
Pipin sudah gak menangis lagi.
"Pram, kamu gak masuk kuliah?" tanya Pipin.
" Pram, maafin aku yaa, sekali lagi aku minta maaf padamu. Aku buat kamu ribut ma Armando, dan sekarang kamu jadi gak masuk kuliah." Pipin memandangku.
"Gak apa-apa Pin, " jawabku sambil menghela nafas panjang.
"Tapi kamu sendiri kok gak kuliah?" kutatap mata Pipin yang masih sembab.
"Aku ingin temenin kamu Pram, " Pipin balik menatapku.
"Pram, kita cari bakso yuk. Aku tadi buru-buru jadi gak sempat sarapan." Pipin mengajakku.
Aku mengangguk. Kebetulan tadi aku juga buru-buru jadi gak sempat sarapan.
Akhirnya kami pergi mencari angkringan bakso yang ada di dekat kampus. Karena aku ada kuliah lagi nanti. Jadi aku bolos kuliah pertama dan kedua, itu rencanaku.
Pipin mengajakku duduk di pojok angkringan. Pipin memesan 2 mangkok bakso dan 2 jeruk hangat. Pipin sudah tahu kesukaanku.
__ADS_1
Gak lama pesanan kami datang. Kami menyantapnya dengan nikmat, karena memang perut lagi keroncongan.
Saat aku lagi menikmati baksoku, Pipin tiba-tiba menyodorkan pentol baksonya padaku.
" Aaak... coba cicip pentolku Pram, enak banget lho," kata Pipin sambil menyuapi aku pentol bakso yang ada di sendok garpunya.
Aku refleks membuka mulutku dan memakan pentol bakso yang disodorkan Pipin.
Tak sengaja mata kita bertemu. Dan ada getar-getar aneh yang memenuhi hatiku. Aku menatap lekat mata Pipin, aku menemukan ketulusan di matanya. Pipin menatapku penuh harap. Aku bisa merasakan ketulusan di mata Pipin.
Selang beberapa detik, aku langsung memalingkan pandangan mataku. Lalu aku menghela nafas, dan melanjutkan makan bakso yang ada di depanku. Aku mengontrol perasaan hatiku yang gak karuan.
"Pram, aku... aku.. ," Pipin tidak melanjutkan kata-katanya dan kemudian tertunduk.
Seketika aktivitas makan bakso kuhentikan. Aku mencoba memberanikan diri untuk bertanya pada Pipin.
'Pin, apakah benar kata-katamu tadi di kampus. Apa kamu benar-benar mencintaiku?" tanyaku.
Pipin mengangguk dan tetap tertunduk.
__ADS_1
Aku mengangkat dagunya dan menatap matanya. Dan Pipin pun membalas tatapanku.
"Aku mencintaimu Pin... cuma apa benar kamu mencintaiku padahal aku ini laki-laki biasa yang gak punya apa-apa, dan aku takut gak bisa membahagiakan mu. Aku gak mau kamu kecewa dengan kekurangan-kekuranganku. Aku tahu kamu anak dari kalangan orang berada, sementara aku? Aku bukan siapa-siapa, aku berasal dari keluarga pas-pasan"
Pipin langsung menyentuh tanganku. "Pram, aku mencintaimu apa adanya. Sejak pertama kali aku bertemu dan melihatmu aku sudah jatuh hati padamu. Aku bahagia di dekatmu, aku merasa nyaman di dekatmu.'
Kami saling menatap dan refleks tanganku menggenggam tangan Pipin.
Aku sangat mencintaimu Pram, aku serius." Pipin meyakinkanku seolah Pipin tahu keragu-raguanku.
"Makasi Pin... makasi atas cinta dan ketulusanmu mau menerimaku apa adanya." Aku menggenggam erat tangan Pipin.
Aku gak tahu apakah keputusanku yang tiba-tiba ini tepat untukku atau tidak. karena di saat bersamaan bayangan Ara muncul. Aku melepas genggaman tanganku dan menghela nafas.
"Pin, aku harus balik ke kampus karena ntar jam ketiga dan keempat aku ada kuliah," kataku saat teringat aku ada kuliah lagi.
Pipin mengangguk dan bersiap-siap balik ke kampus.
Saat tiba di kampus, aku bergegas akan menuju ruang kuliah, namun Ipin menghentikan langkahku.
__ADS_1
"Pram, aku tunggu kamu selesai kuliah yaa... Aku tunggu di bawah pohon itu yaa.., " kata Pipin sambil menunjuk kursi taman di bawah pohon halaman kampus.
Aku mengangguk dan melanjutkan langkahku.