Cintaku Gak Salah

Cintaku Gak Salah
Ara kagum pada Pipin


__ADS_3

Aku menoleh ke arah Sabila yang sepertinya sedang memperhatikanku. Aku tersenyum dan Sabila tersenyum.


Kami makan dengan lahapnya, apalagi Arjun yang memang sangat suka masakan berbumbu.


"Makasi banyak mbk, anak-anak ma suamiku suka sekali makan masakan mbak. Semua sampai nambah." Kataku saat aku membantu mbak Pipin di dapur membersihkan piring-piring. Mbak Pipin sebenarnya melarangku, namun kukatakan " Aku pingin deket mbakku, kan aku gak lama di sini." Akhirnya Mbak Pipin mengijinkanku.


"Syukurlah... Aku seneng lho Ar. Aku tadi takut kalau-kalau nanti kamu ma keluargamu gak suka masakanku. Tapi Pram bilang, sudah enak kok. Jadi aku gak terlalu khawatir."


" Oh ya?"


"Iyaa Ar... Pram itu jago masak lho, kalau dia kata enak berarti memang enak. Dan kalau memang gak enak, dia gak mau nyeneng-nyenengin hati bilang enak. " Kata mbak Pipin sambil tersenyum. Tampak mbak Pipin sangat mencintai Pram.


Aku tersenyum. Ada rasa bersalah dalam hatiku, karena aku sudah menyakiti perasaanya. Aku tak kuasa, air mataku akan jatuh.


Pipin melihatku.


"Lho kamu kenapa Dek? Aku ada salah ngomong kah?"


" Gak ada mbak .. Mbak begitu baik, maafin aku, Mbak...."Aku menunduk.


Pipin langsung memelukku. Aku akhirnya menangis dan memeluk Pipin erat-erat. Aku tak mampu berkata-kata.


"Sudah jangan ingat itu lagi. Mbak sudah maafin, dan mbak sudah tidak pernah mengingatnya. Mbak sayang ma kamu Ar ...Mbak sayang ma kamu seperti adik mbak sendiri."


Tiba-tiba Sabila masuk ke dapur dan melihat kami yang sedang berpelukan. Aku langsung melepas pelukanku dan menghapus air mataku.


" Maaf...",Kata Sabila sambil menunduk dan hendak pergi.


" Nak, tolong bawakan camilan ini ke depan ya..." Pipin memberi Sabila camilan yang ada di lemari dapur ke Sabila.

__ADS_1


"Iyaa Bu." Sabila kembali ke teras.


" Dek, berapa hari di sini?" Tanya Pipin.


" Rencana 3 hari mbak. Oh iyaa besok kami akan pergi ke wisata hutan X. Ikut yaa mbak, ajak anak-anak juga biar rame " Kataku.


" Ooh je Hutan itu to.... Kayaknya mbak gak bisa ikut soalnya mbak kalau bepergian jauh suka pusing. Maaf yaa... Nanti mbak tanyain anak-anak mau ikut atau gak."


" Kalau begitu mbak harus check lagi, priksa lagi ke dokter supaya bener-bener sembuh."


" Sudah dek, cuma memang sembuhnya itu berangsung-angsur gak bisa cepet. Yaa mbak nikmati aja nikmat yang dikasi Tuhan ini Dek. Mbak jalani aja." Kata Pipin dan tersenyum.


Aku tersenyum dan mengangguk. Aku kagum pada Pipin.


" Kita sudah selesai, sekarang kita ke teras yuk." Ajak Pipin. Aku mengangguk.


Sementara suamiku ngobrol dengan Pram. Aku bahagia melihat keakraban ini. Sangat bahagia, akhirnya keluargaku dan keluarga Pram bisa seakrab dan sehangat ini. Kami sudah seperti saudara.


Aku dan Pipin duduk di dekat suami kami masing-masing.


" Lama banget di dapur...." Kata Pram dan tersenyum.


" Iyaa Pa... Maklum Pa, perempuan kalau dah ngobrol selalu lama keasyikan." Kata Pipin dan tertawa.


Pram manggut-manggut.


" Oh iyaa... Besok aku mengajak anak-anak ke wisata hutan X, kalian ikut yuk." Kata Suamiku.


" Iyaa tadi Ara juga sudah nawarin tapi aku bilang gak bisa, karena aku kalau bepergian jauh masih sering pusing " Kata Pipin.

__ADS_1


" Ooh gitu yaa yaaa.... Kalau kamu Pak Pram, ayo ikut yuk ajak anak-anak."


" Maaf aku juga seperti gak bisa ikut karena ada kerjaan yang harus dikirim besok. Ntar aku tanya anak-anak siapa yang mau ikut." Kata Pram.


"Baik..." Kata suamiku.


" Yusuf, Rafma, Sabila....kalian bisa ikut besok temenin Om Muhlas ma tante Ara jalan-jalan ke wisata hutan X? " Tanya Pram


Anak-anak Pram menoleh.


" Adek pingin ikut Pa, boleh soalnya adek gak pernah ke sana." Aku mengangguk.


"Sabila mau ikut juga? " Tanyaku.


"Sabila gak bisa ikut Pa, karena ada tugas yang harus segera diberesin."


" Oh iyaa nak...." Pram tersenyum


" Yusuf mau ikut juga Pa... Boleh yaa..."


Aku mengangguk dan tersenyum.


" Pak Muhlas, maaf cuma Rahma dan Yusuf ne yang bisa ikut nemenin." Kata Pram.


"Iyaa gak apa-apa... Besok kita perginya jam 8 yaa Nak..."Kata suamiku menoleh ke Rahma dan Yusuf.


Yusuf dan Rahma mengangguk.


Kemudian kami lanjut lagi ngobrol-ngobrol tentang usaha kami masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2