanan yang sudah ku beli dalam wadah. Dan Yusuf membantuku.
" Sudah Pa... Kak Sabila di dalam temenin ibu." Kata Yusuf.
__ADS_1
" Ooh gitu... Papa liat ibumu dulu yaa..." Aku kemudian mencari istriku ke kamarnya.
Aku melihat istriku lagi tiduran dan Sabila di dekatnya sedang memijat kaki ibunya.
" Bu,.. Gimana keadaan ibu? " Aku menghampiri istriku dan duduk di dekat tempat tidurnya.
"Kok Papa gak cium ibu?" Kata istriku sedih.
"Ooh maaf Bu... Papa belum mandi. Bau. Lagian tu diliat ma Sabila. " Kataku sambil tertawa dan melirik Sabila.
"Hmmm... Ya udah... Aku keluar dulu dah kalo gitu. "Sabila beranjak pergi sambil memanyunkan mulutnya.
"Eeeh kok malah pergi? Diam di sini dulu Sabila, temenin ibumu dulu.. Papa mau mandi dulu Nak." Kataku.
"Bu... Papa mandi dulu yaa..." Kataku dan mencium kening istriku bergantian setelah itu mencium kepala Sabila anakku.
Istriku mengangguk.
"Oh iyaa Nak... Nanti tolong ambilkan ibumu makan malamnya di dapur yaa... Papa tadi pulang dari kantor langsung beli lauk dan sayur Nak."
Kemudian aku pergi mandi.
Saat aku mengguyur badanku dengan air, tiba-tiba aku langsung merasa badanku seperti ditusuk-tusuk. Aku kedinginan. Aku langsung mempercepat mandi ku.
Selesai mandi, aku merasa badanku menggigil. Aku langsung mencari jaketku.
__ADS_1
"Yusuf, bisa minta tolong ambilkan Papa air hangat Nak."Kataku sambil duduk di sofa dekat TV.
Yusuf bergegas mengambilkan aku air hangat.
"Pa... Ini air hangatnya..." Kata Yusuf menyodorkan segelas air hangat kepadaku.
Aku langsung meminumnya.
"Nak.... Nanti tolong siapkan makan malam untuk ibumu yaa Nak... Papa mau tidur bentar. Badan Papa lagi gak enak ni." Kataku sambil memejamkan mataku.
"Iya Pa..."
Aku kemudian mencoba memejamkan mataku. Aku merasa badanku agak meriang. Nafasku agak sesak.
Aku menarik nafas dalam-dalam. Aku berusaha mengatur nafasku.
Aku mengambil sisa obat yang diberikan dokter beberapa hari lalu. Aku meminumnya, dan aku merasa agak naikan. Nafasku terasa lega...
"Pa... Papa kenapa?" Kata Yusuf mendekatiku.
"Papa gak tahu ni Nak... Tiba-tiba aja badan Papa meriang. Dan tadi pas Papa mandi, Papa merasa badan Papa seperti ditusuk-tusuk. Tapi Papa yakin sebentar baikan. Papa tidur dulu yaa Nak. Nanti makan malamnya jangan tunggu Papa yaa.."
"Iya Pa...."
" Papa istirahat dulu yaa..." Kataku dan mencoba tidur.
__ADS_1